by

Wakil Rakyat Minta Pembukaan Kegiatan di Sekolah Tak Serentak

-Pendidikan, Update-dibaca 3.19Rb kali | Dibagikan 66 Kali

Pembukaan tahun ajaran baru harus dibedakan setiap wilayah. Hanya sekolah di zona hijau bisa beraktivitas kembali. Prioritas utama adalah keselamatan siswa dan guru, kurikulum tidak masalah dinomorduakan. Kendati sekolah dibuka kembali, kegiatan belajar mengajar diharapkan mengkombinasikan tatap muka dan virtual. Agar meminimalisir kontak langsung dan mengoptimalkan sarana dan prasarana yang ada.

“Tenaga pendidik menjadi pihak yang aktif memantau keadaan para murid baik kesehatan jasmani maupun rohani. Serta diharapkan mensosialisasikan gerakan hidup sehat kepada siswa dan orangtua,” ungkap Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudian dalam keterangan yang diterima yang diterima cyber media lintas24.com, Sabtu (30 Mei 2020).

Jikalau memang sekolah ingin dibuka lanjutnya, harus dipastikan memang hanya untuk daerah yang berada dalam zona hijau sebagaimana yang telah ditetapkan oleh Gugus Tugas Penanganan Covid-19. Kemendikbud harus terus menggencarkan program peningkatan kapasitas guru, kepala sekolah, dan orangtua agar hal ini dapat berjalan efektif.

Politikus Golkar ini mengingatkan, pembukaan sekolah harus dibarengi penerapan standar yang baru. Hetifah mengatakan, sarana dan prasarana sanitasi perlu diperbaiki hingga ruang kelas diterapkan protokol kesehatan seperti menjaga jarak.

“Untuk sekolah yang belum dapat memenuhi standar-standar diatas, lebih baik untuk tidak dipaksakan dibuka dahulu,” kata dia.

Lebih lanjut, Hetifah meminta Kemendikbud mencontoh pembukaan kegiatan belajar dari negara lain. Seperti di Australia yang memberlakukan murid hanya masuk seminggu sekali.

“Hal ini hanya agar guru dapat mengevaluasi keberjalanan pembelajaran daring yang telah dilakukan seminggu kebelakang, dan memberikan arahan untuk seminggu ke depan. Pertemuan antar-murid sangat diminimalisir,” ucapnya.

 

Comment

Berita Lainnya