Tanam Padi Jarwo Salibu Diklaim Hemat Rp 3,5 Juta per Hektare

By: On: Dibaca: dibaca 106.77Rbx
Tanam Padi Jarwo Salibu Diklaim Hemat Rp 3,5 Juta per Hektare

Penanaman padi dengan sistem Sekali Tanam Panen Berkali-kali (Salibu)  diklaim mampu meningkatkan efisiensi cost pertanian dan efisiensi waktu penanaman.

Sistem tanam padi ini tanpa proses penyemaian dan tanpa pemindah tanaman ini mulai dirintis di Purbalingga

Untuk mulai memasyarakatkan sistem ini Dinas Pertanian (Dinpertan) Purbalingga  menggandeng Kerjasama Penelitian, Pengkajian, dan Pengembangan Strategis (KP4S) dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) dan Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (Balittoro) Kementan RI.

Ketua tim peneliti KP4S Unsoed Prof Ir Totok Agung Dwi Haryanto, menuturkan sistem ini sebelumnya telah diterapkan di Gandrungmanis, Kabupaten Cilacap dan hasilnya cukup menggembirakan.

“Kami ujicobakan dan hemat Rp 3,4 juta per hektarnya, karena sistem ini tidak perlu beli benih lagi setelah panen pertama, juga tidak perlu lagi olah tanah untuk penanaman kedua dan ketiga,” kata Totok dalam kegiatan Temu Lapang Kaji Terap Salibu Jarwo Super KP4S Unsoed – Balitbangtan bersama para kelompok tani di Balai Desa Karangtengah, Kecamatan Kalimanah, Senin (24 Juli 2017).

Untuk menerapkan Salibu ini menurutnya harus menggunakan benih tertentu, dan yang paling direkomendasikan adalah varietas Inpago yang memiliki kelebihan daya hasil tinggi, toleransi kekeringan, aromanya wangi dan nasinya lebih pulen.

Selain itu juga mennggunakan sistem tanam jajar legowo (Jarwo) 2-1 atau dua baris tanaman, satu baris kosong. Jarwo 2-1 ini dianggap strategi paling ideal agar tanaman padi mudah mendapatkan penyinaran, karbondioksida dan oksigen untuk tumbuh merata. Serta sarana penunjang lain yang organik, seperti biopestisida, biofertilizer dan  bioprotektor.

“Prinsip Salibu pasca pemotongan saat pemanenan pertama, tanah langsung dikeringkan sehingga anakan akan tumbuh dari bonggol lalu akan berakar kuat setelah diberi biofertilizer. Meskipun panenan kedua dan ketiga tidak sebanyak yang pertama, namun tetap tinggi dibandingkan cara konvensional,” katanya.

Ada beberapa capaian dari hasil evaluasi yang telah dilakukannya pada rintisan di Cilacap. Diantaranya hasil panen Masa Tanam Pertama (MT1)  mampu menghasilkan 10,5 ton per Ha. Pada MT 2 turun 35% atau menjadi 6,5 ton. Tahun ini akan diujicobakan ke MT 3 jika air mencukupi.

Dua Tahun 7 kali Panen

Melalui rintisan Salibu di Desa Karangtengah, Kalimanah itu Dinpertan Purbalingga menargetkan tahun ini ada sebanyak 300 hektar sawah yang mengadopsi sistim yang sama.

“Kami utamakan untuk diterapkan di 4 kecamatan yang memiliki suplai air cukup bagus seperti Kalimanah, Mrebet, Kutasari dan Bobotsari,” kata Kepala Dinpertan Purbalingga, Ir Lili Purwati.

Pihaknya juga cukup antusias dengan sistem ini, sebab di Sumatera Barat berhasil mengadopsi sistem ini dan menciptakan siklus 7 kali panen dalam 2 tahun, dibanding cara konvensional yang hanya 4 kali panen. Ia juga beritikad untuk melakukan studi banding ke tempat tersebut.(ganda gurniawan)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!