by

Hangout Bistro Purbalingga Gelar Diskusi Apa Maning Polahe Wong Purbalingga

-Uncategorized-66 views

IMG20160415210817

Dengan sokongan teknologi informasi, lini kreatif sangat potensial guna dikembangkan sebagai salah satu pilar pertumbuhan Kabupaten Purbalingga sebagai sebuah kota. Sayangnya, ada dua hal yang menghambat perkembangan lini kreatif di Kota Perwira.

Pertama, masih minimnya perhatian dari Pemerintah Kabupaten terhadap berbagai upaya pengembangan dunia kreatif. Kedua, masih sulitnya menemukan orang ataupun komunitas kreatif yang aktif membangun jejaring kerja antar komunitas.

Direktur CLC Purbalingga, Bowo Leksono berkata, elemen pemerintahan masih tak paham dengan dunia kreatif. Kuncinya, kata Bowo, pemerintah kabupaten dan para pegiat ataupun komunitas harus banyak ngobrol.

Kebijakan memfasilitasi dunia kreatif bahkan ekonomi kreatif tidak bisa hanya berdasarkan prinsip “sok tahu”. “Kita masih berjalan sendiri-sendiri, di lain sisi pemerintah masih belum paham. Sayang sekali,” kata Bowo.

Perihal dunia kreatif ini dibahas dalam Spik Sana Spik Sini yang digelar di Hangout Bistro, Jumat 15 April 2016 mengusung tajuk “Apa Maning Polahe Wong Purbalingga?”. Diskusi ini melibatkan pegiat film, seni tradisi, musik, Kelas Menulis Purbalingga hingga komunitas facebook Tempat Wong Ngapak Purbalingga (TWNP).

Membangun Jaringan

Salah satu penggagas Yayasan Pilar Purbalingga, Adi Purwanto memandang dunia kreati Purbalingga sangat potensial, namun masih belum memiliki cukup ruang. “Kalau tidak dimulai dari sekarang memang akan semakin berat,” kata Adi.

Hal senada juga disampaikan Mochammad Zacky. Mahasiswa yang dekat dengan dunia musik dan streetart ini menilai kekurangan Purbalingga adalah ekosistem dalam mendukung lini kreatif. Harusnya pemerintah, pelaku dan penikmat seni bisa sejalan membangun ekosistem kreatif.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *