by

Harta Karun Sejarah Purbalingga – Oleh : Agus Sukoco

-Uncategorized-92 views

 

1146690_662253747138170_573715327_n

Salah satu keberuntungan diantara sekian banyak keberuntungan yang dianugrahkan Tuhan kepada Kabupaten Purbalingga adalah ditakdirkan  menjadi tempat kelahiran Jenderal Soedirman.

Ini sebuah berkah sejarah yang tak terhingga nilainya bagi masyarakat purbalingga. Orang besar yang menjadi maestro sejarah dan salah satu lambang semangat patriotic bangsa  Indonesia itu berasal dari Purbalingga.

Keharuman peran kesejarahannya telah membuat nama beliau menempati posisi sangat terhormat di alam bawah sadar bangsa Indonesia. Salah satu pilar penting dalam berdirinya NKRI adalah Tentara.

Kalau Negara diibaratkan tubuh, tentara adalah kerangka atau tulang-tulangnya. Kerangka dan tulang inilah yang membuat sebuah tubuh memiliki daya tegak dan kepastian struktur  yang disebut  anatomi.

Jenderal Soedirmanlah ‘sesepuh’ dan imam besar yang menjadi ‘maskot’ tentara Indonesia.  Bahkan konon dalam dunia militer, taktik dan strategi perang gerilya merupakan keahlihan otentik bangsa Indonesia yang secara sempurna diperagakan oleh beliau.  Hingga jenis perang ‘bawah tanah’ itu menjadi identik dan terkenal dengan ‘madzab perang’ Jenderal Soedirman.

Jika dalam Islam mengajarkan sebuah nilai bahwa sebaik-baik manusia adalah manusia yang paling berguna bagi manusia lain, beliau telah mengejawantahkan prinsip ajaran itu dengan sangat gemilang.

Jenderal soedirman telah menjawab persoalan jaman pada saat itu dengan seluruh jiwa raganya, bukan untuk sebuah karier pribadi tetapi pengabdian total kepada bangsanya sebagai bentuk ibadahnya kepada Tuhan yang  diimaninya.

Sebagai tempat kelahiran, Purbalingga berhak dan sekaligus berkewajiban untuk menjadikan seluruh prestasi sejarah beliau sebagai ‘harta karun’  berupa spirit patriotisme bagi kesejahteraan anak cucu warga purbalingga.

Nama besar jenderal soedirman yang tertulis di kanvas sejarah kebangsaan Indonesia  adalah kekayaan sangat mahal yang harus segera direspon dan dikelola  dalam program-program pembangunan di purbalingga.

Jenderal Soedirman telah lebih dulu menasional dari pada purbalingga. Jauh sebelum orang mengenal purbalingga, kharisma kebesaran dan semerbak namanya telah merambahi seluruh pelosok tanah air hingga ke ujung papua.

Purbalingga harus mulai merintis perjalanan sejarahnya  dengan bekal etos “mikul dhuwur mendem jero”  para leluhurnya. Salah satunya adalah dengan mengangkat jasa kepahlawanan Jenderal Soedirman ke langit kesadaran anak cucu bangsa Indonesia.

Menjadikan beliau sebagai icon kebudayaan purbalingga adalah upaya mulia yang harus segera dikerjakan. Jika penduduk Indonesia dari sabang sampai merauke lebih mengenal Jendral soedirman dari pada purbalingga.

Maka mengaitkan purbalingga dengan kebesaran nama beliau akan menjadi jalan tol untuk segera menasionalkan nama purbalingga. Nama Besar Jenderal Soedirman adalah sayap sejarah yang bisa lebih efektif menerbangkan purbalingga ke angkasa popularitas dengan muatan  nilai-nilai luhur kepahlawanan yang disandangnya.

Media paling elegan dan rasional untuk mentransfer nilai kejuangan Jenderal Soedirman ke benak kesadaran masyarakat  adalah dengan menjadikannya sebagai nama dan inspirasi tempat Wisata berbasis sejarah perjuangan, biografi, dan filosofi spirit nilai-nilai nasionalisme.

Pemerintah Kabupaten sudah saatnya meng-akses berkah kepada Sang Jenderal dengan menguak rahasia ‘harta karun sejarah’ berupa jejak-jejak perjuangannya.

Jejak sejarah Jenderal Soedirman  yang telah tertulis  menjadi huruf-huruf prasasti di batin bangsa indonesia akan men-tajjali dalam bentuk karya kebudayaan yang lebih terbaca jika ada kebijakan untuk mengemasnya menjadi sajian yang eksotis dan estetis.

Tampaknya memang sudah tiba waktunya  melakukan ekplorasi romantisme sejarah untuk memberikan semacam hujan bagi kegersangan batin kebangsaan kita dewasa ini. Eksplorasi sejarah akan menjadi semacam ‘penjamasan’ pusaka, dan di Purbalingga salah satu pusaka itu bernama Jenderal Soedirman.

Kebutuhan masyarakat untuk berwisata saat ini sedemikian tinggi. Padatnya aktifitas dan timbunan pekerjaan yang membuat orang gampang penat dan stress, merupakan peluang bagi pemerintah untuk menyediakan tempat-tempat wisata yang disamping menjanjikan suasana rekreatif dan berdampak pada peningkatan pendapatan daerah, juga tidak mengabaikan substansi pesan-pesan moral, nilai sejarah, dan suguhan citra kearifan lokal. Menjadikan Jenderal Soedirman sebagai ‘kiblat’ pembelajaran melalui strategi budaya merupakan metode infiltrasi spirit patriotisme yang efektif bagi peningkatan kesadaran masyarakat dalam berbangsa.

Jika Papua punya Freeport, banyuwangi memiliki sumber emas, Bangka blitung kaya akan tambang timah, Purbalingga juga menyimpan mutiara paling mulai bernama goresan nilai cinta tanah air yang diteteskan oleh ruh suci Jenderal Soedirman.

Tinggal bagaimana upaya kreatif eksploratif pihak Pemkab dalam mendayagunakan berkah sejarah itu menjadi factor akselarasi laju pembangunan  tanpa dengan merendahkan keluhuran nilai –nilai sejarahnya.

Yang belum terbangun saat ini adalah mengkorelasikan Nama Soedirman dengan Purbalingga. Sehingga kebesaran dan popularitas Jenderal Soedirman belum berdampak optimal kepada Purbalingga sebagai tanah kelahirannya.

Kesediaan Pemkab menjadikan Jenderal Soedirman sebagai  prioritas eksplorasi kebudayaannya, diharapkan akan membuat ‘tuah’ sejarah Jenderal Soedirman bisa mempengaruhi  progresi sosial , akhlak politik, akselarasi pertumbuhan ekonomi lokal dan berbagai dinamika kultural masyarakat purbalingga.

Bahkan bukan tidak mungkin ‘gaung’ nasionalisme yang makin terdengar sayup-sayup di tengah bisingnya arus global modernisme yang menegasikan batas-batas kultur otentik kebangsaan kita, akan kembali bisa digemakan lewat pembangunan tempat wisata berbasis sejarah Jenderal Soedirman di purbalingga.

Target jangka menengah dan panjangnya adalah menjadikan Jenderal Soedirman identik dengan purbalingga. Begitu orang mendengar Nama Sang Jenderal itu disebut, imaginasi mereka akan terbang ke kota kita purbalingga tercinta.

Sebagai warga purbalingga, tentu kita semua berharap bahwa citra pendekar bangsa itu menjadi mahkota di atas ubun-ubun peradaban purbalingga. Sekali dayung satu dua pulau terlampaui , demikian pepatah dan ungkapan yang mungkin paling tepat untuk memaknai upaya mengkreatifi potensi sejarah di purbalingga tersebut.

Jenderal Soedirman adalah investasi sejarah bangsa Indonesia terutama bagi Kabupaten Purbalingga  yang  harus segera ditemukan formula manifestasi nilai –nilai aplikatifnya di berbagai konteks dan ranah realitas sosio-kultur kontemporer.

Karena, jika kita terlambat mengangkat dan membawa tema-tema sejarah ke dalam kebijakan-kebijakan formal, seluruh muatan nilai masa lampau akan kehilangan kontekstualitas kulturalnya.

Dan jika itu sampai terjadi, maka sejarah akan hanya dikenal sebagai mitologi yang terputus persambungan saraf rasionalitasnya dengan realitas persoalan hari ini dan masa depan.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *