by

Tsunami,  Di Jepang Istilah Tsunami Sudah Dipakai Sejak tahun 1600-an

-Peristiwa, Update-dibaca 46.87Rb kali | Dibagikan 144 Kali

Eliza Ruhamah Scidmore penulis National Geographic Magazine edisi September 1896 mengutip istilah lokal tsunami untuk menggambarkan naiknya gelombang laut ke daratan yang terjadi tak lama setelah gempa.

Baca Juga : Ini  5 Kategori Tsunami yang Perlu Diketahui

Bencana Tsunami di Sanriku, Jepang, 15 Juni 1896 menjadi tonggak sejarah.”Pada sore, 15 Juni 1896, pantai timur laut Hondo, pulau utama di Jepang, dilanda gelombang raksasa yang dipicu gempa (tsunami)….” Scidmore menulis, tsunami menewaskan 26.975 orang dan menyebabkan korban luka 5.390 orang.

Pewarta The Atlantic Monthly, Lafcadio Hearn juga dilaporkan tragedi ini untuk edisi Desember tahun yang sama. ”Gelombang laut yang mengerikan naik tiba-tiba dan ini oleh orang-orang Jepang disebut sebagai tsunami..,” tulis Hearn.

Baca Juga : Masyarakat Punya waktu 30 Menit Untuk Menyelamatkan Diri Saat Tsunami

Tsunami (yo ni tsunami to yu’u). Dan diyakini, Tsu dimaknai sebagai ’pelabuhan’ dan nami bermakna ’gelombang’. Meski di Jepang istilah tsunami sudah dipakai pada 1600-an, pengenalan istilah tsunami secara global baru terjadi sekitar 250 tahun kemudian.

Sebelum menyerap kata ini, kalangan ilmuwan di dunia barat menggunakan istilah lain dalam bahasa Inggris yang kerap dipakai. Seismic sea waves atau gelombang tinggi karena gempa. Istilah ini pun tak sepenuhnya tepat karena tsunami tidak hanya dipicu gempa bumi.

Setelah Scidmore dan Hearn, istilah tsunami mulai populer di dunia Barat. Istilah tsunami kemudian mencapai popularitasnya di dunia Barat setelah Hawaii diterjang tsunami pada 1 April 1946. Peristiwa ini dikenal sebagai April Fool’s Day tsunami. Setelah kejadian ini, Pacific Tsunami Warning Center didirikan di Hawaii pada 1949. Hingga awal 1960-an, istilah ”tsunami” belum digunakan di Indonesia.

Baca Juga : Banten Dilanda Gempa Bumi di Banten Magnitudo 7,4 – 18 Daerah Berpotensi Tsunami

Asal mula nama Tsunami

Tahun 1611, Sanriku pantai timur Jepang diguncang gempa, dua jam setelah gempa mengguncang laut tiba-tiba menyerbu daratan. Gempa itu tak menyebabkan kerusakan berarti, tetapi ombak tinggi telah mencipta kehancuran dahsyat dan menewaskan ribuan warga di pesisir Sendai.

Bencana yang diibaratkan daratan dipenuhi air laut dan menjadi lautan luas dikisahkan dalam ”Sumpuki,” Jumat, 2 Desember 1611. Catatan resmi pemerintah, Januari 1612. Kisahnya dimulai dari tiadanya upeti yang biasanya rutin dikirim Daimyo Sendai, Date Masamune (1566-1636), kepada Shogun Tokugawa Ieyasu (1542-1616).

Dari kawasan utara Honshu, Masamune biasanya mengirim hatsu tara, ikan kod terbaik di awal musim. Namun, pada Januari 1612 tak ada upeti yang dipersembahkan. Masamune hanya mengirim utusan yang mengabarkan bencana yang melanda Sendai di akhir tahun itu. Sebanyak 5.000 orang tewas di wilayah kekuasaan Masamune.

Sementara di Nambu- clan, wilayah Morioka dan Tsugaru, dilaporkan 3.000 orang tewas dan hilang. Sang utusan menyebut bencana itu sebagai tsunami (yo ni tsunami to yu’u). Tsu dimaknai sebagai ’pelabuhan’ dan nami bermakna ’gelombang’. Mengglobal Meski di Jepang istilah tsunami sudah dipakai pada 1600-an, pengenalan istilah tsunami secara global baru terjadi sekitar 250 tahun kemudian.

Comment

Berita Lainnya