by

Warga Minta Tempat Ngetem Taksi Dipindah

-Daerah-dibaca 104.16Rb kali | Dibagikan 22 Kali

taxi2

 

Pengendara kendaraan bermotor yang melintasi Jalan Jenderal Sudirman Timur Purbalingga mengeluhkan keberadaan taksi Kopajar yang ngetem (parkir menunggu penumpang-red).

Pasalnya, keberadaan taksi yang ngetem disebelah utara Lembaga Pemasyarakatan mengganggu pengendara yang melintas baik dari arah timur yang akan berbelok kearah selatan ataupun dari hari utara yang akan berbelok ketimur.

Seperti yang diungkapkan Indah Puspita Dewi pengendara mobil dari arah timur kepada lintas24.com Kamis (23 Juni 2016). Dikatakan Indah, seyogyanya taksi-taksi itu tidak berhenti dengan posisi parkir menyerong, lebih baik dibuat berjajar atau berurutan.

“Biasanya nih, jam-jam sore seperti ini saya dari arah timur akan berbelok ke kiri arah selatan menuju  SMP Negeri 1 Purbalingga, saya pasti akan mengambil posisi agak menepi agar tidak menginjak marka jalan yang tidak terputus. Dulu belok ke kiri lancar-lancar saja, sekarang gimana gitu, semrawut dan pasti melewati marka jalan,”ungkapnya dengan nada kesal.

Indah menambahkan, jika kendaraan dari dua arus yang berlawanan bertemu di titik ngetem taksi sudah dapat dipastikan akan terjadi benturan, bila kedua pengemudi tidak mau mengalah. Padahal, sama-sama melanggar dengan menginjak garis marka jalan.

“Pemicunya yaitu tadi, taksi-taksi yang ngetem di kanan dan kiri bahu jalan,”ungkapnya.

Hal senada diungkapkan, Syarifudin Iksan. Ia juga mengaku, sekarang jalur  Jalan Jenderal Sudirman ketimur setelah melewati alun-alun menjadi semrawut. Parkir miring yang dilakukan oleh taksi-taksi dinilai kerap menghambat lalu lintas

“Harusnya Dinhubkominfo atau Satlantas Purbalingga mengevaluasi keberadan taksi-taksi yang ngetem itu. Harus dipindah, dan carikan tempat yang strategis dan tidak mengganggu kepentingan bersama. Coba bayangkan, kalau taksi parkirnya miring, keluarnya sampai menutupi separuh jalan, karena memakan separuh jalan sedangkan kalau parkir paralel, taksi-taksi akan lebih mudah keluar, benar tidak?,” pintanya.

Sesuai pasal 43 UU LLAJ No 22 tahun 2009, cecara umum dikatakan bahwa fasilitas parkir di dalam ruang milik jalan hanya dapat diselenggarakan di tempat tertentu pada jalan kabupaten, jalan desa, atau jalan kota yang harus dinyatakan dengan rambu lalu lintas, dan/atau marka jalan.

Ada beberapa tempat yang melarang mobil parkir di pinggir jalan, untuk jalan nasional dan jalan provinsi, yakni pada jarak 6 m sebelum dan sesudah hydrant,  parkir dalam jarak 25 m dari persimpangan, pada jarak 6 m sebelum dan sesudah zebra cross, pada jarak 50 m dari jembatan dan pada jarak 100 m dari perlintasan sebidang.(yoga tri cahyono)

Comment

Berita Lainnya