TACB Purbalingga Temukan Batu Yoni Raksasa

By: On: Dibaca: dibaca 14.55Rbx
TACB Purbalingga Temukan Batu Yoni Raksasa

Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga Senin 31 Oktober 2017 kemarin menemukan batu peninggalan sejarah yang diduga kuat sebagai Yoni di Dusun Brengkol, Desa Pengalusan, Kecamatan Mrebet, Purbalingga.

Penemuan ini dilakukan ketika TACB tengah melakukan penijauan benda-benda cagar budaya yang ada di desa tersebut untuk dilakukan kajian. Peninjauan ini dilakukan oleh 3 orang TACB yang masing-masing membidangi, sejarah, teknik arsitek dan filsafat.

Semula peninjauan dilaksanakan ke Situs Altar Pemujaan Purbakala yang ada di Dusun Brengkol. Namun salah satu perangkat Desa Pengalusan, Samyono selaku pemandu jalan juga menunjuki adanya batu lain yang letaknya tidak jauh dari situs tersebut dan memiliki bentuk menarik namun belum tercatat oleh pemerintah.

“Batu ini oleh masyarakat dikenal nama Batu Pengilon. Padahal pengilon sendiri artinya adalah cermin, saya sendiri tidak tahu asal usul penamaan tersebut,” kata Samyono yang juga sebagai Kepala Dusun I ini.

Setelah dicek, TACB sementara berkesimpulan batu tersebut merupakan Yoni. Ganda Kurniawan, selaku TACB Kabupaten Purbalingga yang membidangi sejarah menuturkan ada beberapa ciri arkeologis yang menguatkan bahwa batu tersebut merupakan Yoni.

Diantaranya bentuk batu kubus simetris dan ramping pada bagian tengahnya. Salah satu sisi kubus juga terdapat moncong yang juga dibentuk secara simetris atau biasa disebut dengan bagian : cerat.

“Bentuknya yang simetris dan terpola persis dengan Yoni pada umumnya, bisa dipastikan batu ini merupakan hasil kebudayaan manusia masa lampau. Meskipun sudah terpola membentuk Yoni, namun nampaknya proses pemahatan belum dilakukan sempurna,” kata Ganda Kurniawan saat peninjauan berlangsung.

Ia menambahkan ada beberapa bagian Yoni yang belum terpahat sempurna, diantaranya permukaan atas yang belum diberi lubang persegi sebagai pelinggih Lingga. Garis pengarah air pada bagian cerat juga belum dipahat. Bagian bawah moncong cerat yang biasa dipahatkan binatang mitologi seperti ular Kobra, Naga atau sosok Gana juga belum dibentuk.

“Bisa diperkirakan pemahat batu Yoni ini belum sampai pada tahap finishing,  maka bisa kami sebut ini adalah ‘Batu Calon Yoni’. Ada beberapa alasan mengapa batu calon Yoni ini tidak terselesaikan, diantaranya faktor alam (bencana), sosial, politik atau hal lain diluar perkiraan zaman sekarang,” ujarnya.

Batu calon Yoni kali ini bisa dibilang cukup besar atau raksasa dibanding Yoni pada umumnya yang ditemukan di Purbalingga. Luas sisi atas batu calon Yoni di Desa Pengalusan ini adalah 100 x 100 cm, dengan cerat sepanjang 40 cm; dibandingkan Yoni di Desa Kedungbenda hanya berukuran 74 x 72 cm dengan panjang cerat 21 cm; atau Yoni di Desa Panusupan berukuran 54 x 54 cm dengan panjang cerat 18 cm. Secara geografis batu ini terletak di atas batu besar di kaki perbukitan terjal.

Ganda menjelaskan, Yoni merupakan peninggalan sejarah yang cukup familier di tanah Jawa sebagai peninggalan zaman Hindu-Budha yakni berkisar abad 8 – 15 Masehi.

Yoni biasa dipasangkan bersama Lingga sebagai salah satu benda sakral agama Hindu Siwaisme, yakni untuk memuja Dewa Siwa (dalam simbol Lingga) dan Parvati atau Isteri Siwa (dalam simbol Yoni). “Ditemukannya beberapa benda Siwaistis ini di Purbalingga menunjukan bahwa penganut Hindu di Purbalingga dahulunya beraliran Siwaisme. Mengingat bersejarahnya benda ini, maka akan kami catatkan ke Dinas Pendidikan dan Kebudayaan  (Dindikbud) Purbalingga untuk nantinya dilindungi,” katanya.

Sementara Kepala Seksi Cagar Budaya, Museum dan Kesejarahan Dindikbud Purbalingga, Rien Anggraeni  mengatakan pihaknya siap menerima masukan dari TACB dalam hal pencatatan dan pengkajian benda yang diduga cagar budaya. “Nantinya setelah TACB menyusun dokumen kajian benda tersebut, segera direkomendasikan ke bupati untuk ditetapkan sebagai cagar budaya,” katanya. (yoga tri cahyono)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!