by

Taman Kanak-kanak di Purbalingga Jangan Gelar Tapka di Sekolah

-Pendidikan, Update-dibaca 11.80Rb kali | Dibagikan 49 Kali

Para Kepala, Guru Taman Kanak-kanak (TK) di Purbalingga diminta untuk tidak melakukan kegiatan pembelajaran Tatap Muka (Tapka) di sekolah. Pembelajaran TK akan dimulai setelah anak-anak Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah menyelenggarakan Tapka serta telah dinyatakan sudah aman dan kondusif, baru dua bulan berikutnya TK bisaTapka.

Pengawas Taman Kanak-kanak (TK), Bidang Kanak-kanak di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud) Purbalingga, Khomsiyatun Prihatiningsih menegaskan, hal ini menjadi tanggung jawab bersama antara sekolah dan orang tua siswa untuk tidak melaksanakan Tapka di TK.

“Pihak Sekolah, para guru, dan orang tua diharapkan untuk bersabar hingga keadaan kondusif. Apalagi kalau anak-anak TK  tidak berdomisili di sekeliling rumah. Misalkan yang lembaga atau yayasannya besar seperti lintas kecamatan, karena di kecamatan di Purbalingga pun ada yang zona merah. Dimohon untuk bersabar dan jangan coba-coba,” tegas Khomsiyatun Prihatiningsih kepada media siber lintas24.com, Selasa (25 Agustus 2020)

Ia menambahkan, sebelum melaksanakan tapka di sekolah. Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, diantaranya  mulai dari berembug dengan komite sekolah, pengisian angket, ceklis protokol kesehatan, surat keterangan dari keluarahan atau desa, hingga verifikasi resmi tim gugus tugas

“Semua itu harus dipenuhi. Banyak sekali syarat untuk menerapkan protokol kesehatan. Jika terpenuhi  dikhawatirkan jika anak ada yang terpapar akan menjadi tanggung jawab sekolah,” ungkapnya

Ia menambahkan, pembelajaran saat ini bisa dilakukan dalam jaringan (daring). Namun, jika ada orang tua siswa yang kesulitan dan tidak memiliki fasilitas daring, Guru dengan seizin orang tua akan melakukan home visit dari rumah ke rumah, yaitu mengunjungi secara langsung ke kediaman siswa.

“Syarat mutlaknya adalah diizinkan oleh orang tua. Setelah itu baru guru dapat melakukan home visit,” ungkapnya

Khomsiyatun menjelaskan, bahwa hal itu bisa dilakukan supaya orang tua tidak terbebani saat di rumah, karena tidak semua orang tua bisa mengajarkan anaknya. Jika orang tua belum paham, Guru diimbau untuk membuat video tutorial belajar-mengajar.

“Sistem belajar ini memanfaatkan rumah sebagai media pembelajaran, di halaman rumah, di dapur, semua yang ada di rumah jadi bahan ajar mengajar . Sekali lagi ditegaskan kepada pihak sekolah dan Guru untuk bersabar dalam kondisi ini dan tidak coba-coba menerapkan Tapka di sekolah,” tambahnya.

Editor : Rizky Riawan Nursatria

Comment

Berita Lainnya