Tradisi Begalan Banyumasan Hampir Punah

By: On: Dibaca: dibaca 164.13Rbx
Tradisi  Begalan Banyumasan Hampir Punah

Begalan merupakan budaya adat warisan leluhur yang sampai sekarang masih dilaksanakan oleh masyarakat Banyumas. Tradisi begalan biasanya dilaksanakan dalam rangkaian resepsi pernikahan jika yang dinikahkan adalah anak pertama dengan anak pertama, anak terakhir dengan anak terakhir, anak pertama dengan anak terakhir, dan anak tunggal dengan anak tunggal.

Seperti terlihat dalam prosesi pernikahan pasangan pengantin warga Buntu Banyumas belum lama.Pujiastuti merupakan anak pertama menikah dengan Aziz Priantoro yang merupakan anak terakhir.

Arsanawan (56) salah seorang pemain begalan menerangkan, dengan melakukan begalan pada waktu resepsi pernikahan, dipercaya dapat membawa kebaikan bagi pasangan pengantin ketika kelak mereka menjalani kehidupan rumah tangga. Seperti dihindarkan dari masalah berat dan juga dimudahkan rejekinya.

“Begalan biasanya diselenggarakan di rumah pihak mempelai putrid dan menjadi bagian dari adat yang dilakukan dalam rangkaian resepsi pernikahan, yang memiliki banyak makna dan pesan bagi masyarakat.”ungkap warga RT 03 RW 2 Desa Pageralang, Kemranjen Banyumas kepada lintas24.com.

Ia menambahkan, kata “Begalan” berasal dari bahasa Jawa, artinya perampokan. Dalam penyajiannya memang terjadi dialog sesuai dengan legenda yang berasal dari sebuah kisah pada waktu Adipati Wirasaba hendak mempersunting putri dari Adipati Banyumas di hari sabtu pahing. Layaknya seorang laki-laki yang akan mempersunting seorang istri, Adipati Wirasaba bersama rombongannya membawa pernak-pernik yang dibutuhkan dalam acara pernikahan. Namun di tengah perjalanan saat sampai di sebuah tempat, rombongan Adipati Wirasaba bertemu dengan garong atau rampok yang di Banyumas disebut begal.

Pertarungan pun tidak bisa dielakkan antara rombongan Adipati Wirasaba dengan begal (perampok). Pertarungan dimenangkan oleh rombongan Adipati Wirasaba dan rombongannya. Tempat terjadinya pertarungan kemudian diberi nama Sokawera, karena Adipati Wirasaba yang bertarung secara rawe-rawe rantas malang-malang putung.

Kemudian rombongan beristirahat sebentar di tengah hutan sambil memeriksa barang bawaan, dan ternyata barang yang dibawa itu kurang (long dalam bahasa banyumas). Sehingga tempat tersebut diberi nama Pegalongan. Dan ketika di tengah perjalanan hendak menyeberangi sungai, rombongan itu menemukan mayat dari perampok yang bernama Suradilaga. Tempat ditemukannya mayat dari perampok yang bernama Suradilaga, kemudian diberi nama Cindaga. Lalu perjalanan dilanjutkan sampai di tempat acara pernikahan, hingga pernikahan pun dapat terlaksana.

“Di dalam seni tradisi Begalan ada nuansa yang terkandung di dalamnya, yakni wejangan dari sesepuh selain di dalamnya terkandung pesan atau nasehat yang ditujukan kepada mempelai pasangan pengantin,”ungkap Arsanawan yang selalu berpasangan dengan Samingun (46).

Pria yang memiliki Sanggar Seni Karya Jati ini mengungkapkan, begalan merupakan kombinasi antara seni tari dan seni tutur atau seni lawak dengan iringan gending. Sebagai layaknya tari klasik, gerak tarinya tak begitu terikat pada patokan tertentu yang penting gerak tarinya selaras dengan irama gending.

Jumlah penari dua orang, seorang bertindak sebagai pembawa peralatan dapur dan seorang lagi bertindak sebagai pembegal/perampok. Barang-barang yang dibawa antara lain ilir, cething, kukusan, saringan ampas, tampah, sorokan, centhong, siwur, irus, kendhil dan wangkring. Barang bawaan ini biasa disebut brenong kepang.

“Pembegal biasanya membawa pedang kayu. Kostum pemain cukup sederhana, umumnya mereka mengenakan busana Jawa,”ungkapnya.

Mereka punya tugas yang berbeda. Salah satu mengantar peralatan dapur dengan sebuah pikulan yang disebut Bronong Kepang yang diikuti oleh rombongan mempelai pria menuju mempelai putri. Sedangkan salah seorang lagi menjaga mempelai putri, menyambut datangnya mempelai putra yang kelak menjadi pendamping hidup berumah tangga. Sesuai tugasnya, alat yang penjaga mempelai putri berupa pemukul, disebut Pedang Wira yang berfungsi memukul periuk. Periuk terbuat dari tanah liat berisi beras kuning.

Ketika periuk pecah dan penonton yang sebagian besar anak-anak mulai berebutan, maka pertanda berakhirnya pementasam tradisional Begalan. Menurut adat dan kepercayaan, beras dan isi berupa makanan berarti agar mendapat anak banyak, sehat lahir batin, selamat dunia akhirat.

Tri Daya Kartika (68) warga Purbalingga yang menjadi salah satu tamu undangan mengungkapkan, pementasan seni begalan waktu sekarang ini telah mengalami modifikasi sesuai dengan perkembangan jaman, namun pakem yang ada di dalamnya tetap dipertahankan.

“Mungkin, hal ini disesuaikan dengan kondisi masyarakat saat ini, yang sudah mulai berkurang kepercayaannya terhadap tradisi atau adat orang jawa.Ini dilakukan untuk menjaga eksistensi dari tradisi yang sudah mulai pudar di masyarakat.(Mahendra Yudhi Krisnha)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!