Warga Tri Dharma Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga Gelar Festival Kue Bulan

By: On: Dibaca: 33,437x
Warga Tri Dharma Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga Gelar Festival Kue Bulan

Perayaan perayaan Tiong Ciu Pia 2570 atau yang sering dikenal dengan nama Festival Kue Bulan diselenggarakan Warga Tri Dharma di Tempat Ibadah Tri Dharma (TITD) Klenteng Hok Tek Bio, PurbaIingga, Jumat (13 September 2019) malam.

Ketua Pengurus Klenteng Hok Tek Bio Purbalingga Lim Ngan Min atau Amin mengatakan, Perayaan Tiong Ciu Pia dikenal dengan nama Festival Kue Bulan selalu di rayakan pada tanggal 15 bulan 8 menurut perhitungan kalender Imlek. Pada tahun 2019 ini, Tiong Ciu Pia jatuh pada hari Jumat ini.

“Perayaan ini adalah salah satu ajang untuk kumpul keluarga serta berdoa bersama pada Tuhan Yang Kuasa, sambil menikmati kue bulan dan makanan di bawah sinar bulan purnama,” tuturnya kepada cyber media lintas24.com.

Lim Ngan Min menjelaskan, untuk memperkokoh kerukunan antar umat beragama,  masyarakat sekitar kita undang untuk hadir.

“Perwakilan tokoh lintas agama juga kita undang sebagai wujud kerukunan dan toleransi antar umat beragama di Kabupaten Purbalingga,” tuturnya.

Sekretaris Panitia, Adrian Miming mengatakan, Tiong Jiu Pia (Kue Bulan) merupakan makanan tradisional Tionghoa yang menjadi sajian wajib pada perayaan Festival Musim Gugur setiap tahunnya. Di Indonesia, kue bulan biasanya dikenal dalam dialek Hokkien-nya, gwee pia atau tiong chiu pia.

“Kue bulan tradisional pada dasarnya berbentuk bulat, melambangkan kebulatan dan keutuhan. Namun seiring perkembangan zaman, bentuk-bentuk lainnya muncul menambah variasi dalam komersialisasi kue bulan.

Jenis yang lain ada yang berisi empat kuning telur (melambangkan empat fase bulan). Disamping pasta biji teratai, bahan isian lain yang sering dijumpai adalah pasta kacang merah dan kacang hitam. Ada juga kreasi lain yang eksotis, yaitu kue bulan berisi pasta teh hijau dan kue bulan berkulit salju (ping pei), salah satu variasi dari Asia Tenggara yang dibuat dari tepung beras ketan.

“Kue bulan bermula dari penganan sesajian pada persembahan dan penghormatan pada leluhur di musim gugur, yang biasanya merupakan masa panen yang dianggap penting dalam kebudayaan Tionghoa yang berbasis agrikultural,” tuturnya.

Beberapa legenda mengemukakan bahwa kue bulan berasal dari Dinasti Ming, yang dikaitkan dengan pemberontakan heroik Zhu Yuanzhang memimpin para petani Han melawan pemerintah Mongol. Namun sebenarnya, kue bulan telah ada tercatat dalam sejarah paling awal pada zaman Dinasti Song. Dari sini, kue bulan dipastikan telah populer dan eksis jauh sebelum Dinasti Ming berdiri.

Festival Kue Bulan adalah tradisi masyarakat Tionghoa yang dirayakan setiap tanggal limabelas bulan kedelapan Imlek. Festival ini juga dikenal sebagai Festival Pertengahan Musim Gugur. Masyarakat Tionghoa merayakaan “zhong qiu jie” ketika bulan berada pada puncak kecerahannya disepanjang tahun. Menurut legenda, Dewi Bulan yang tinggal di istana kaca, keluar untuk menari dibawah bayang – bayang bulan. Kisahnya berawal ketika pada suatu masa ada sepuluh matahari bersinar bersamaan diatas langit. Kaisar meminta seorang pemanah terkenal untuk menembak sembilan diantaranya.

Ketika tugas itu berhasil dilaksanakan, Dewi Surga Barat menghadiahkan sebutir obat hidup abadi pada sang pemanah. Istri sang pemanah menemukan obat itu tanpa sengaja dan meminumnya. Karenanya ia lalu diasingkan ke bulan. Menurut legenda, kecantikan istri sang pemanah mencapai puncaknya pada hari perayaan kue bulan.

 

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!