by

Suharsiyah, S.Pd – Guru Kelas 1 SD Negeri 1 Brecek – Tak Ada Istilah Belajar Terlalu Dini

-Inspirasi-dibaca 114.83Rb kali | Dibagikan 26 Kali

suha

 

Sejak balita, anak mulai membangun kecerdasan verbal dan menulis. Pertanyaan yang sering diajukan orangtua adalah berapa usia yang ideal untuk mengajari si buah hati membaca dan menulis.

Suharsiyah, S.Pd mengungkapkan, orang tua perlu memperhatikan apabila anak terlambat berbicara pada usia satu tahun. Di usia ini, anak mulai memperlihatkan kemampuan bahasa termasuk menulis. Jika berlanjut, orangtua perlu mengajari anak yang terlambat secara lebih terfokus.

“Bila anak termasuk terlambat berbicara, sebaiknya orang tua fokus untuk mengajari anak berbicara satu bahasa dulu. Tapi, kalau perkembangan anak sesuai tahapan perkembangan linguistik, orang tua bisa memasukkan dua bahasa atau bilingual untuk mereka kuasai,” ujar Suharsiyah.

Suharsiyah menambahkan, sebenarnya membaca, menulis, dan berhitung (calistung) baru mulai diajarkan pada tahun pertama sekolah dasar. Saat itu usia masuk SD yang berlaku secara luas adalah 6,5-7 tahun.

“Pada tahun pertama SD, makin banyak kata yang dibaca oleh anak. Anak mulai dapat mengenali kata tanpa harus mengeja terlebih dahulu dan mengerti makna,”ungkap Guru kelas 1 SD Negeri 1 Brecek kepada eleman dan lintas24.com.

Suharsiyah menyakini, makin banyak kata dan kalimat yang telah dibaca oleh anak pada usia ini, maka akan memperluas kosakata dan pengetahuannya tentang dunia di sekitarnya.

“Pada akhir masa ini, biasanya anak sudah dapat membaca sendiri dengan lancer,”ungkap Istri dari Suminto Kepala UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Bobotsari Purbalingga.

Ia menambahkan, adakah kata terlalu dini untuk belajar calistung?Tidak pernah ada istilah terlalu dini untuk belajar, selama aktivitas yang diberikan sesuai dengan usia dan tahapan perkembangan anak. Sebaiknya kita tidak memaksakan anak untuk menguasai keterampilan yang berada di atas tahapan yang sudah dicapainya.

“Ingatlah,  bahwa setiap anak memiliki waktu dan kecepatan tersendiri untuk belajar; tahapan perkembangan yang dicapai satu anak tidak dapat dibandingkan dengan anak lainnya. Selain itu, belajar harus tetap menyenangkan untuk anak,”ungkapnya. (ali mas’udi)

Comment

Berita Lainnya