Sosis Sabu, Cara Efektif Meningkatkan Gerakan Literasi Sekolah – Oleh : Sri Sulastri, S.Pd, Kepala SMP N 1 Kemangkon Purbalingga

By: On: Dibaca: 54,515x
Sosis Sabu, Cara Efektif Meningkatkan Gerakan Literasi Sekolah – Oleh : Sri Sulastri, S.Pd, Kepala SMP N 1 Kemangkon Purbalingga

Literasi sekolah dalam konteks GLS merupakan kemampuan mengakses, memahami, dan menggunakan sesuatu secara cerdas melalui berbagai aktivitas, antara lain membaca, melihat, menyimak, menulis, dan/atau berbicara.

Sedangkan GLS merupakan sebuah upaya yang dilakukan secara menyeluruh untuk menjadikan sekolah sebagai organisasi pembelajar yang warganya literat sepanjang hayat melalui pelibatan publik. Untuk itu, gerakan ini harus didukung penuh karena tujuannya yang sangat mulia dalam menumbuhkembangkan budi pekerti peserta didik di dalamnya.

Dalam prakteknya, masih sering kita jumpai bahwa gerakan literasi sekolah bersifat musiman. Banyak kegiatan yang dilaksanakan berdasarkan proyek, dalam artian kegiatan terlaksana dengan baik selama proyek itu berlangsung, tapi pada saat proyek dan dana terhenti, kegiatanpun berhenti pula.

Fakta yang lain adalah ketika pada awal tahun dimana perencanaan kegiatan baru dibuat, semua stake holder di sekolah melaksanakan GLS dengan semangat, namun ditengah perjalanan mulai surut, dan pada akhir tahun nyaris berhenti total.

Kondisi semacam itu kalau terjadi di semua sekolah dan terus menerus dapat mengakibatkan gerakan literasi sekolah menjadi macet dan bertolak belakang dengan harapan pemerintah yang berupaya untuk menghidupkan budaya literasi di semua jenjang pendidikan.

Seharusnya, literasi menjadi “basic tool” (alat dasar pembelajaran) sehingga tidak perlu dijadikan beban dalam berliterasi. Arti kata yang melekat dan bermakna terkait dengan literasi menurut KBBI merupakan sesuatu yang digambarkan bahwa literasi dan pembelajaran adalah hal yang saling terkait dan tidak bisa dipisahkan.

Untuk itu literasi di sekolah harus disadari betul sebagai hal yang penting, yang bisa mendukung pembelajaran sepenuhnya. Berbagai kegiatan pembiasaan dilaksanakan di sekolah, seperti membaca lima belas menit sebelum pelajaran, berbagai lomba literasi, lomba menulis pada saat jeda semester, dll. Namun seringkali hasilnya masih di bawah target dan jauh dari harapan.

Salah satu cara untuk meningkatkan dan memberikan motivasi kepada peserta didik terkait dengan GLS adalah Sosis Sabu ( Satu orang siswa satu buku). Sosis sabu dilaksanakan dengan cara pembiasaan dan pengembangan.

Pada tahap pembiasaan yang bertujuan menumbuhkan rasa cinta membaca di kalangan peserta didik, yaitu melakukan pembiasaan membaca selama 30 menit sebelum kegiatan pembelajaran dimulai, dengan kata lain peserta didik harus hadir di sekolah pukul 07.30 karena pembelajaran dimulai pada pukul 07.00.

Walau prinsipnya tidak ada tagihan secara akademik, tetapi sekolah menyediakan jurnal peserta didik atau buku catatan kemajuan membaca untuk diisi secara jujur dan berkelanjutan dalam setiap membaca buku dan mensukseskan program sosis sabu. Ada target yang harus dicapai oleh peserta didik, yakni satu orang peserta didik  menyelesaikan membaca satu buku dalam 5 hari.

Kegiatan membaca yang dilaksanakan juga dalam bentuk membaca bermakna, dimana siswa dituntut untuk memahami isi bacaan dan ada tagihan pengembangan aktivitas membaca tersebut. Sudah terbukti bahwa dengan melaksanakan program ini di sekolah, pembiasaan membaca sudah bisa tertanam di keseharian peserta didik. Dan jika terus berlanjut, akan berdampak positif untuk peserta didik tersebut.

Pada tahapan pengembangan yang bertujuan pengembangan minat baca untuk meningkatkan kemampuan literasi secara digital dan non digital,  peserta didik kita tantang selain membaca juga wajib membuat review buku yang telah dibacanya. Pada tahap ini, sekolah membuat jadwal pengembangan dimana peserta didik menceritakan review buku yang dibaca pada minggu tersebut kepada teman-teman di kelasnya.

Kegiatan ini bisa dilakukan dengan cara team pair share, dimana satu peserta didik  menceritakan kepada satu teman. Hal ini sangat efektif dimana kemampuan berbicara, kemampuan menyimak, dan transfer knowledge berjalan secara beriringan. Terlebih ketika ada berbagai chalenge diluncurkan dari sekolah, seperti pemilihan duta literasi, akan membuat peserta didik antusias dan semakin semangat.

Di lingkungan sekolah, kepala sekolah dalam hal ini sebagai leader bisa membuat perencanaan program, mengalokasikan anggaran, menambah koleksi bahan pustaka, memfasilitasi kegiatan dan memberikan reward bagi peserta didik yang melaksanakan kegiatan sosis sabu dengan baik.

Fungsi guru sebagai garda terdepan juga sangat besar pengaruhnya untuk mensukseskan gerakan literasi sekolah dengan metode sosis sabu. Guru dapat berperan dalam membangkitkan energi literasi kepada peserta didik dengan keteladanan. Memberikan motivasi dan kesadaran pentingnya budaya literasi kepada peserta didik bukanlah persoalan mudah yang bisa dilakukan setiap guru.

Dalam gerakan sosis sabu ini guru dapat memainkan peran utamanya. Guru sebagai designer of instruction atau perancang pengajaran karena memiliki kemampuan untuk merencanakan kegiatan sosis sabu secara efektif dan efisien.

Oleh karena itu guru harus memahami tahap perkembangan literasi peserta didik dan menerapkan program literasi secara berimbang, memilih strategi pembiasaan dan pembelajaran literasi yang tepat sesuai kebutuhan perkembangan mereka.

Peran guru berikutnya adalah guru sebagai manajer of instruction (pengelola pengajaran), memiliki kemampuan mengelola seluruh proses pembiasaan dan pengembangan dalam gerakan literasi sekolah dengan menciptakan kondisi-kondisi kegiatan yang menarik sehingga setiap peserta didik dapat melakukan aktivitas membaca dengan tenang dan nyaman.

Perlu pembiasaan sejak dini serta pemberian bahan bacaan yang menarik agar gerakan satu orang siswa satu buku ini bisa sukses. Oleh karena itu, alokasi anggaran sekolah untuk mendukung program Sosis Sabu guna meningkatkan gerakan literasi sekolah perlu disesuaikan dan mendapat perhatian.

Aktivitas membaca yang dilakukan pun harus disesuaikan dengan tingkat psikologi perkembangan peserta didik. Jika sistematika sederhana tersebut dilakukan oleh peserta didik, mudah-mudahan gerakan literasi sekolah dapat berjalan lancar dan sesuai dengan harapan pemerintah Indonesia dan harapan sekolah pada khususnya.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!