Soal Bayi Kembar BBLR Wabup Prihatin dan Minta Aparat Kecamatan Punya Rasa Memiliki

By: On: Dibaca: dibaca 34.17Rbx
Soal Bayi Kembar BBLR  Wabup Prihatin dan Minta Aparat Kecamatan Punya Rasa Memiliki

wabup sidak di kec bojongsari2

Menyusul kejadian  bayi kembar dengan kondisi BBLR (Berat Bayi Lahir Rendah) dari keluarga tidak mampu, Wakil Bupati Purbalingga Dyah Hayuning Pratiwi, SE, B.Econ meminta agar aparat di Kecamatan mulai dari camat hingga jajaran di desa agar peduli dengan lingkungannya. Aparat harus memiliki rasa sense of belonging atau rasa memiliki yang bersifat aktif.

            “Saya prihatin sekali ketika menjumpai bayi dalam kondisi seperti itu.  Rumahnya jauh dari jalan raya, harus naik turun jalan setapak. Tempat tinggalnya juga sangat tidak layak. Rumah itu bercampur dengan kandang ayam, lantainya tanah, dan atapnya seadanya. Kalau hujan bocor disana-sini. Ini mestinya sudah bisa teratasi dengan program  RTLH (Rumah Tidak Layak Huni) tahun 2016 lalu,” kata Wabup Dyah Hayuning Pratiwi saat melakukan sidak (Inspeksi mendadak) di kantor Kecamatan Bojongsari, Kamis (26/1) pagi.

Sebagai seorang ibu, lanjut Wabup Tiwi, dirinya tidak bisa membayangkan ketika dalam kondisi hamil, ibu itu harus naik turun jalan setapak yang melelahkan. “Saya sangat prihatin sekali, ada warga seperti ini, namun luput dari perhatian pihak desa dan pihak terkait lainnya. Jika ada rasa peduli dari desa setempat, maka bayi lahir yang sudah berumur 1,5 bulan ini tidak sampai mengalami kondisi begitu.  “Pihak desa dan kecamatan mestinya responsive, dan segera membawanya ke rumah sakit. Jika tidak bisa dibiayai oleh pihak rumah sakit, nanti saya yang membiayai,” ujar Wabup Tiwi.

Wabup mengungkapkan, sesaat setelah menerima laporan soal bayi kembar dalam kondisi kritis dari keluarga tidak mampu, pihaknya kangsung berniat ke lokasi. Wabup berusaha mengontak camat Bojongsari (Sulistiyarno-red), namun handphone tidak aktif. Begitu pula mencoba mengontak kepala desa Bumisari, namun mengatakan jika masih ada keperluan ke kota. Jadi saya akhirnya dating sendiri ke lokasi tanpa ditemani petugas dari kecamatan dan desa,” tutur Wabup.

Wabup menambahkan, jika ada rasa sense of belonging dari aparat di desa dan kecamatan, maka kejadian seperti itu bisa tertangani lebih dini. Rasa sense of belonging itu diwujudkan dalam bentuk inisiatif, keberanian mengambil tanggungjawa dan resiko serta keinginan untuk berbagi. “Saya minta kepada semua yang di wilayah, sesuai dengan salah satu agenda kami bersama bapak bupati yakni agenda sosial, maka seorang aparat harus pduli dengan lingkungannya. Jika ada kejadian seperti tersebut, maka bisa dengan cepat tertangani,” ujar Wabup.

Seperti diberitakan sebelumnya, Wabup Dyah Hayuning Pratiwi harus membawa sendiri seorang bayi perempuan bernama Dina (1,5 bulan) dari rumah warga karena kondisinya memprihatinkan. Bayi itu lahir dalam kondisi berat badan yang dibawah normal. Bayi kembar yang diberinama Dino (laki-laki) dan Dina (perempuan) tersebut merupakan anak kedua dari pasangan Masuni dan Rusiati warga  RT 24 RW 14 Desa Bumisari, Kecamatan Bojongsari. Masuni hanya bekerja sebagai buruh bangunan dan merantau ke Jakarta, sementara Rusiati hanya ibu rumah tangga. Dengan kondisi yang serba terbatas, Rusiati menghidupi tiga anak dan ibunya tanpa penghasilan tetap.

Kepala Dinas kesehatan Drg Hanung Wikantono, MPPM telah memerintahkan kepada seluruh kepala Puskesmas termasuk kepala Puskesmas Bojongsari untuk melakukan pemantauan kesehatan warganya. Libatkan kader kesehatan di desa, dan jangan sampai ada warga yang kurang mampu tidak bisa menerima pelayanan kesehatan yang layak seperti warga lainnya. “Jika ada kejadian seperti BBLR, mestinya sudah terpantau sejak sang ibu mengandung. Dan jika ada kesulitan mengatasi persoalan di lapangan, laporkan ke dinas agar diambil tindakan secepatnya. Jangan sampai, kepala Puskesmas kalah cepat melaporkan,” kata Hanung.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!