by

Hari Ini, Panitia FGS Gelar “Perang” Tomat Modifikasi Tradisi “Perang” Cambuk di Desa Serang

-Uncategorized-54 views

Perang Tomat

 

Panitia Festival Gunung Slamer (FGS) 2015 hari ini Jumat (5/6) bakal menggelar “perang” tomat dan stroberi. Hal tersebut diungkapkan oleh Ketua panitia FGC Tri Daya Kartika disela-sela Prosesi pengambilan air dari Tuk Si Kopyah yang mengawali kegiatan FGS 2015 yang baru pertama kali diselenggarakan di Desa Serang, Kamis (4/6).

Dikatakan,  “perang” tomat dan stroberi merupakan acara modifikasi berdasarkan cerita para sesepuh mengenai tradisi perang cambuk antara warga Dusun Kaliurip dan Dusun Gunungmalang.

“Perang cambuk itu ditujukan untuk menimbulkan ‘kanuragan’, kesaktian, dan kehebatan seseorang,” katanya kepada Lintas24.com.

Menurut dia, perang cambuk itu diadaptasi dengan “perang” tomat dan stroberi yang merupakan produksi andalan warga Serang maupun Kutabawa.

Kendati demikian, dia mengatakan bahwa tomat dan stroberi yang akan digunakan untuk “perang” bukanlah buah segar melainkan hasil afkiran.

“Tomat dan stroberi yang tidak laku dijual karena busuk atau sudah afkir, banyak yang dibiarkan begitu saja maupun dipendam. Buah-buah yang seperti itu kita beli untuk digunakan saat ‘perang’ tomat dan stroberi,” katanya.

Salah seorang pengunjung festival, Dewi Susilowati warga Pemalang sengaja untuk menginap bersama keluarga besarnya di Desa Serang untuk melihat rangkaian acara FGS.

“Luar biasa, event ini menarik sekali. Walaupun baru pertama digelar, festival ini bias dijadikan event tahunan untuk Purbalingga,”katanya.

Dewi menambahkan, anak-anak ingin melihat “perang” tomat yang mungkin baru pertama di lihat secara langsung.

“Kalau di televisi, mereka sudah pernah lihat. Kini anak-anak saya akan melihat serunya “perang” tomat secara langsung,”ungkap Dewi.

Sementara itu, Kepala Desa Serang Sugito mengharapkan kegiatan FGS dapat menjadi agenda tahunan sebagai upaya meningkatkan kunjungan wisatawan.

Bahkan, kata dia, masyarakat sangat antusias untuk berpartisipasi agar penyelenggaraan FGS 2015 lebih meriah, salah satunya dengan memasang lampion pada Rabu (3/6) malam.

“Acara ini sangat bermanfaat karena bisa mengundang wisatawan berdatangan ke Desa Serang dan ‘multiplier effect’-nya banyak sekali bagi warga, khususnya petani yang mengembangkan kebun stroberi,” katanya.

Selain dikenal sebagai kawasan agrowisata, kata dia, Desa Serang yang berada di lereng timur Gunung Slamet pada ketinggian 1.200 meter di atas permukaan laut juga memiliki berbagai keindahan alam yang dapat dinikmati wisatawan dan telah dilengkapi dengan wahana permainan anak termasuk lokasi untuk menyaksikan matahari terbit di Bukit Kelir.

Menurut dia, di Desa Serang saat ini telah terdapat 68 “homestay” dan setiap unit menyediakan dua-tiga kamar yang bisa disewa oleh wisatawan.

“Dengan adanya kegiatan FGS, tingkat huniannya melonjak sekitar 100 persen dari hari-hari biasa. Sementara untuk jumlah kunjungan wisatawan pada hari-hari biasa rata-rata 500 orang dan saat hari libur bisa mencapai 1.500 orang,” katanya.

Ia mengharapkan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Desa Serang selama penyelenggaraan FGS 2015 yang akan digelar hingga tanggal 6 Juni dapat mencapai 5.000 orang.

Kendati demikian, dia mengharapkan kegiatan FGS dapat digelar setiap bulan Muharam atau Sura karena prosesi pengambilan air dari Tuk Si Kopyah selalu dilaksanakan pada bulan itu.

“Dengan demikian, masyarakat tidak perlu dua kali menggelar prosesi pengambilan air. Itu juga demi kesakralan prosesi,” katanya.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *