by

Benarkah Cium Tangan “Adegan” Tak Berkelas

-Uncategorized-99 views

Graphic1

 

Foto seorang hakim yang mencium tangan seorang terdakwa beredar di dunia maya serta berbagai media cetak nasional dan internasional mencengangkan publik.

Hakim di Yordania ini turun meninggalkan kursinya dan menghampiri terdakwa. Di depan terdakwa, hakim itu berlutut dan mencium tangannya. Terdakwa pun kaget dengan tindakan hakim tersebut. Si Hakim pun berkata, ‘Ini adalah bentuk pengormatan saya kepada Anda, guru saya, guru yang mengajar saya waktu masih duduk di bangku SD.

Sang Guru Si Hakim ini haus duduk dikursi terdakwa di pengadilan setelah ayah salah satu muridnya mengadukan Sang Guru kepada Polisi. Sang Guru itu dituduh telah memukul muridnya.

3

Foto lainnya yang cukup fenomenal pada tahun 2014 adalah, ketika Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menundukkan kepala saat bersalaman dengan Maman Supratman guru honorer asal  Bekasi berusia 75 tahun yang aktif selama 40 tahun. Mendikbud Anies sengaja mengunjungi Maman saat peringatan Hari Guru Nasional yang jatuh setiap tanggal 25 November 2014.

Pemandangan yang tidak biasa juga terjadi saat acara puncak perayaan Hari Guru Nasional (HGN) 24 November 2015 yang berlangsung di Istora Senayan, Jakarta. Setelah menyelesaikan pidatonya, Presiden Republik Indonesia Joko Widodo (Jokowi) langsung menemui Ibu Sutoto, Salah satu guru wanita yang duduk di kursi roda

Presiden Indonesia ke-7 ini  tak segan untuk membungkukan badan dan mencium tangan Ibu Sutoto,  Sang Guru Presiden Jokowi dalam mata pelajaran Aljabar semasa sekolah di SMP Negeri 1 Solo.

Dianggap Pemandangan yang Tak Biasa

Budaya cium tangan ini sebenarnya lumrah kita temukan. Bahkan kita sendiripun sering melakukannya. Cium tangan dapat dikatakan sebagai bentuk penghormatan kepada orang yang lebih tua dan berjasa.

Namun sekarang, budaya cium tangan dianggap sebagai pemandangan tak biasa, “adegan” tak berkelas bahkan dianggap sebagai bentuk “pemujaan”.Sebenarnya, cium tangan adalah budaya yang paling Indonesia. Bahkan hampir seluruh masyarakat Indonesia mengenal dan melaksanakan. Di seluruh duniapun, banyak Negara menjadikan cium tangan sebuah budaya.

Misalnya, Malaysia sebagai negara serumpun dengan ini Indonesia masih memegang erat budaya ini, terlihat ketika Panglima Angkatan Tentara Malaysia Jenderal Tan Sri Dato Seri Mohd. Zahidi bin H Zainuddin mencium tangan Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono saat bertamu ke Istana Negara 21 April 2005.

Dalam foto yang disebarkan melalui laman dzuhanadasyaiful.com media online dan surat kabar di Malaysia menjelaskan Panglima Malaysia ini tidak hanya menghormat tegak, tetapi juga membungkuk dalam-dalam sembari mencium tangan SBY. Sedangkan tangan kirinya berada di samping pinggang dengan jari mengepal.

Tradisi yang Mengakar

Tradisi mencium tangan orang yang lebih tua memang sudah mengakar dalam keseharian masyarakat Indonesia. Sebuah bentuk penghormatan dan gambaran budi pekerti luhur yang diwariskan secara turun temurun dari generasi ke generasi.

Penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak dengan budaya cium tangan juga terlihat melalui iklan layanan masyarakat di Stasiun Televisi Indosiar, digambarkan dalam iklan tersebut, seorang cucu mencari Sang Nenek untuk berpamitan pergi ke sekolah, Si Cucu terlebih dulu mencari Neneknya sementara Ayahnya terus menerus memanggilnya untuk segera berangkat bersama. Si Cucu berpamitan dengan mencium tangan Neneknya. Dan sang Ayahpun melakukan hal yang sama, berpamitan berangkat ke kantor dengan mencium tangan Ibunya.

Namun sayang, program iklan layanan masyarakat ini ditayangkan pada waktu tengah malam sebelum penyiaran selesai. Seyogyanya iklan layanan masyarakat ditayangkan pada jam-jam efektif sekitar jam 18.00 wib – jam 21.00 wib.

Sebenarnya, dengan mencium tangan orang yang lebih tua dari kita atau orang yang kita hormati maka akan tumbuh sikap menghormati tanpa membedakan status dan menumbuhkan rasa rendah hati pada diri kita.

Kalau boleh mengingat membuka kliping koran lembaran kegiatan yang terjadi masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), cium tangan Letjen Budiman kepada SBY saat pelantikan Panglima TNI dan Kepala Staf TNI Angkatan Darat di Istana Negara mendapat kecaman dari Mantan Sekretaris Militer Mayjen (Purn) TB Hasanuddin.

Pasalnya, cium tangan sang jenderal saat mengenakan pakaian kebesaran itu melanggar Peraturan Penghormatan Militer (PPM). Menurut TB hassanudin, PPM mengatur cara hormat anggota militer secara teknis, baik saat sedang berhenti, berjalan, dengan penutup kepala atau tanpa penutup kepala, dengan senjata atau tanpa senjata.

TB Hasanuddin beranggapan, cium tangan bagus sebagai sebuah penghormatan, tetapi tidak patut jika dilakukan dengan pakaian dinas, pakaian kebesaran, dalam acara resmi kenegaraan. Seharusnya, Penghormatan yang diberikan oleh bawahan kepada atasan dengan sikap sempurna, badan ditegakkan, tangan kanan memberikan penghormatan dan tatapan ke depan.

TB Hasannudin jelas-jelas menegaskan, memberi hormat dengan cara yang berbeda dianggap ketidakpatutan, apalagi ini dilakukan oleh Kasad dengan pakaian kebesaran kepada Presiden yang adalah Panglima Tertinggi, di acara kenegaraan (pelantikan) dan dilakukan di Istana Negara.

Kerangka Penguatan Keluarga

Budaya cium tangan memang akhir-akhir ini terasa semakin luntur di negeri kita, penyebabnya adalah semua merasa lebih hebat, lebih jago, lebih pandai dan lebih terhormat.

Penguatan keluarga harus segera dimulai kembali. Dari mana kita lakukan penguatan itu?, boleh dilakukan dari membudayakan “Adegan” cium tangan, karena seorang Anak akan mengambil nilai-nilai, sikap maupun perilaku orang tua, tidak hanya apa yang secara sadar diberikan pada anaknya melalui nasihat, tapi juga dari perilaku orang tua yang tidak disadari.

Kita sering melihat banyak orang tua yang menasihati anaknya tapi mereka sendiri tidak melakukannya. Hal ini akan mengakibatkan anak tidak sepenuhnya mengambil nilai norma yang ditanamkan.

Jadi, untuk melakukan peran sebagai suri teladan, orang tua harus sudah memiliki nilai-nilai itu sebagai pondasi karakter pribadinya yang tercermin dalam sikap dan perilakunya. Hal ini penting artinya bagi proses belajar anak-anak dalam usaha untuk menyerap apa yang ditanamkan.

Setelah melaksanakan rutinitas “adegan” budaya cium tangan dirumah, selanjutnya keluarga sebagai lingkungan terkecil harus berani memberi penguatan peran pendidikan anak dengan member nasehat untuk mengharuskan kepada anak agar melakukan budaya mencium tangan guru saat memasuki kelas dan keluar kelas sebagai penghormatan kepada sang guru.

Selain itu, mencontohkan kepada anak kita, bagaimana kita mencium tangan orangtua kita ketika berjumpa atau ketika memohon doa restu. Biasakan kembali hubungan yang harmonis. Misalkan, sebagai istri melaksanakan “adegan” budaya mencium tangan sang suami, adik mencium tangan kakak atau bahkan saat kita bertemu dengan orang yang lebih tua dari kita ataupun orang yang kita hormati, sebagai penghormatan tertinggi kepada mereka.

Keluarga merupakan wadah tempat bimbingan dan latihan anak-anak kita. Mulai dari rumahlah kita mengajarkan anak mencium tangan kedua orang tuanya saat selesai shalat, ke sekolah, atau sekedar ingin keluar rumah.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang paling mendasar dalam siklus kehidupan manusia mulai lahir hingga akhir hayat (long life education). Untuk mewujudkan pendidikan yang berkualitas tidak terlepas dari adanya peran keluarga, pemerintah, dan masyarakat.

Untuk itu, mari kita lestarikan kembali budaya cium tangan ini. Agar budaya cium tangan tidak dianggap lagi sebagai pemandangan tak biasa, dan “adegan” tak berkelas.

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *