by

Video Asusila Mirip Artis Kalah Ramai dengan Debat Sisik Naga di Purbalingga

-Daerah, Update-dibaca 7.18Rb kali | Dibagikan 36 Kali

Isu video mesum mirip artis kalah ramai dengan debat terbuka soal hutan dan lingkungan di Purbalingga Senin malam (09 November 2020). Hal itu dipicu oleh postingan admin grup media sosial facebook Suara Perwira Purbalingga (SUPER) yang mempertanyakan peran pegiat alam dan sebuah kegiatan yang dilaksanakan baru-baru ini.

Baca Juga : Gaduh Video Asusila Diduga Mirip Artis Cantik Gisel. Polri Diminta Usut Penyebarannya

Acara debat tersebut dipicu oleh postingan admin grup SUPER, yakni Riza Ardiana, Sabtu (7 November 2020). Dalam postingannya dia menyampaikan kalimat : ‘Para aktivis sing here peduli lingkungan Nang kota kiye: Percuma kau eskpedisi ke gunung, ketemu dragone? Jika perusakan lingkungan di sekitarmu, sing nang ngarep mata mata tidak kau pedulikan. Percuma!. Postingan itu mendapatkan tanggapan 262 like dan 486 komentar pro dan kontra.

Akhirnya, Ketua Ekspedisi Sisik Naga, Gunanto Eko Saputro menantang Riza Ardiana untuk debat terbuka mengklarifikasi kegiatan Ekspedisi Sisik Naga dan berbagai kegiatan dan aksi nyata pegiat alam di Purbalingga.

Baca Juga : Road to Ekspedisi Sisik Naga Purbalingga. Menjaga Hutan, Melestarikan Sungai

Baca Juga : Ekspedisi Sisik Naga PPA GASDA Bakal Menguak Misteri Hutan Purbalingga

Gayung bersambut, debat terbuka akhirnya diselenggarakan melalui aplikasi zoom dan disiarkan di akun instagram Purbalinggaku dan grup SUPER di facebook dengan moderator Muhammad Kholik atau yang biasa dipanggil Kang Pherlee. Debat tersebut cukup menyedot perhatian publik Purbalingga.

“Saya menantang debat terbuka untuk menjelaskan pro kontra terkait Ekspedisi Sisik Naga dan peran pegiat alam dalam aksi nyata menyikapi berbagai isu lingkungan,” kata Gunanto.

Baca Juga : AGUS SUKOCO – Nasionalisme Sabdo Palon Noyogenggong

Perdebatan pun berlangsung cukup sengit dengan penjelasan dari sudut pandang masing-masing. Debat melebar tidak hanya soal hutan tetapi juga menyikapi isu sampah, limbah juga galian C di Purbalingga.

“Saya mengapresiasi kegiatan rekan-rekan pegiat alam. Namun alangkah baiknya jika juga menyikapi persoalan lingkungan yang ada di depan mata kita,” ujar Riza Ardiana yang saat ini tinggal di Jakarta.

Riza menyebutkan postingannya di media sosial adalah salah satu bentuk kontribusinya bagi Purbalingga dengan mengkritisi berbagai macam isu, termasuk lingkungan. “Sekarang ini era teknologi, artinya tidak harus kehadiran secara fisik untuk bisa memberikan sumbangsih bagi Purbalingga,” katanya.

Pada simpulan dari Debat Terbuka tersebut, Kang Pherlee menyampaikan bahwa berbagai macam isu lingkungan yang ada di Purbalingga harus menjadi perhatian bersama. Saat ini, pegiat alam di Purbalingga sudah banyak bergerak menyikapi berbagai persoalan namun ke depan perlu aksi nyata yang lebih komprehensif serta melibatkan berbagai pihak.

“Setidaknya debat ini membuka mata kita tentang berbagai persoalan lingkungan yang ada di Purbalingga. Persoalan ini tidak bisa hanya diselesaikan dengan berkoar-koar di medsos tetapi juga harus dengan aksi nyata, turun ke lapangan,” katanya.

Kemudian, debat tersebut juga menjadi ajang publikasi bahwa ada sebuah ekspedisi yang digagas para pegiat alam untuk mengungkap kekayaan hutan di Purbalingga.

Terkait dengan Ekspedisi Sisik Naga, Gunanto menjelaskan hal itu merupakan kegiatan Perhimpunan Pegiat Alam (PPA) Gasda bekerjasama dengan komunitas pecinta alam Purbalingga yang bertujuan untuk mengungkap kekayaan alam hutan Purbalingga.

“Kami mendata dan mendokumentasikan kekayaan kawasan hutan alam yang masih dimiliki Purbalingga dari aspek biologi, sosial-ekonomi-budaya dan geologinya,” ujar Gunanto.

Menurutnya, ekpedisi tersebut merupakan salah satu upaya untuk menjaga kelestarian kawasan hutan alam Purbalingga yang masih tersisa. Area tersebut ada di wilayah yang disebut dengan Zona Serayu Utara yang saat ini dibawah pengelolaan Perum Perhutani, KPH Banyumas Timur.

Wilayah tersebut membentang di utara Purbalingga dari Kecamatan Rembang, Karangmoncol, Karanganyar, Karangjambu sampai Karangreja yang berbatasan dengan Banjarnegara, Pekalongan dan Pemalang. Topografinya berbukit-bukit dan jika dilihat melalui google earth tampak seperti sisik-sisik naga.

”Oleh karena itu, kami menyematkan sebagai kawasan ‘Perbukitan Sisik Naga’ dan kegiatan ini dinamakan Ekspedisi Sisik Naga,” kata Gunanto.

Hasil ekspedisi menyimpulkan bahwa kekanekaragaman hayati di hutan yang ada di kawasan Perbukitan Sisik Naga tersebut masih sangat baik. Ia menyebutkan perbukitan Purbalingga masih ditemukan beberapa fauna yang ditemukan bahkan ada yang dilindungi, diantaranya adalah, Elang Jawa (Nizaetus bartelsii), Owa Jawa (Hylobates moloch), Rangkong Julang Emas (Rhyticeros undulatus), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), bahkan Macan Tutul (Panthera pardus).

“Kekayaan alam hutan kita luar biasa dan ini adalah benteng hutan alam terakhir yang dimiliki oleh Bumi Perwira,” ujarnya.

Kawasan hutan tersebut juga setidaknya menjadi hulu dari 19 sungai yang mengalir di Purbalingga. “Artinya kelestarian hutan di Pegunungan Sisik Naga akan mempengaruhi kualitas sungai dan berdampak kepada hajat hidup orang banyak,” katanya.

Namun, kawasan hutan tersebut terus menerus mendapatkan ancaman dan tekanan terhadap kelestariannya. Misalnya, penebangan liar, alih fungsi lahan, perambahan hutan, perburuan satwa liar dan persoalan lainnya.

“Oleh karena itu, diperlukan upaya advokasi dan pelestarian agar kawasan hutan tersebut tetap terjaga Sebagai dasarnya, diperlukan data-data yang komprehensif tentang kawasan hutan tersebut sehingga kami mengadakan ekpedisi ini,” katanya.

Ekpedisi Sisik Naga dilakukan dengan serangkaian pembekalan dan diskusi-diskusi tentang konservasi. Kemudian, wawancara untuk menggali persoalan sosial-ekonomi dan budaya di 22 desa yang berbatsan langsung dengan hutan serta turun lapang langsung ke hutan alam Purbalingga.

Comment

Berita Lainnya