by

Ani Khasbiyah,S.Pd- Pendidikan di Era Industri 4.0

-Uncategorized-86 views

Muhadjir Effendy, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), mengatakan bahwa betapa pentingnya keteladanan guru dan tenaga kependidikan (GTK) sebagai syarat suksesnya pendidikan. Ia berharap para guru bersungguh-sungguh menjadi pendidik yang mampu memberikan keteladanan, bukan sekadar menjadi pengajar. Karena ruh pendidikan adalah tentang keteladanan. “Jika guru tidak bisa menjadi teladan, maka hilanglah jati diri keguruannya,” ujarnya (Kompas/15/8/2018).

Terlebih pada saat ini, guru diharuskan juga untuk mempersiapkan peserta didiknya menghadapi revolusi industri 4.0. Revolusi industri pertama (1.0) cirinya adalah mesin uap. Sedang revolusi industri 2.0 cirinya adalah kemunculan industri dan lini produksi.

Kemudian revolusi industri 3.0 cirinya adalah penggunaan elektronik dan teknologi informasi guna otomatisasi produksi. Kemudian saat ini, revolusi 4.0, cirinya adalah konektivitas manusia, mesin, dan data.

Revolusi sekarang ini semua sistemnya berbasis teknologi. Maka, guru dituntut kreatif dan inovatif dalam mendidik peserta didiknya, karena kalau tidak, perannya akan tergantikan oleh teknologi. Jika seorang guru hanya sekadar mentransfer pengetahuan saja, maka siswa pun bisa mendapatkannya lewat internet. Jadi, guru harus lebih dari sekadar mentransfer pengetahuan.

Menurut Asep Suhanggan, Kepala Bidang Guru dan Tenaga Kependidikan Dinas Pendidikan Jawa Barat, jika hanya transfer ilmu, guru bisa digantikan oleh teknologi. Guru zaman sekarang harus mampu menginspirasi, memberi sugesti dan memotivasi siswa agar mampu bersaing di era revolusi industri.

Intinya adalah bagaimana seorang guru mempersiapkan peserta didik yang tidak akan tergantikan dengan kecerdasan buatan semacam mesin ataupun robot. Karena industri 4.0 ini ditandai dengan kemunculan komputer super, kecerdasan buatan atau Intelegensi Artifisial (IA).

Disadari atau tidak, saat ini, sebagaimana dikatakan Andrey Andoko, wakil rektor Universitas Multimedia Nusantara (UMN), pekerjaan yang bersifat rutin dan harian sudah banyak diambil alih mesin. Ke depan pekerjaan yang masih belum bisa diambil alih oleh mesin dan robot adalah pekerjaan yang membutuhkan kemampuan dalam melakukan analisa, mengambil keputusan atau berkolaborasi (Kompas/2/5/18).

Berkaca pada pendapat Andrey di atas, guru dapat memaksimalkan proses pembelajarannya terhadap hal-hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin tersebut. Hal itu bisa dijabarkan ke dalam lima kompetensi yaitu kemampuan memecahkan masalah, mempunyai jiwa kepemimpinan, mampu beradaptasi, serta kreatif dan inovatif. Dengan mempunyai sudut pandang seperti itu, smart phone sebagai perangkat teknologi bukan lagi harus dijauhi, tapi justru digunakan untuk mendukung program pembelajaran tersebut.

Dengan smart phone tersebut, guru tidak lagi sekadar menjadi sumber ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai fasilitator. Artinya, guru dapat menggunakan smart phone sebagai asistennya untuk membantu peserta didik menyerap segala ilmu pengetahuan. Bagaimana pun smart phone sudah tidak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Ia menjadi bagian dari manusia, termasuk peserta didik. Maka, sudah semestinya smart phone dapat dimanfaatkan sebaik mungkin untuk mendukung proses pembelajaran.

Melalui internet, untuk mendapatkan pengetahuan bisa dengan cepat didapatkan, yang notabene-nya berbeda dengan zaman sebelum era internet. Maka, tugas guru adalah membimbing, mengontrol, dan mengarahkan peserta didik pada saat menggunakan smart phone peserta didiknya ketika melakukan proses pembelajaran. Selain itu melalui smart phone tersebut, guru lebih menitikberatkan pada lima kompetensi di atas, yaitu kemampuan memecahkan masalah, mempunyai jiwa kepemimpinan, mampu beradaptasi, serta kreatif dan inovatif.

Lantas bagaimana dengan kurikulum 2013? Apakah sudah mampu mengakomodir lima kompetensi yang menunjang industri 4.0 di atas? Sejatinya, dengan menerapkan kurikulum 13, siswa dapat mengelaborasi kemampuanya di sisi pedagogik, kecakapan hidup, kolaborasi, dan berpikir kritis dan kreatif. Tentu hal itu bisa menunjang di kehidupannya yang nyata. Tapi, bagaimana dengan kenyataannya di lapangan? Hal ini patut diuji.

Sebagian ada yang beranggapan bahwa penerapan kurikulum 13 lebih cenderung kepada nilai-nilai akademik semata. Sedang penerapan dalam kesehariannya masih jauh panggang dari api. Adanya bullying antar-siswa, bahkan siswa terhadap gurunya, menjadi bukti konkret betapa kurikulum 13 belum optimal dilaksanakan. Oleh karena itu, evaluasi terhadap implementasi K13 ini harus terus dilakukan, agar hasilnya bisa sesuai dengan yang diharapkan.

Mengingat revolusi era industri 4.0, implementasi K13 seharusnya tidak hanya sebagaimana disebutkan di atas, tetapi juga bisa menjawab tantang zamannya di mana peserta didik sudah siap dengan perubahan lingkungan industri dan ekonomi.( Guru Mata Pelajaran Ekonomi di SMAN 1 Rembang Purbalingga)

 

 

Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *