by

Pelaku UMKM Harus Gaul

-Uncategorized-95 views

 

 

Kasi Pembinaan dan Pengembangan UMKM

Dinperindagkop Purbalingga, Adi Purwanto, S.Si.,M.Si

????????????????????????????????????

 

Bekal pergaulan, pengalaman, pendidikan dan keterbukaan harus dimiliki pengusaha muda/ pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM) untuk menjadi motor kreativitas yang tidak terbatas.

Kepala Seksi Pembinaan dan Pengembangan UMKM Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Dinperindagkop) Purbalingga, Adi Purwanto, S.Si.,M.Si mengungkapkan, Orientasinya adalah mencari solusi dan kebersamaan. Dan membuat  strategi pemecahan masalah  secara sinergis.

“Pengusaha muda dan pelaku UMKM harus gaul dulu, agar pemirikan yang kreatif dapat berkembang,”ungkap Adi kepada elemen dan lintas24.com (30/3).

Adi Purwanto menyarankan, sebelum memilih jenis usaha, alangkah lebih baik jika kita mengenali potensi diri kita sendiri. Apa yang minati/ senangi ? Ketrampilan apa yang kita punya terhadap apa yang kita minati ? Asset-asset apa yang kita miliki untuk mendukung usaha tersebut ?

Asset-asset ini tidak harus berupa dana dan properti, melainkan pengalaman, ketrampilan, dan ilmu pengetahuan yang telah menjadi investasi selama sekolah dan bekerja.

Setelah di pahami benar potensi yang ada dalam diri kita, barulah kita mulai melihat potensi lingkungan yang ada di luar kita yang sesuai dengan minat kita. Apakah sumber daya alam yang ada di sekitar kita mendukung ? Atau apakah kita harus mendatangkannya dari luar daerah ? Semua harus dipertimbangkan dengan masak-masak.

“Barulah mulai tangkap peluang pasar yang ada, dan disesuaikan dengan kamampuan yang telah kita miliki,”ungkap Adi.

Adi menegaskan, kekayaan alam, budaya, dan manusia Indonesia dapat menghasilkan potensi besar ketika digabungkan dengan kreativitas sehingga dapat memberikan sumbangsih tidak hanya terhadap perekonomian nasional, tetapi juga dalam penguatan citra dan identitas bangsa.

“Industri kreatif tidak hanya menghasilkan produk-produk dari seni budaya, tetapi juga mulai menghasilkan produk-produk yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Pengembangan sumber daya terbarukan dan inovasi,”papar Adi.

Adi menceritakan, berdasarkan pengalaman “pergaulan” di lapangan,

pertanyaan yang paling sering diluncurkan oleh beberapa teman yang “belum” memiliki usaha adalah apakah peluang usaha yang paling ramai saat ini.

“Lantas, ketika saya balik bertanya, misalnya saya memberitahu Anda, apakah Anda akan membuka usaha yang sama ?,”ungkap Adi.

Adi merangkumnya, hasilnya adalah ada fenomena sebuah kecenderungan dari teman-teman yang akan memulai bisnis, mereka tidak punya ide bisnis sendiri melainkan ingin meniru ide orang lain. Dan selanjutnya ketika bisnis dijalankan dan banyak pesaing, harusnya hal tersebut sangat wajar adanya karena memang dia meniru orang lain, tetapi kenyataannya mereka kebingungan sendiri.

“Saya selalu sarankan untuk menbangun ide, kalau bisa yang original dan memiliki differensiasi yang tinggi dari ide-ide orang lain,”ungkap Adi.

Artinya, bisnis yang akan kita jalankan tidak akan terlalu banyak pesaing. Syukur jika produk atau usaha itu unik karena potensi grografis yang kita jadikan strength point dalam membangun bisnis kita. Atau dengan kata lain sumber daya alam yang kita jadikan bahan baku hanya ada di daerah kita, apalagi ditambah skill produksi yang menjadi andalan kita.

Konsep Bisnis Ekonomi Kreatif

Selama ini ekonomi kreatif terus berkembang seiring perkembangan teknologi informasi yang melahirkan wujud kreativitas baru dalam bentuk industri kreatif berdasarkan budaya lokal dan ilmu pengetahuan.

Adi mengakui, ekonomi kreatif tidak hanya mengenai penciptaan nilai tambah secara ekonomi, tetapi juga penciptaan nilai tambah secara sosial, budaya, dan lingkungan.

“Industri kreatif yang merupakan subsistem dari ekonomi kreatif menjadi penggerak dalam menciptakan nilai-nilai tersebut,”ungkap Adi.

Diharapkan terwujud satu interaksi dan kolaborasi “aktor” utama penggerak ekonomi kreatif yang dilandasi dengan fondasi yang kuat, ditopang oleh pilar-pilar yang kokoh, serta dipayungi oleh kelembagaan yang mendukung pengembangan ekonomi kreatif ini akan menghasilkan kelembagaan ekonomi kreatif yang kuat berdasarkan karakteristik dan jati diri bangsa Indonesia.

“UMKM merupakan salah satu penopang perekonomian Nasional Indonesia.  UMKM lah yang tahan banting menghadapi krisis yang pernah melanda perekonomian Indonesia,”ungkapnya.

Apa saja yang yang menjadi bagian dari ekonomi kreatif lanjut Adi, Industri kreatif di Indonesia kemudian didefinisikan sebagai industri yang berasal dari pemanfaatan kreativitas, keterampilan, serta bakat individu untuk menciptakan kesejahteraan serta lapangan pekerjaan melalui penciptaan dan pemanfaatan daya kreasi dan daya cipta individu tersebut.

Dari definisi tersebut, pemerintah kemudian membagi industri kreatif ke dalam 14 subsektor diantaranya kerajinan, fashion dan seni pertunjukan.

Dalam konsultasi bisnis UMKM di Purbalingga, selalu mencoba membedah dan mereview bisnis plan dari pelaku UMKM sebelum kami mencoba memberikan solusi atas permasalahn yang mereka hadapi. Dengan adanya konsep bisnis dan bisnis plan yang detail dan jelas.

“Setidaknya awalan profesionalisme sudah mulai dibangun oleh UMKM,”ungkap Adi.

Nah ini, lanjut Adi, mengapa harus ada konsep usaha, sangat diperlukan? Sebenarnya tujuan dibuatnya konsep usaha adalah membuat rencana dan rute yang akan kita kerjakan sesuai dengan tujuan usaha yang akan kita capai.

“Konsep usaha ini ditulis agar mudah dipahami oleh kita sendiri maupun oleh calon mitra yang tertarik bekerjasama dengan kitam”ungkap Adi.

Menciptakan Purbalingga Kota Kreatif

Kota kreatif didefinisikan sebagai kota yang berbasiskan kreativitas sebagai cara hidup dalam tiga aspek utama yakni  ekonomi (creative economy), sosial (creative society), dan pemerintahan (creative policy).

Dengan kelembagaan yang efektif, setiap Pemerintah Kabupaten/ Kota akan mudah menerapkan kebijakan pembangunan kota kreatif berbasis inovasi dengan penguatan lembaga pendidikan, memfasilitasi wirausaha pemula, penyediaan akses pembiayaan dan ketersedian infrastruktur, serta regulasi yang mendukung.

Sebenarnya banyak keinginan untuk menemukan serta membangun citra Purbalingga sebagai Kota Kreatif. Kepemilikan produk asli perlu diluncurkan agar tercipta atmosfir usaha yang cerdas.

“Makanan Manco, hanya ada di Purbalingga. Kenapa tidak kita jadikan pencitraan kota kreatif  “Purbalingga kota manco”. Kalau keripik tempe mungkin sudah banyak yang membuat dan bahkan sudah mendunia,” ungkap Adi.

Untuk pemasaran, produk industri kreatif akan berkembang bila ditopang oleh pasar dalam negeri. Dalam hal ini, penting untuk produsen memperkuat posisinya di dalam negeri kendati kiprahnya di luar negeri juga terus meningkat.

“Konsumen Purbalingga juga perlu memberikan dukungan dengan kecintaannya terhadap produk Purbalingga. Ini akan menyokong kemampuan pelaku industri kreatif menjadi tuan di kampong sendiri,” ujarnya.

Berdasarkan data lanjut Adi Purwanto, ekspor industri kreatif sudah cukup kuat, terutama di subsektor tertentu, seperti fashion dan kerajinan. Namun, pelaku industri kreatif diharapkan tidak terpaku pada keberhasilan memperkuat ekspor, namun di sisi lain pasar dalam negeri justru dimasuki oleh produk industri kreatif impor.

Sebenarnya ekonomi kreatif merupakan sektor yang berpeluang paling menjanjikan terhadap perekonomian nasional dan meningkatkan nilai tambah ekspor produk Indonesia di pasar global.

“Terobosannya adalah dengan bersatunya UMKM Purbalingga yang cerdas, saya yakin sedikit demi sedikit masalah akan terurai dan pada akhirnya akan mensejahterakan secara berkelanjutan.  Sulit memang, namun hal itu pasti bisa kita wujudkan,”ungkap Adi

Menurut Adi, pelaku industri kreatif Purbalingga harus menjadi tuan di negeri sendiri dan terus mengembangkan pangsa pasar ekspor. Apalagi kreativitas berbasis kekayaan budaya juga didukung oleh kemajuan teknologi. Kekayaan budaya yang beragam dan bervariasi merupakan sumber inspirasi dan potensinya makin besar bila didukung teknologi.

“Ide hanya tinggal ide bila tidak diikuti dengan ketekunan dan keberanian untuk mengubahnya menjadi produk yang bisa dijual dan bernilai tambah,” pungkas Adi.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *