Tulus Jatmiko Budidayakan Jeruk Lemon Mayer Di Desa Cipawon

By: On: Dibaca: 27,185x
Tulus Jatmiko Budidayakan Jeruk Lemon Mayer Di Desa Cipawon

Tulus Jatmiko (46) atau yang akrab disapa Jatmiko kini tengah mengembangkan budidaya jeruk lemon di lahan miliknya di Desa Cipawon, Kecamatan Bukateja. Jeruk Lemon Meyer, buah impor yang dikenal kesegarannya dan kaya manfaat.

Soal rasa, jeruk lemon yang ditanam oleh Jatmiko lebih segar dibandingkan dengan jeruk lemon jenis lainnya. Jeruk lemon meyer terbukti memiliki kadar air yang cukup tinggi rasanya pun lebih segar dibandingkan jeruk lemon yang ada di pasar buah atau supermarket yang memiliki warna kuning terang.

Desa Cipawon sendiri dikenal dengan pertanian dan perkebunannya, salah satu komoditas yang banyak dijumpai di desa tersebut adalah jeruk manis. Berawal dari keinginannya mengubah lahan yang sebelumnya hanya ditanami padi yang dipanen hanya dua sampai tiga kali dalam setahun.

Namun, ia pun tidak begitu tertarik untuk menanam jeruk manis di lahannya karena jeruk manis pun merupakan buah musiman dan hasil yang didapatkan tidak begitu maksimal. Akhirnya ia berinisiatif untuk mulai membudidayakan jeruk lemon yang menurutnya prospeknya cukup bagus. Tidak hanya itu, buah yang memiliki nama latin citrus ini juga tidak mengenal musim.

Jatmiko sendiri mulai membudidayakan jeruk lemon sejak Oktober 2017. Dan terhitung sampai dengan saat ini kurang lebih sudah ada 800 batang jeruk lemon yang ditanami dilahannya.

Di kebun jeruk lemon miliknya, Jatmiko mempekerjakan dua orang pekerja yang bertugas untuk merawat dan memetik jeruk lemon setiap harinya. Pasalnya jeruk lemon yang tengah dibudidayakannya membutuhkan perawatan yang intensif guna menghasilkan buah yang maksimal.

Sejak awal masa tanam hingga muncul buah, kurang lebih membutuhkan waktu hingga 1,5 tahun. Setelah buah pertama dipetik, maka selanjutnya akan muncul bunga kemudian buah dan seterusnya.Butuh waktu tujuh hari atau satu minggu dengan maksimal sepuluh hari, jeruk lemon dapat dipanen. Sekali panen jeruk lemon tersebut bisa mencapai 480 kg buah.

“Masing-masing pohon diberi pagar pembatas agar semua pohon mendapatkan sinar matahari yang cukup, kemudian pohon jeruk lemon yang sudah berbuah diikat dengan tali yang diikatkan pada pagar untuk menghindari batang pohon agar tidak mudah patah,” kata Jatmiko.

Hama penyakit yang biasa menyerang pada tanaman jeruk lemon berupa bercak hijau pada batang dan buah atau diplodia. Untuk mengantisipasi adanya hama yang menyerang, ia kemudian mengecat seluruh batang pohon dengan bubuk khusus. Perlakuan khusus lainnya ia menggunakan kotoran hewan dan batang padi untuk membantu proses pemupukan dan penyuburan tanah.

Jeruk lemon yang sudah siap panen yakni jeruk lemon yang sudah tua, warnanya hijau kekuning-kuningan. Untuk memetik jeruk lemon pun tidak sembarang memetik, harus menggunakan gunting untuk memetik buahnya.

“Harus pakai gunting, kalau gak nanti bisa merusak tanamannya,” tuturnya

Ditanya soal rencana ke depannya, Jatmiko mengungkapkan masih ingin fokus menggarap kebun buahnya. Ia pun terbuka ketika ada masyarakat yang ingin membudidayakan jeruk lemon, dengan prospeknya yang bagus tentu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

“Kita terbuka mau siapapun ya boleh menanam yang penting kan perawatan, kita gak takut ada persaingan, yang jelas nanti sama-sama belajar dan mengembangkan. Yang terpenting kan sabar, telaten dari mulai pengolahan lahan, bibitnya sampai dengan pemeliharaannya,” pungkas Jatmiko.

Untuk pemasaran jeruk lemonnya, ia masih mengandalkan media sosial dan dibantu rekan-rekannya. Pemasarannya pun masih di daerah, ia menuturkan belum mampu untuk memasarkan ke luar kota. Hal ini dikarenakan stok buah yang masih terbatas dan belum bisa memenuhi permintaan pasar.

 

 

 

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!