by

Ir. Prayitno, M.Si – Laksana Air

-Uncategorized-74 views

 

 71th-ri-2

PENAMPILANNYA humoris. Ia juga supel jika bergaul dengan berbagai kalangan. Dialah Ir. Prayitno, M.Si, Kepala Bidang Pariwisata pada Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga.

Dengan sikapnya yang supel itulah, ia bisa dengan cepat berbaur bersama para pegiat wisata yang tergabung dalam kelompok sadar wisata.  Bahkan, para pengelola desa wisata sering menjulukinya sebagai ‘Bapak Pokdarwis’.

“Untuk berbaur dengan para pengelola desa wisata, saya cenderung menggunakan pendekatan non formal. Mereka kita ajak berdiskusi dan menuangkan ide-ide pengembangan wisata, dengan duduk di pinggir sungai atau di tengah sawah. Ternyata, lewat cara itu bisa berhasil dengan baik. Tidak harus dalam sebuah rapat resmi di kantor, “ kata lelaki kelahiran Kebumen, 29 Juni 1968 ini.

Lewat sikapnya yang menempatkan para pelaku wisata di desa sebagai sahabat dan teman, membuat warga desa merasa tidak ada jarak. Keluhan atau kesulitan apapun yang dialami pengelola desa wisata, dengan mudah disampaikannya. Dengan cara itu, maka persoalan yang dihadapi bisa dengan cepat diselesaikan.

“Sebagai PNS, tugas saya adalah pelayan masyarakat, jadi saya tidak pernah menganggap posisi saya lebih tinggi dibanding warga masyarakat. Justru, PNS itu yang harus mendekati ke masyarakat, tentunya dengan pendekatan yang sopan dan santun,” kata Prayitno yang pernah menekuni profesi sebagai jurnalis selama.

Pengalaman sebagai jurnalis tentunya menempa Prayitno untuk bisa bergaul dengan siapa saja. Mulai dari kalangan pejabat, hingga masyarakat bawah sekalipun. Dengan didikan sebagai jurnalis pula, ketika bergaul dengan pengelola desa wisata sudah tak canggung lagi.

Dengan rasa kebersamaan yang dibangun bersama pengelola desa wisata, akhirnya para pelaku wisata di desa merasa dihargai dan diberi kesempatan untuk maju. Hal itu dibuktikan sejak mulai menjabat Kabid Pariwisata Agustus 2013 silam.

Lewat kerja keras dan dukungan semua pihak tentunya, perkembangan desa wisata di Purbalingga, begitu pesat. Tahun 2013 – 2014, jumlah pengunjung ke desa wisata hampir tidak pernah mencapai 5.000 wisatawan.

Namun, kini bisa naik hingga sepuluh kali lipat. Pada kunjungan wisata lebaran tahun ini saja, pengunjung ke desa wisata selama satu minggu lebaran mencapai 126 ribu wisatawan. Dampaknya, tentunya kepada masyarakat selaku pengelola desa wisata.

Lelaki yang menyelesaikan pendidikan S-1 di Fakultas Peternakan Unsoed pada tahun 1992 dan S-2 Ilmu Lingkungan Unsoed Purwokerto pada tahun 2003 mengaku, keberhasilan ini, bukan semata-mata dari kinerja Dinbudarpora, tapi justru dari gerak masyarakat yang memang ingin maju. Dinas hanya mendorong dan membina saja, dan itu sudah menjadi tugas kami.  Kepada staf, saya juga menegaskan untuk tidak mengambil keuantungan satu rupiah pun dari pendapatan masyarakat desa. Sebagai pembina harus memberi contoh yang baik kepada masyarakat, ketika kita bekerja sesuai prosedur dan aturan, maka masyarakat akan menirunya.

Menurut Prayitno, strategi untuk mendongkrak kunjungan wisata, berada pada daya tarik yang dikelola baik dengan menerapkan sadar wisata melalui sapta pesona wisata, dan disisi lain harus diimbangi dengan promosi gencar. Prayitno mengaku, ia harus terus mengupdate informasi wisata melalui berbagai jejaring sosial baik facebook, twitter, instagram, Line dan gencar mengirimkan press release ke teman-teman wartawan.

“Keberhasilan mendongkrak kunjungan wisata, juga tak lepas dengan peran teman-teman wartawan.  Dengan media yang dimiliki para wartawan,  promosi wisata dapat dipublikasikan dengan baik,” kata Bapak dua orang anak ini hasil pernikahannya dengan Silas Rumanti Sabarati, ST yang bekerja di Bappeda Purbalingga ini.

Ketika ditanya soal jabatan, Prayitno mengatakan, mengikuti air mengalir saja. Jabatan itu amanah, tidak harus dikejar. Jika kita mengejar atau meminta jabatan, namun kinerja kita tidak bagus, maka akan membebani pihak-pihak yang memberikan jabatan itu. Pimpinan tentu sudah paham, menempatkan seseorang atas hasil kinerjanya. Pantangan baginya, jika harus meminta jabatan tertentu.

“Yang terpenting, dimana saat ini diberi amanah untuk menjabat di bidang pariwisata, maka akan saya kerjakan dengan baik, profesional dan proporsional. Ibaratnya, dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Dimana kita ditempatkan, harus dijalani dengan tekun dan baik,” kata lelaki yang punya hobi nggowes ini.

Selain jabatan yang diemban, Prayitno juga dipercaya mengemban jabatan kemanusiaan. Saat ini, dia juga menjabat pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Purbalingga, kemudian sebagai andalan cabang urusan Humas di Kwartir Cabang gerakan Pramuka Purbalingga.

Masih di jalur sosial, dia juga bergabung dengan Yayasan Pilar Purbalingga, dan masuk dalam Divisi Lingkungan Hidup. Disela-sela kegiatan rutin dan kegiatan sosial itu, Prayitno juga masih menyempatkan menulis untuk sebuah media online yang dikelolanya bersama teman wartawan di Purwokerto.

“Hidup itu memang harus seimbang, selain kegiatan rutin sebagai PNS, saya mencoba mengikuti kegiatan sosial. Semua harus bisa dijalankan dengan baik dan teratur. Soal penghasilan, saya berprinsip harus dicukupkan dengan gaji yang diperoleh, tidak perlu mencari jalan pintas yang justru bisa merugikan diri sendiri,” kata lelaki yang pernah meraih Anugerah Media Humas dari Bakohumas Kementerian Kominfo pada tahun 2013 ini.(mahendra yudhi krisnha)

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *