Tri Atmo Penulis Kawakan, Pengungkap Sejarah Purbalingga

By: On: Dibaca: 122,424x
Tri Atmo Penulis Kawakan, Pengungkap Sejarah Purbalingga

triatmo

 

Sosok Tri Atmo lelaki kelahiran 5 Juni 1940 sangat dikenal oleh masyarakat Banyumas dan Purbalingga sebagai penulis kawakan. Walaupun sekarang, usianya tak lagi muda, namun ia masih terus menulis untuk menghasilkan karya yang bermanfaat bagi masyarakat.

Dari rumah yang sederhana, terletak di Kelurahan Bancar RT 01 RW 03 atau lebih mudahnya sebelah Timur SMP Negeri 2 Purbalingga, Jalan Letkol Isdiman Purbalingga,

Kakek dari delapan orang cucu ini ditemani sepeda motor warna merah keluaran tahun 1983, selalu rajin keluar rumah untuk bersilaturahmi mengunjungi para kerabat atau teman-temannya. Karena ia menyakini dengan membina tali silaturahmi akan membawa banyak manfaat, diantaranya akan muncul inspirasi sebagai bahan tulisan.

Pagi itu, Tri Atmo sengaja menyempatkan diri mengunjungi kantor Bisnis dan Iklan Karya Cipta Mandiri Grup, paying managemenTabloid Elemen dan lintas24.com di jalan Sekar Seroja 1 No 52 Perumahan Griya Abdi Kencana Purbalingga.

Ditemui oleh Pemimpin Redaksi Tabloid Elemen, Manager Promosi dan Iklan dan para reporter, Tri Atmo berbagi pengalaman hidup sebagai seorang jurnalis kepada para jurnalis yunior yang usia jauh dibawahnya.

Tri Atmo pun mengawali cerita berbagi pengalaman. Saat itu usianya masih 19 tahun, namun ia sangat tertarik pada dunia penulisan. Tekadnya untuk memperdalam pengetahuan ilmu jurnalistik dilakoni dengan mengikuti pendidikan jurnalis non formal Pro Patria Yogyakarta.

“Tugas seorang jurnalis tidak hanya menulis, tetapi juga melakukan analisis sekaligus mau memberikan sudut pandang yang mencerahkan masyarakat,”ungkap lelaki penggemar kopi hitam pahit ini.

Tri Atmo menyakini, menulis memiliki manfaat yang sangat besar, orang bijak sering mengatakan, “orang yang tidak akan pernah mati adalah seorang penulis”, kenapa demikian?, karena walaupun secara fisik mereka telah tiada, namun pemikiran dan gagasan-gagasan mereka yang tertuang dalam sebuah tulisan akan selalu menjadikan dia hidup kembali.

“Bung Karno (Presiden RI Pertama-red), Itu yang menginspirasi saya untuk terjun sebagai penulis atau bisa dikatakan wartawan lah,”ungkapnya.

Tahun 1962, ia memulai karir sebagai wartawan di kantor berita Antara Purwokerto yang berada di Kranji Muntang 32/8 Purwokerto. Dulu di Purbalingga hanya ada tiga orang wartawan, ia dan (alm) Tin Sudarto Guru ST tinggal di Purbalingga. Sedang satu orang lagi, namanya Sumartono dari Desa kalimanah di Koran Suara Pembaharuan dan tinggal menetap di Jakarta. Kalau di Purwokerto itu ada empat orang.

Tri Atmo selalu menggunakan jasa transportasi kereta api rute Purbalingga-Purwokerto saat akan berangkat bekerja ke Purwokerto.Ada kenangan tak terlupakan ketika ia akan berangkat bekerja dari halte (tempat pemberhentian-red) Kalimanah, saat itu agak sedikit terlambat dan kereta apipun sudah berjalan, tetapi masih kelihatan. Ia berteriak dan melambaikan tangan, masinis mendengar dan melihat lambaian tangannya.

“Keretanya berhenti, saya berlari mengejar kereta dan bisa ikut didalam gerbong. Aneh dan tak terlupakan,”kenang Tri Atmo.

 

Sesampainya di Purwokerto, Tri Atmo menggunakan inventaris sepeda onthel, ia berangkat untuk mencari narasumber sebagai bahan beritanya. Narasumber jauhpun harus dikunjungi untuk bertatap muka dan wawancara.

Dalam satu hari, Ia harus mencari 3-4 berita. Setelah mendapatkan berita selanjutnya harus menulis agar dapat dikirim ke Jakarta. Menulis beritanya menumpang di kantor pemerintahan dengan menggunakan mesin ketik yang suaranya bising saat ditekan. Kala itu belum ada komputer apalagi laptop. Mengetiknya harus selalu rangkap, yang satu untuk redaksi dan untuk arsip pribadi.

“Celakanya, kalau ada huruf yang salah, kata-kata atau kalimat dirasa kurang pas maka akan ganti kertas. Biar tidak boros kertas, hati-hati dalam mengetik, pikiran dan tangan harus selaras,”ungkap Tri Atmo.

Setelah selesai, naskah langsung dikemas dalam amplop dan dikirim ke kantor redaksi di Jakarta menggunakan Kereta Api jangan sampai ketinggalan.

Tri Atmo menjadi wartawan kantor berita Antara hingga tahun 1969. Selain itu ia juga tercatat sebagai wartawan Koran Nasional/ Suluh Marhaen untuk edisi terbitan Yogyakarta hingga tahun 1975. Intinya sama, peristiwa yang ditulis dalam naskah berita yang dikirimkan, tidak mungkin akan keluar esok harinya.

“Hari ini terjadi, tidak bisa hari ini tersaji. Paling cepat tiga hari kemudian,”kenang Tri Atmo.

Kemahiran menulisnya diakui oleh seluruh masyarakat Purbalingga. Pada tahun 1962-1964, Tri Atmo dipercaya sebagai pimpinan redaksi Panjuta Raya terbitan Pendidikan Masyarakat Purbalingga (sekarang Dinas Pendidikan-red). Saat itu Pemimpin Umumnya Maksoem Hardjoprayitno (baca profilnya di Tabloid Elemen edisi 3).

Tahun 1968, Jawatan Penerangan mempercayakan pembuatan buku cerita silat “Sotya Ludira”. Buku yang dicetak masih dengan mesin stensil bukan mesin offset, kertasnya juga masih buram belum putih mulus seperti kertas HVS saat ini.

“Sekitar 500 eksemplar dengan harga Rp 50,”kenangnya.

Penjualan perdana sukses, akhirnya ia diminta membuat jilid duanya. Tanpa ia duga penjualan juga laris manis. Namun, ia tidak meneruskan jilid ketiga, karena terkendala pemasukan uang dari penjualan buku itu.

Tahun 1967, Tri Atmo menikahi Sudiyah, delapan tahun kemudian ia mengundurkan diri dari Koran Suluh Marhaen. Namun, Lelaki kelahiran Bukateja Gendengan (selatan jembatan ke kedungjati) dan besar di Desa Kalimanah Wetan ini masih rajin menulis artikel berbahasa Jawa. Artikelnya ia kirimkan ke majalah Mekar Sari milik Kedaulatan Rakyat Yogyakarta.

Selain itu ia memulai menulis tentang sejarah yang dirasa sebagai tantangan yang menggelitik rasa keingintahuanya. Perjalanan panjangnya dalam mengumpulkan berbagai dokumen sejarah menuai hasil.

Tahun 1984, dia sukses menerbitkan buku berjudul “Babad dan Sejarah Purbalingga” yang diterbitkan oleh Pemerintah Daerah Tingkat (Dati) II Purbalingga.

Tahun 1991-1992, selama setahun ia mengumpulkan sejarah, penggalian datanya sampai ke Desa Merden kabupaten Banjarnegara. Tidak tahu dari mana asalnya, saat itu seakan-akan ada yang memerintahkan harus bertemu Kartinah. Ia terus mencari tahu siapa sebenarnya sosok Kartinah ini, melalui kerabatnya yang bernama Kadarisman, ia mendapatkan alamat rumahnya Kartinah di Jakarta.

“Ternyata, Kartinah adalah istri Jenderal Aryo Darmoko salah satu keturunan Arsantaka yang juga sekretaris Yayasan Supersemar saat itu,”ungkapnya.

Tahun 1993, naskah itu akhirnya dikirimkan ke Jakarta. Awalnya tidak ada tanggapan, dari telegram pertama yang diterimanya mengatakan, “belum mikirkan soal itu”. Namun ia kirim kembali naskahnya, dan jawaban telegram yang diterima mengatakan “tunggu saya akan membentuk panitia peneliti, satu minggu lagi saya kabari”.Setelah satu minggu kemudian, datanglah kurir dari Jakarta memberitahukan, agar ia menghadap ke Jakarta.

Dan akhirnya, ia diminta mencetak buku yang diberi judul “Mengenal Purbalingga” 1000 eksemplar. Buku sebanyak itu didistribusikan kepada angggota Paguyuban Arsa Kusuma, 45 buku untuk anggota DPRD Purbalingga periode 1992-1997, dan sisanya diserahkan Depdikbud Purbalingga (sekarang Dinas Pendidikan) untuk dijual kepada sekolah-sekolah melalui Tuwandi, Kasi Kebudayaan sebagai bahan bacaan tambahan pembelajaran.

Pada masa kepemimpinan Bupati Purbalingga Triyono Budi Sasongko, ia kembali dipercaya membuat buku berjudul “Kilas Sejarah Purbalingga” untuk menandai Hari Jadi Kabupaten Purbalingga ke-178 di akhir tahun 2008.

Di tahun 2013, Ia juga menyusun buku serupa dengan judul “Ki Arsantaka”  atas prakarsa Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Purbalingga. Dan tahun 2014, ia meluncurkan buku setebal 100 halaman dengan judul “Dablongan” yang diterbitkan oleh Purbadi Publishing milik Purbadi Hardjoprajitno salah satu putra daerah yang cukup sukses di Jakarta.

Mantan penyiar radio Tunggul Suara Dirgantara AM di Purbalingga ini juga berpesan kepada para jurnalis yunior di Tabloid Elemen, “menjadi jurnalis harus dibarengi panggilan hati, kepedulian terhadap nasib rakyat. Kerja jurnalis tidak sekedar bekerja dan mendapatkan uang”

Tulisan jurnalistik senantiasa dibutuhkan dari waktu ke waktu. Para jurnalislah yang mencatat sebuah peradaban dan sejarah, mereka turut mempengaruhi masyarakat agar berkeinginan berubah menuju kehidupan yang lebih baik.

“Setiap jamannya, jurnalis selalu mendapatkan tantangan.Tetapi mereka harus selalu eksis mempertahankan prinsip hidupnya. Para jurnalis mencerahkan masyarakat, bahkan harus menjadi pahlawan bagi rakyat yang dibelanya,”pesan Tri Atmo

Buku yang ditulis Tri Atmo :

Sotya Ludira cerita pencak silat diterbitkan oleh Jawatan Penerangan Purbalingga (1969), Babad dan sejarah Purbalingga diterbitkan Pemerintah Dati II Purbalingga (Pemda) Purbalingga (1992), Mengenal Purbalingga diterbitkan Pemerintah Dati II Purbalingga (Pemda) Purbalingga (1993), Dablongan, Penerbit Jakarta (2014), Ki Arsantaka dan Buku Purbalingga Dalam Legenda diterbitkan oleh Komunitas Pecinta Sejarah dan Budaya Purbalingga (2014). Dalam tahap penerbitan buku Mengenal Tokoh-tokoh Purbalingga. Artikel Badai di Kaki Gunung Slamet dimuat di Warta Bralink dan Derap Perwira.

Penghargaan yang diterima :

Penyiar Favorit di Radio Tunggul Suara Dirgantara 1999-2005. Piagam

Dari Pemkab Purbalingga sebagai penulis sejarah Purbalingga dan Mengenal Purbalingga (2010).

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!