by

Shinta Nuriyah Wahid Sahur di Purbalingga

-Uncategorized-55 views

_MG_3243

 

Shinta Nuriyah istri Presiden ke 4 Republik Indonesia, Abdurahman Wahid hadir dalam kegiatan Sahur Keliling  Bersama Shinta Abdurahman Wahid di Masjid Al-Huda Desa Toyareka Kecamatan Kemangkon Senin (13 Juni 2016). Ikut hadir dalam acara itu, Bupati Purbalingga Tasdi, Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, pimpinan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) Kabupaten Purbalingga warga lintas etnis dan agama.

“Karena negara kita negara yang bhineka,  yang  terdiri dari berbagai agama, ada Islam, Kristen, Khatolik, Hindi, Budha dan Khonghucu serta  Bahai. Ada suku Sunda, Madura, Bugis, Padang, dan lainnya, oleh karena perbedaan itu saya menyelenggarakan sahur bersama,”ungkapnya didepan ratusan tamu undangan.

Shinta menambahkan, bahwa mereka yang berbeda merupakan saudara, sehingga melalui bulan suci ramadhan, dirinya mengajak untuk meramaikan puasa dengan sahur bersama. Dengan kegiatan tersebut, diharapkan akan ada rasa saling membantu, menghormati serta mengulurkan tangan dari saudara-sauadara yang berbeda agar para pemeluk Islam menjalankan puasa dengan sebaik-baiknya.

“Oleh karena itu, saya sering bersahur bersama-sama di halaman gereja, kelenteng dan tempat lainnya, saya juga bersahur dimana saja , bahkan dibawah rintik hujan bersama pengamen dan  bersama tukang becak,”jelasnya.

Shinta menuturkan, bahwa kegiatan yang sudah dilakukan sebanyak 16 kali setiap bulan ramadhan dengan menemui kaum dhuafa yang termarginalkan, untuk sahur bersama.

Sahur bersama kaum dhuafa atau termarginalkan mengajak para pedagang di pasar, tukang becak, penderes, pemulung, pengamen serta profesi lainnya. Dengan sahur bersama, selain untuk silaturahmi dan mengingatkan saudara-sauadar yang beragama Islam atau masyarakat yang termarginalkan, juga untuk mengingatkan hakekat puasa yang sebenarnya.

“Pelajaran yang didapat dari puasa puasa adalah sabar, belas kasihan terhadap  sesama serta keikhlasan,”ujarnya.

Bupati Purbalingga Tasdi mengatakan, bahwa, kehidupan, kebersamaan serta toleransi antar umat beragama di Purbalingga masih berjalan denga baik. Oleh karenanya, Purbalingga yang membuat visi Purbalingga yang mandiri berdaya saing menuju masyarakat yang sejahtera  dan akhlakul kharimah. Sedangkan salah satu visinya adalah mendorong masyarakat Purbalingga yang religius beriman dan bertaqwa serta mengembangkan rasa kebangsaan untuk membangun rasa toleransi antar inter umat beragama sebagi modal dasar pembangunan di Kabupaten Purbalingga.

“Kehadiran Ibu Shinta juga untuk menambah semangat dalam rangka kedepan bagaimana meningkatkan  kehidupan antar inter umat beragama supaya lebih kondusif lagi dalam rangka berkontribusi menegakan NKRI Bhineka Tungal  Ika dan Pancasila,”katanya. (ali mas’udi)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *