by

Ini Alasan Sidang PK Ba’asyir Digelar di Cilacap

-Uncategorized-56 views

Ustadz-Abu

CILACAP – Sidang Peninjauan Kembali (PK) Abu Bakar Ba’asyir yang digelar Selasa (12/1) pagi di Pengadilan Negeri (PN) Cilacap, bukan tanpa alasan.

Penasihat hukum Ba’asyir, Achmad Michdan mengatakan, pemilihan kota Cilacap sebagai tempat sidang PK Ba’asyir berdasarkan banyak pertimbangan.

“Pertama sebetulnya karena jarak dan banyak hal, terutama karena ustadz juga sudah tua. Kesehatannya tidak seperti orang yang muda. Juga sedikit ada keluhan-keluhan sakit,” jelasnya, Sabtu (9/1) sore.

Selain itu, banyak yang perlu dipersiapkan apabila sidang diselenggarakan di Jakarta. Terlebih masalah transportasi dan pengamanan. “Ini akan membebani penyelenggara siding,” imbuhnya.

Seperti diketahui, saat ini Ba’asyir tengah dipenjara di Pulau Nusakambangan, Cilacap. Jika Ba’asyir harus dibawa ke Jakarta, proses siding dan transportasinya susah. Pengamanannya pun perlu pengamanan yang luar biasa.

Untuk itu, Michdan dan tim penasihat hukum lainnya sejak awal sudah meminta kepada PN Jakarta Selatan agar mendelegasikan pemeriksaan ini ke PN Cilacap.

Siapkan Lima Saksi
Untuk keperluan siding kali ini, tim penasihat hukum Ba’asyir sudah menyiapkan lima orang saksi, dan mereka akan dijadikan bukti baru.

Achmad Michdan menjelaskan, kelima saksi tersebut berasal dari kalangan yang jelas-jelas mengetahui benar perkara Ba’asyir.

Di antara para saksi adalah pelatih atau perekrut dan pemasok senjata pada I’dad di Aceh. Kemudian para ikhwan yang berlatih di Aceh.

Saksi lainnya berasal dari pihak lembaga kemanusiaan MER-C. Mereka merupakan salah satu pihak yang pernah menerima sumbangan Ustadz Ba’asyir untuk Palestina.

“Dokumen-dokumen dari MER-C dan pihaknya nanti didatangkan pada sidang,” ujar Michdan.

Dikatakannya, lembaga tersebut akan membuktikan bahwa Ustadz Ba’asyir merupakan pihak yang selalu mengumpulkan dana kemanusiaan untuk Palestina.

Pada dokumen MER-C juga disebutkan, Ustadz Ba’asyir telah mampu mengumpulkan dana sebesar Rp 250 juta untuk Palestina. Besaran dana ini diberikan dalam dua tahap, yakni Rp 150 juta dan Rp 100 juta.

“Dengan bukti ini dapat dikatakan bahwa dana yang dikumpulkan Ustadz Abu memang lebih banyak untuk kepentingan kemanusiaan,” ucap Michdan.

Namun, pada sumbangan yang mencapai Rp 50 juta itu justru disebut-sebut digunakan untuk I’dad dan pengadaan senjata di Aceh.

“Uang itu tersalur ke sana dan nggak tahu siapa yang menyalurkannya,” tutup Michdan. (estanto/dbs)

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *