by

Wasis Abadi, S.Pd – Ketua KKG Penjasorkes Purbalingga,

-Uncategorized-87 views

Penanganan Khusus Untuk Temukan Bakat Olahraga

wasis

Pendidikan jasmani pada hakikatnya merupakan proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik fisik, mental, serta emosional.

Pendidikan jasmani merupakan bagian integral dari sistem pendidikan secara keseluruhan. Oleh karena itu, pelaksanaan pendidikan jasmani harus diarahkan pada pencapaian tujuan pendidikan tersebut.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Kelompok Kerja Guru (KKG) Pendidikan Jasmani,

Olahraga dan Kesehatan (Penjasorkes) Wasis Abadi, S.Pd. Dikatakan lebih lanjut, pendidikan jasmani mengandung banyak elemen, diantaranya dari bermain maupun dari olahraga, tetapi tidak berarti hanya salah satu saja, atau tidak juga harus selalu seimbang di antara keduanya.

“Pendidikan Jasmani bersifat fisik dalam aktivitasnya dan dilaksanakan untuk mendidik,”ungkapnya Guru Penjasorkes SD Negeri 2 Mewek kepada elemen (19/1).

Aspek yang membedakan antara pendidikan jasmani dengan olahraga lanjut Wasis diantaranya, isi pembelajaran dalam pendidikan jasmani disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak didik, sedangkan pada olahraga isi pembelajaran atau isi latihan merupakan target yang harus dipenuhi.

“Orientasi pembelajaran pada pendidikan jasmani berpusat pada anak didik. Artinya anak didik yang belum mampu mencapai tujuan pada waktunya diberi kesempatan lagi, sedangkan pada olahraga atlet yang tidak dapat mencapai tujuan sesuai dengan target waktu dianggap tidak berbakat dan harus diganti dengan atlet lain,”ungkapnya.

Nah, ruang lingkup penjasorkes di SD diantaranya meliputi permainan dan olahraga, aktivitas ritmik, uji diri (senam), pengembangan, air (akuatik), aktivitas di luar kelas (outdoor activity) dan pendidikan kesehatan.

Tujuan pembelajaran pendidikan jasmani adalah mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih.

“Sifat kegiatan penjasorkes pada pemanduan bakat yang dipakai untuk mengetahui kemampuan awal (entry behavior), sedangkan pada olahraga bertujuan untuk memilih atlet berbakat dan targetnya prestasi,”ungkapnya.

Pembinaan prestasi dalam olahraga

Wasis menjelaskan, kesalahan dalam melakukan proses pembibitan akan menyebabkan terjadi tidak menentunya prestasi atau regenerasi tidak kontinyu, bahkan bisa mengakibatkan kegagalan dalam proses pembinaan prestasi olahraga.

“Sebagai akibatnya, anak didik akan mengalami kesulitan dalam upaya meraih prestasi secara optimal,”ungkapnya

Dasar dari sistem pengembangan bakat ini lanjut wasis, proses latihan jangka panjang, sistematis dan berorientasi kepada sasaran. Bakat menampakan dirinya hanya dalam aktivitas praktis. Inilah sebabnya model struktur dari peningkatan bakat harus diatur sedemikian rupa sehingga ada interaksi yang erat antara penilaian latihan dan bakat/ ketangkasan.

“Perlunya penanganan khusus untuk menemukan bakat seorang anak kalau tidak mau dikatakan “nemu” (kebetulan-red),”jelasnya.

Wasis yang menjabat Ketua KKG Penjasorkes dua periode menambahkan, pada dasarnya pembinaan prestasi olahraga memiliki tahapan latihan jangka panjang yakni, tahap I gerak dasar usia 7 – 11 tahun, tahap II multi sport (11- 13 Tahun), tahap III pengembangan olahraga (13 – 15 Tahun), tahap IV spesialisasi (16–19) dan tahap V prestasi tinggi (20 – 28 Tahun).

“Untuk anak didik di SD, merupakan tahap gerak dasar dan multi sport. Materi yang diberikan keterampilan dasar- motor learning – kesempatan bergerak, menghaluskan dan menyempurnakan literatur fisik. Kalau keterampilan dasar tidak diberikan pada tahap ini, mungkin anak tidak pernah menemukan bakat olahraganya,”tegasnya.

Identifikasi bakat

Guru Penjasorkes harus mampu melihat bakat anak didiknya. Pasalnya, tujuan pemanduan bakat adalah untuk mengikutsertakan sebanyak mungkin anak-anak dalam proses pemanduan (screening). Kemungkinan untuk menemukan suatu bakat akan meningkat bila lebih banyak anak-anak diikutkan dalam proses pemilihan. Penting untuk membuat tuntutan minimum daripada menentukan tujuan/ sasaran prestasi diatas rata-rata.

Apa artinya lanjut Wasis, guru harus mau melakukan model pengidentifikasian bakat yang terdiri dari 10 butir tes yang bertujuan membantu anak (usia 11-15 tahun), untuk menemukan potensi anak dalam berolahraga yang disesuaikan dengan karakteristik dan potensi anak. Kesepuluh butir tes adalah tinggi badan, tinggi duduk, berat badan, rentang lengan, lempar tangkap bola tenis, lempar bola basket, loncat tegak, lari kelincahan  lari cepat 40 meter, dan lari multitahap

“Seyogyanya, para guru harus mau melakukan pengidentifikasian bakat dengan metode Sport Search,”ungkapnya.

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *