Jelang Pilkada Kabupaten Malang 2020, PCNU-PWNU Bentuk Tim Lajnah Siyasah untuk Pilkada

Uncategorized76 views

Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Malang bersama Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur membentuk tim Lajnah Siyasah. Tim akan bertugas untuk mengatur ritme gerakan politik kebangsaan yang diusung Nahdlatul Ulama (NU), jelang Pilkada Kabupaten Malang 2020

“Tugas dari tim Lajnah Siyasah yang terdiri dari lima orang itu, bertugas untuk berkoordinasi dengan para kiai NU, pengurus PWNU Jatim.Tim Lajnah Siyasah itu diisi oleh pengurus Cabang, PWNU dan kiai sepuh di Kabupaten Malang,” kata Ketua PWNU Jatim, KH Marzuki Mustamar saat rapat koordinasi (Rakor) PCNU Bersama PWNU Jawa Timur,  di Ponpes Sabilurrasyad, Gasek, Kota Malang.

Kiai Marzuki menegaskan, NU sangat berkepentingan dalam hal Imamah atau pemimpin. Karena itu bagian dari program NU. Jika ada yang membahayakan NU dan tidak menguntungkan NU, Kiai Marzuki meminta untuk tidak diusung oleh NU.

“Di Kabupaten Malang punya Bupati kader NU dan saat ini banyak kader NU yang layak jadi pemimpin daerah. Mending memiliki satu bupati kader NU dari pada punya mubaligh atau penceramah seribu. Karena Bupati yang menentukan kebijakan dalam hal pemerintahan.,” katanya.

Pasalnya, jika satu Bupati dari NU akan luar biasa dan apapun yang diinginkan bisa tercapai. Cetak mubaligh di kursi Bupati sangat penting. Karena yang akan menentukan kebijakan dengan DPRD. Karena di Kabupaten Malang jelasnya, sudah banyak kader NU yang terpilih menjadi anggota DPRD Kabupaten Malang.

“NU akan menang jika hingga pengurus Ranting bisa diajak baris alias kompak dan solid. Harus satu komando. Jika begitu akan menang. Jika tidak utuh (satu barisan) akan wassalam,” terangnya.

Sejelek-jeleknya kader NU beber Kiai Marzuki, masih bisa diingatkan dan masih akan manut (ikut) kepada arahan kiai NU. “Tapi jika kader atau orang wahabi, jelas akan susah diingatkan oleh kiai NU. Hal ini jangan sampai itu ada di Kabupaten Malang,” pinta Kiai Marzuki.

Kiai Marzuki juga membeberkan kriteria kader yang layak diusung menjadi calon Bupati Malang. Menurutnya, sosoknya memiliki pengetahuan dan pengalaman menjadi memimpin.

“Tidak hanya bisa wiritan dan shalawatan. Sosok yang begitu tidak usah nyalon Bupati. Cukup ngurusi pondok saja. Harus kader NU. Jika bukan kader NU, khawatir main mata dengan lainnya yang merugikan NU,” tegasnya.

NU harus mencari calon yang banyak memiliki jaringan. Selain itu, juga yang banyak mendapatkan dukungan dari warga nahdliyin. “Hal itu harus menjadi pertimbangan. Harus cari sosok yang paling memungkinkan untuk bisa menang,” katanya.

Kiai Marzuki ingin ada ijma’ ulama. Hal itu harus diikuti oleh kader NU hingga tingkat ranting dan Nahdliyin. “Selain itu, modal juga penting. Karena dibawah sudah banyak yang pragmatis. Makanya, penting punya modal. Jika ada calon yang dzalim dan berbahaya, tidak masalah pakai duit, demi melawan kedzaliman,” tegasnya.

Terakhir, Kiai Marzuki juga menginginkan calon yang nantinya diusung NU, harus dibaiat. “Harus disumpah. Demi Allah. Harus disumpah dengan mantap dan sepenuh hati. Harus disumpah di depan para kiai. Biar tidak ada subhat. Dan harus siap ikut kiai. Dan untuk menentukan sosok yang terbaik pilihan NU, para kiai sepuh diharapkan untuk istikharah, meminta petunjuk dari Allah.

“Apakah akan mengusung calon sendiri, atau akan koalisi dengan partai selain PKB. Begitu juga jika harus wakil. Siapa tahu nanti bisa jadi Bupati. Harus diistikharahi dulu para calon yang akan diusung NU,” tuturnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *