Afra Bryges Tamia, Dokter Terbaik Lulusan  Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Uncategorized205 views

Afra Bryges Tamia lulus dengan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,97. Putri pasangan H Supriyono dan Hj Eni Endah Wati Amd,Keb ini lulus dari Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Muhammadiyah Purwokerto (UMP).

“Awalnya merasa tak percaya dengan predikat yang diraihnya. Menurut Afra, dia sendiri tidak ada kiat khusus untuk menjalani perkuliahan,” tutur Afra Bryges Tamia yang lahir 3 Oktober 1996

Meski kuliah kedokteran cukup sulit, Afra mengikuti berbagai kegiatan organisasi kemahasiswaan di kampus dan juara Nasional. Adapun organisasi yang diikutinya, yakni Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), dan Center for Indonesian Medical Student Activities (CIMSA). Sementara lomba yang pernah diikutinya seperti Indonesian International Medical Olympiad (IMO) dan Gadjah Mada Indonesian Medical Science Olympiad (GIMSCO).

Afra menceritakan, dia memiliki trik untuk belajar secara efektif. Alih-alih belajar sendiri, dia justru memilih berdiskusi bersama teman.

“Kalau kiat khusus sih jujur aja tidak ada. Tapi saya berprinsip karena sekolah di FK membutuhkan perjuangan yang besar untuk saya dan keluarga, baik mental maupun material, maka saya selalu berusaha untuk melakukan yang terbaik di setiap stase yang saya lewati selama pendidikan klinis. Konsisten aja sih kuncinya. Konsisten buat tetep belajar tanpa membedakan itu stase mayor atau stase minor,” tutur Afra, Kamis (16 Januari 2020).

Ia menyakini, selain banyak ilmu dan pengalaman yang diperoleh dari organisasi kemahasiswaan, seperti bagaimana mengelola organisasi dan cara menghadapi banyak orang. Saya juga ikut kegiatan bahasa inggris pada saat kuliah preklinik dulu. Saya sempat mewakili UMP di lomba debat Jawa Tengah lalu menang bersama teman sejawat saya dr. Cita Zealand akhirnya bisa lanjut ke nasional,” tuturnya.

“Awalnya lebih suka belajar sendiri tapi ternyata kuliah di FK terutama saat coas dan UKMPPD membuat saya jadi nyaman belajar kelompok. Karena lebih bisa saling melengkapi kekurangan masing2 jadi info nya lebih banyak,” sebutnya.

Di balik capaian prestasi yang ditorehkannya, banyak rintangan dan kerja keras yang dilewatinya.

“Jujur saya tidak bisa naik motor dan nyetir mobil, sedangkan untuk pendidikan coas itu tempat nya jauh jadi merepotkan banyak pihak. Seperti keluarga terutama bapak saya, dan teman-teman dekat saya yang selalu ada buat bantu saya kapanpun saya butuh. Tanpa keluarga dan teman-teman yang care saya tidak bakal bisa sampai di titik ini,” pungkasnya.

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *