by

SMP Negeri 4 Purbalingga Penyandang Predikat Sekolah Adiwiyata

-Uncategorized-94 views

 

Hutan Sekolah, Hijau Menyegarkan

????????????????????????????????????

Memasuki lingkungan SMP Negeri 4 Purbalingga akan menghirup udara yang segar. Pohon-pohon rindang dan hijau tumbuh subur di sekeliling sekolah yang berada di Jalan Raya Penambongan Purbalingga ini.

Menilik lebih dalam lagi, akan dijumpai kebun dengan memanfaatkan sisi-sisi lingkungan sekolah yang tidak termanfaatkan, menjadi bermanfaat. Tak ada sejengkal tanahpun yang tidak bermanfaat, disetiap lahan kosong ditanami tanaman langka untuk dilestarikan serta menanam obat keluarga (toga), sayuran dan buah-buahan  dan membuat green house di lingkungan sekolah.

Disetiap sudut sekolah dan didepan kelas terdapat tempat sampah dengan pemilah antara sampah organic dan anorganik. Melanjutkan ke bagian belakang terdapat sarana pengolahan sampah (komposter), bank sampah yang bertujuan manfaatkan sampah menjadi barang-barang yang berguna.

Terlihat juga sarana cuci tangan beserta kelengkapannya, kamar mandi dan water closet (wc) guru dan karyawan, serta siswa yang tertata rapi bersih.

Yah, SMP Negeri 4 Purbalingga merupakan salah satu sekolah dengan predikat adiwiyata sejak 2014. Selain itu, sejak tahun itu pula, sekolah ini juga menyandang predikat sekolah sehat.

Dan tahun ini berhasil menyandang predikat Sekolah Adiwiyata tingkat Nasional 2015. Predikat Sekolah Adiwiyata diraih bersama-sama dengan SMP Negeri 2 Bobotsari, SMA Negeri Kejobong, dan SD Negeri 1 Babakan Kalimah.

Kepala Sekolah, Septiningsih,S.Pd.,M.Pd mengungkapkan, intinya adiwiyata adalah membiasakan pola budaya dan  sebagai wahana tempat untuk berbudaya positif. Sebagai contoh dengan melestarikan jenis tanaman-tanaman yang sudah langka, dan limbah-limbah sampah yang sudah tidak dimanfaatkan kami daur ulang dengan program 3R yaitu reuse, reduce, dan recycle.Selain melanggengkan dan  melestarikan lingkungan hidup yang berkesinambungan serta meningkatkan budaya partispasi warga sekolah juga digalakan hidup bersih melalui lomba antar kelas, baik lomba majalah dinding bertema adiwiyata, lomba kebersihan kelas, lomba memanfaatkan limbah menjadi barang yang bisa digunakan, lomba membuat pot dari barang bekas.

“Kita semua harus mau dan mampu berbudaya hidup sehat. Sebagai contoh, tidak ada lagi siswa bahkan guru yang membuang sampah disembarang tempat. Karena sudah tersedia sarana prasarana yang memadai dan memenuhi syarat, baik kriteria maupun jumlah,”ungkap Septi.

Dalam mewujudkannya, sekolah telah membangun rumah kompos yang bertujuan untuk pemanfaatan sampah organik di lingkungan sekolah. Pembuatan pupuk kompos itu berawal dari keprihatinan dengan banyak sampah organik di lingkungan sekolah.

“Banyak pepohonan dilingkungan sekolah, daun-daun kering yang jatuh diolah menjadi pupuk organik,”ujarnya.

Dia menyebutkan, siswa mengolah sampah organik dan membuatnya sebagai pupuk organik di bawah bimbingan guru atau disebut direktur kompos. “Di bawah bimbingan direktur kompos, para siswa mengolah pupuk kompos yang dimasukkan ke dalam kegiatan ekstrakurikuler,” paparnya.

Diharapkan juga kelak para siswa dapat menyerap ilmu yang diberikan dalam mengolah sampah dan menularkan kepada teman-teman di sekolah dan orang lain di luar lingkungan sekolah.

Direktur Kompos SMP 4 Purbalingga Sugirman menyebutkan, pembuatan pupuk kompos di dalam rumah kompos berukuran luas 3 x 4 meter. Sampah organik diolah menjadi pupuk kompos dengan mesin pencacah sampah daunan (composter) serta peralatan penunjang kerja lain bantuan Badan Lingkungan Hidup (BLH) Purbalingga. “Produk pupuk kompos Smepa itu untuk memupuk tanaman di lingkungan sekolah. Masyarakat yang membutuhkan, pupuk ini sudah dijual bebas Rp 4.000 per kantong dengan berat dua kilogram,”ungkapnya. (Mahendra yudhi krisnha)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *