by

Dra. Peni Karsiati, M.Pd Kepala UPK Sumbang Ibu Cerdas Lahirkan Generasi Cerdas

-Uncategorized-37 views

????????????????????????????????????

Dalam mendidik anak, seorang ibu harus mampu menjadi teladan bagi anak-anaknya. Mengingat bahwa perilaku orang tua, khususnya ibu, akan ditiru yang kemudian dijadikan panduan dalam perilaku anak, harus mampu menjadi teladan bagi mereka.

Sehingga ibu yang pintar akan menuntun anaknya menjadi lebih pintar, baik dari gen yang diturunkan maupun dari cara ibu mendidik anaknya. Karena ibu yang pintar dan berbekal ilmu, akan memberikan cara yang unik dalam mendidik anak.

Hal tersebut diyakini Dra. Peni Karsiati, M.Pd Kepala Unit Pendidikan Kecamatan (UPK) Sumbang Kabupaten Banyumas Jawa Tengah. Dikatakan Peni, Ibu adalah guru pertama untuk anak-anaknya. Dari ibulah anak pertama kali belajar dan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap diri anak.

“Ibu yang cerdas akan melahirkan generasi yang cerdas,”ungkapnya kepada elemen dan lintas24.com saat ditemui di Kantor UPK Sumbang (13 April 2016).

Peni menegaskan, sebenarnya rumahlah sekolah pertama untuk anak. Sadar atau tidak, dari rumah anak pertama kali belajar. Anak melihat apa saja yang dilakukan ibu dan ayahnya. Dan kemudian dia akan mencontohkannya. Anak bisa melihat benda yang dan warna yang dipegang ibunya.

“Di sinilah sosok ibu dituntut untuk terus meningkatkan kualitas dirinya dengan memperkaya sebanyak mungkin ilmu pengetahuan, teknologi, dan seni sebagai modal awal dalam rangka menuju keberhasilan hidup anak yang cerdas serta sukses,”ungkapnya.

Wanita kelahiran Rowokele Kebumen mengungkapkan, dulu Sang Ibu menolak untuk menikah dini dan memilih untuk meneruskan Sekolah Apoteker. Kala itu keinginan untuk melanjutkan pendidikan mendapat penolakan dari orang tua.

“Ibu saya nekad, maju terus untuk menuntut ilmu walaupun tak mendapat restu dari Embah kakung saya. Dulu Ibu saya sudah mempunyai prinsip hidup dan prinsip hidup ibu yang kini mengilhami hidup saya,”kenang Peni.

Apa prinsip Ibu lanjut Peni, Seorang Ibu haruslah pintar dan cerdas. Setelah selesai sekolah dan bekerja, Ibu saya menikah dengan Bapak saya yang seorang Penilik Dikmas Depdikbud Kecamatan Rowokele Kebumen. Peni mengakui, dalam prinsip hidup kedua orang tuanya pun sangat luar biasa.

“Semua anak-anaknya harus kuliah dan lima orang anaknya berhasil mengenyam pendidikan tinggi,”kenang Peni.

Lulusan IKIP Negeri Yogyakarta tahun 1987 ini mengatakan, Ibu masa kini memiliki tanggungjawab berat. Peran ganda yang tersandang di pundaknya, antara bekerja dan mendidik anak di rumah, membuat para ibu tertatih menjalani hidupnya. Konsep pemberdayaan ibu yang digulirkan ternyata mengundang berbagai permasalahan baru. Upaya untuk meningkatkan peluang kerja bagi ibu misalnya.

“Faktanya peran ibu yang optimal di karier, seringkali tidak diikuti peran yang optimal di rumah,”ungkapnya.

Dengan banyaknya ibu yang berkiprah di luar rumah mencari nafkah lanjut Peni, peluang terjadinya disharmonisasi keluarga lebih terbuka. Ibu yang lelah pulang bekerja, lebih mudah mengalami gangguan emosi. Anak seringkali menjadi sasaran pelampiasan. Anak juga hanya mendapat waktu sisa, sehingga komunikasi seringkali terkendala.

“Nah, kesalahan pasti ditimpakan kepada sosok Ibu, Apa hubungannya dengan ibu? Ya, dulu ibu kita masih banyak punya waktu untuk mendidik kita, mengajarkan nilai-nilai kebaikan dan menunjukkan mana yang salah,”ungkapnya.

Ia menegaskan, tidak ada salahnya seorang Ibu “memacu” karir diluar rumah. Peni mencontohkan, setiap hari Sang Ibu berusaha meluangkan waktu untuk memantau pelajaran sekolah, pekerjaan rumah anaknya. “Meski capek, harus berusaha tetap memeriksa PR yang diberikan, bahkan mengajari apabila ada hal yang kurang jelas,” tutur Peni.

Penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak dalam “mencetak” anak cerdas dan kreatif juga berarti ibu harus berperan aktif. Memang, anak yang  kreatif tidak akan jadi dengan sendirinya, melainkan harus diarahkan. Namun, di sisi lain, kreativitas -yang mensyaratkan kebebasan- tidak akan berkembang apabila anak tidak diberi kesempatan. Kebebasan tanpa batas dapat berakibat buruk dan justru tidak menunjang kreativitas.

Sebaliknya, disiplin kaku tanpa toleransi berpotensi mematikan kreativitas anak. Oleh karena itu, kebebasan dan disiplin harus dimainkan secara serasi agar anak dapat mengembangkan potensinya secara optimal.

“Untuk mewujudkan anak yang yang berkualitas diperoleh dengan proses pendidikan dan pembinaan. Ini adalah proses yang panjang dan berkesinambungan,”ungkap mantan Kepala UPK Patikraja dan Cilongok.

Perlu dicatat lanjut Peni, sesungguhnya, ibulah yang dapat membentuk pribadi-pribadi tangguh dalam diri anaknya. Ibulah yang pertama kali mampu membentuk anaknya, menjadi anak yang soleh dan cerdas.

“Ibulah orang yang paling berpengaruh dalam kehidupan anaknya. Membentuk generasi bermental pemimpin yang cerdas bukanlah hal yang tidak mungkin terjadi, namun perlu usaha yang ekstra keras  untuk mewujudkannya,”tegasnya.(ali mas’udi).

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *