by

Wayang Suket Purbalingga Jadi Warisan Budaya Tak Benda

-Budaya, Update-dibaca 10.40Rb kali | Dibagikan 30 Kali

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia (Kemdikbud RI) menetapkan Wayang Suket menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Tingkat Nasional Tahun 2020.

Penetapan itu dilakukan oleh Tim Ahli WBTB Kemdikbud RI secara virtual, Jumat (9 Oktober 2020). Hal itu menjadi kebanggaan bagi Kabupaten Purbalingga dan Badriyanto selaku pewarisnya.

“Prosesnya sejak 2019 lalu. Ada persyaratan yang harus dipenuhi sehingga kami tidak asal memilih. Syaratnya antara lain, minimal berusia 50 tahun, sudah ada regenerasi minimal dua regenerasi dan yang pasti harus sudah menjadi ciri khas Purbalingga,” kata Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, Rien Anggraeni kepada media siber lintas24.com, Sabtu (10 Oktober 2020)

Ia menambahkan, sebenarnya pihaknya mengajukan tiga jenis WBTB. Selain wayang suket, juga nopia dan soto kriyik. Setelah melalui penilaian di tingkat nasional dua bulan lalu, hanya wayang suket yang berhasil lolos. Sedangkan

“Nopia dan soto kriyik belum lolos karena oleh tim penilai masih ada kekurangan terkait dengan makna dan budayanya,” ungkapnya.

Badriyanto mengaku bersyukur atas penetapan wayang suket sebagai WBTB Tahun 2020 oleh pemerintah. Setelah ini tantangan baginya adalah terus melestarikan keberadaan wayang ini.

Oleh karena itu, dalam waktu dekat, dia akan membangun sanggar di kompleks rumahnya. Hal karena wayang suket bukan lagi milik keluarga Mbah Gepuk, namun sudah milik masyarakat Purbalingga dan Indonesia.

“Insyaallah, program di sanggar itu terutama pada pelestarian wayang dan pengembangan atau budi daya bahan baku rumput kasuran untuk pelatihan,” kataya.

Wayang Suket yang sudah digeluti Badriyanto sejak sekira 20-an tahun lalu hingga kini masih banyak mengalami kendala. Selain regenerasi perajin yang hanya tinggal satu-satunya, persoalan bahan baku suket Kasuran yang katanya hanya tumbuh saat musim kemarau juga berpengaruh terhadap produktifitas kerajinan Wayang Suket ini.

Keterampilan menganyam wayang suket ini didapat dari kakeknya Kesang Wikrama atau lebih dikenal dengan Mbah Gepuk yang semasa hidupnya tinggal di Desa Bantarbarang Kecamatan Rembang, menyulap rumput kasuran menjadi berbagai bentuk tokoh wayang.

Bahkan pada tahun 1995, Mbah Gepuk berhasil mengadakan pameran tunggal di Bentara Budaya Yogyakarta. Sepeninggalnya Mbah Gepuk pada tahun 2002, keahliannya tidak “mati”.

Ini karena, Mbah Gepuh sudah punya penerus, yakni Badrianto. Berkat ilmu yang didapat dari Mbah Gepuk, akhirnya dirinya mahir menyulap rumput jadi wayang. Dikatakan Badrianto, dia sudah belajar menganyam dari kakeknya sejak kelas 2 Madrasah Tsanawiyah.

Untuk menghasilkan satu buah wayang suket juga membutuhkan waktu yang tidak cepat. Untuk wayang suket ukuran besar minimal 4 sampai 5 hari. Dan untuk ukuran kecil antara 3 – 4 hari. Memang waktunya lama karena harus detail dan bergantung rumit tidaknya motif wayang yang akan dibuat,” jelasnya.

Harga dari wayang suket ini sepadan dengan kualitas, kerapihan dan keawetanya. Harga satu wayang suket ukuran kecil dipatok mulai Rp 400.000 dan yang besar mencapai Rp 800.000.

 

 

Comment

Berita Lainnya