by

Jelang Lanjutan Sidang PK Ba’asyir. TPM: Jangan Dikait-kaitkan, Ustadz Sudah Dipenjara

-Uncategorized-55 views

????????????????????????????????????

CILACAP – Dalam setiap aksi teror bom yang dilakukan para teroris, nama Abu Bakar Ba’asyir selalu mencuat dan dikaitkan dengan aksi tersebut. Sehingga muncul dugaan para pelaku terorisme membenci ustadz sepuh itu, dan Ba’asyir berada di balik teror-teror tersebut.

Demikian dikatakan Ketua Dewan Pembina Tim Pembela Muslim (TPM) Mahendradatta kepada wartawan, Senin (18/1), usai berkoordinasi dengan pihak Pengadilan Negeri (PN) Cilacap terkait sidang lanjutan terhadap peninjauan kembali yang diajukan Abu Bakar Ba’asyir.

“Setiap (aksi teror) itu muncul, langsung dibikinkan kegiatan. Kelompok teroris membenci Ustadz Abu Bakar Ba’asyir karena setiap kali terpidana kasus terorisme itu melakukan upaya hukum, selalu ada aksi teror,” katanya.

Ditambahkan, pihaknya sebelum sidang peninjauan kembali sudah wanti-wanti kepada semua pendukung Ustadz Abu untuk tidak melakukan tindakan anarkis, apalagi terorisme. “Itu sudah kami minta karena Ustadz Abu mau fokus terhadap perjuangan hukum.”

Menurut dia, persidangan yang aman dan tertib akan mendukung perjuangan hukum berupa peninjauan kembali yang diajukan Ba’asyir.

“Ini kok seakan-akan ada yang membuat aksi teror. Jadi, saya berkesimpulan kemungkinan besar selama ini pelaku-pelaku terorisme benci sekali sama ustadz, atau dalang terorisme itu sebetulnya benci sama Ustadz Abu Bakar Ba’asyir, sebab setiap dia muncul langsung dibikinkan kegiatan. Ini kan merugikan,” tandasnya, didampingi Achmad Michdan yang juga Wakil Ketua Dewan Pembina TPM.

Dia menegaskan bahwa Abu Bakar Ba’asyir mungkin polos tetapi tidak bodoh, sehingga akan menjaga kelakuan dan tindakannya selama melakukan perjuangan hukum.

“Kita tahu kalau sedang berjuang melawan hukum, kelakuan dan tindakan dijaga, harusnya begitu. Ini malah dibikinin kegiatan, seperti aksi teror di kawasan Sarinah. Ini berarti terorisnya benci bener sama Ustadz Abu,” ujarnya, seraya mebeberkan bahwa sejak awal pihaknya sudah menduga, setiap kali Ba’asyir melakukan upaya hukum selalu dibuatkan sebuah kegiatan atau muncul aksi teror.

Dia mencontohkan, saat pihaknya mengajukan praperadilan untuk Ba’asyir, muncul kejadian di Kedutaan Besar Australia, dan sewaktu Ba’asyir sidang di Kemayoran, terjadi bom JW Marriott.

“Bahkan saking polosnya, pada saat itu Ustadz Ba’asyir mengatakan, ‘Marriott itu apa?’. Karena kejadian tersebut langsung dipertanyakan dan dikait-kaitkan,” katanya.

Mahendradatta yakin bahwa saat itu Ba’asyir tidak tahu apa sebenarnya JW Marriott hingga akhirnya diberitahu jika Marriott merupakan sebuah hotel.

Dia juga mengaku, sebelum mendatangi PN Cilacap, dia bersama anggota Dewan Penasihat TPM yang juga tim penasihat hukum Ba’asyir mengunjungi terpidana kasus terorisme itu di Lapas Kelas I Batu, Nusakambangan untuk membicarakan masalah sidang lanjutan PK yang akan digelar pada 26 Januari 2016 mendatang.

“Saya bersama anggota TPM yang lain menyaksikan sendiri, mengalami sendiri, bahkan melihat sendiri bahwa ustadz itu dalam keadaan terpidana. Artinya, beliau itu berada di dalam SMS, Super Maximum Security, yang tidak demikian mudah untuk bertemu orang, tidak demikian mudah untuk melakukan kegiatan apa-apa,” katanya.

Namun, saat ini, katanya, banyak berseliweran kata-kata yang mengatasnamakan Ustadz Abu Bakar Ba’asyir yang dikatakan ikut salah satu organisasi, menjadi pembina, dan sebagainya.

Disinggung mengenai pemberitaan yang menyebutkan bahwa Ba’asyir menjadi salah seorang Dewan Pembina Jamaah Anshor Khilafah Nusantara (JAKN), dia langsung menimpali, “Tolonglah pakai logika, Ba’asyir sudah lama di dalam penjara, dan sejak 2010 sudah diperlakukan sebagai tahanan,” ucapnya.

Dia mengatakan bahwa sidang PK yang diajukan Ba’asyir pada 14 Januari 2016 lalu menjadi sangat penting seiring dengan kejadian di kawasan Sarinah, Jakarta.

Untuk itu, pihaknya menyarankan kepada semua pihak, juga media, untuk mengawal dan menyaksikan langsung persidangan itu.

“Karena dari persidangan ini juga membahas tentang latihan militer di Janto, Aceh, sebagaimana yang sering dikambinghitamkan sebagai awal dari terorisme yang terjadi,” jelasnya.

Dan dia mengaku menolak dengan tegas jika Ba’asyir dikait-kaitkan dengan kejadian di kawasan Sarinah, karena terpidana itu dalam kondisi pengamanan yang sangat ketat sehingga tidak punya akses keluar.

“Tolonglah, saya ketuk pintu hatinya orang-orang yang mengait-ngaitkan itu, ustadz benar-benar sudah dalam keadaan terpenjara sebagai terpidana, dia terpenjara. Nanti kalau dikait-kaitkan kayak begitu, nanti ada tindakan-tindakan over acting yang merugikan semua, mulai dilarang ketemu kami, dibatasi, dan sebagainya,” pungkas Mahendradatta. (estanto)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *