by

Septi, Eko, Nurudin, dan Wargianto, Anggota KPPS Pemilu 2019 Berbagi Cerita – Pelaksanaan Pemilu 2019, Rumit dan Melelahkan Tapi “Mengasyikan”.

-Uncategorized-40 views

Pemilihan Umum 2019 merupakan pemilu serentak yang menggabungkan antara pemilihan Presiden dan Wakil Presiden dan pemilihan anggota DPR, DPD, DPRD Provinsi dan DPRD Kabupaten/Kota. Model semacam ini belum pernah dilakukan pada pemilu-pemilu sebelumnya.

Septiningsih, Anggota Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) yang bertugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 11 Desa Sinduraja Kecamatan Kaligondang menilai, Pemilu 2019 memiliki tingkat kerumitan tersendiri. Salah satunya karena pemilih harus mencoblos lima kertas suara dalam satu waktu. Lima kertas suara itu untuk pemilihan presiden dan wakil presiden, DPR RI, DPRD provinsi, DPRD kabupaten kota, serta DPD.

“Mengapa saya katakan rumit, karena waktu pencoblosan ditambah lamanya waktu penghitungan suara, bisa memakan waktu hingga pagi hari. Artinya, mulai dari tanggal 17 sampai dengan 18 April,” ungkap Septi yang telah berpartisipasi menjadi anggota KPPS sejak tahun 1999.

Namun Septi meyakini, pelaksanaan Pemilu 2019 saat ini seharusnya bisa menjadi pelajaran yang sangat baik bagi tumbuh kembang demokrasi di Indonesia di kemudian hari. Karena, Pemilu 2019 yang dilaksanakan secara serentak telah mampu meningkatkan partisipasi pemilih

“Pemilu 2019 menurut Saya sudah cukup baik dan sangat “mengasyikan”. Tangan terasa pegal sampai sekarang masih belum sembuh. Menulis surat pemberitahuan dan salinan C1 berlembar-lembar, karena lima kali penghitungan suara coblosan. Dan salinan C1 hologram ini tidak boleh salah dalam penulisannya. Asyik deh, lelah adalah mata dan kepala,”ungkapnya saat dihubungi cyber media lintas24.com, Jumat (26 April 2019)

Hal senada diungkapkan Eko Fajar Iman dan Nurudin Anggota KPPS yang bertugas di TPS 07 dan TPS 12 Kelurahan Kalikabong Kecamatan Kalimanah. Eko dan Nurudin menganggap Pemilu kali ini memang lebih rumit, lebih kompleks, lebih massal, dibandingkan pemilu yang lalu.

“Tidak berlebihan jika mengatakan KPPS adalah ujung tombak penyelenggaraan di tingkat bawah. TPS sebagai tempat pemungutan dan penghitungan suara tingkat pertama harus dipastikan penyelenggaraannya tidak bermasalah. Jika ada permasalahan, tentu akan berdampak pada rekap di tingkat selanjutnya,”ungkapnya.

Anggota KPPS lainnya, Wargianto mengungkapkan, pada pemilu tahun ini, anggota KPPS, saksi partai, aparat keamanan dan yang terlibat dalam pesta demokrasi, bisa sangat terkuras tenaga dan pemikirannya.

“Proses pemungutan suara yang dilakukan serentak pada Pemilu 2019 sangat menguras tenaga, namun tetap harus dijalankan secara optimal karena sudah ditetapkan dalam Undang-Undang,”ungkap Wargianto yang bertugas di TPS 04 Kelurahan Purbalingga Wetan Kecamatan Purbalingga.

Wargianto menilai, faktor sumber daya manusia (SDM) yang sudah berpengalaman melaksanakan tugas di KPPS pada pemilu sebelumnya harus dilibatkan. Pasalnya, pekerjaan di tingkat TPS sudah berlangsung tiga hari sebelum pemungutan suara hingga satu hari setelah pemungutan suara.

“Pekerjaan ini tidak hanya menuntut kecepatan tetapi juga ketepatan penghitungan suara. Saya sendiri drop dan terbaring sakit, setelah melaksanakan tugas sebagai anggota KPPS,”ungkapnya

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *