SMAN 1 Kutasari Daur Ulang Barang Bekas Jadi Bernilai Ekonomis

By: On: Dibaca: 18,042x
SMAN 1 Kutasari Daur Ulang Barang Bekas Jadi Bernilai Ekonomis

Siswa-siswi SMA Negeri 1 Kutasari melakukan upaya terobosan-terobosan kreatif untuk menanggulangi masalah sampah ataupun barang tak terpakai.

Ratusan hasil karya mereka pada Sabtu (27 Januari 2018) dipamerkan di sekolahnya kepada publik. Aneka barang remeh-temeh dibentuk menjadi barang yang kembali memiliki fungsi dan nilai.

Ketua Panitia Pameran Produk Daur Ulang SMAN 1 Kutasari, Bambang Yuniarto, SPd menuturkan sebelumnya siswa diberi dorongan-dorongan ide untuk mengolah kembali barang bekas atau sampah anorganik untuk dikreasikan.

“Setelah para siswa mampu berkreasi, kali ini kami memberi kesempatan kepada mereka untuk mempertunjukan hasil karya mereka dan mudah-mudahan menjadi inspirasi kepada publik dari hasil karya mereka,” sambungnya saat ditemui cyber media Lintas24.com dan Tabloid Elemen.

Berbagai hasil karya yang dihasilkan diantaranya lampu tidur dari benang, tirai CD, tempat tisu, bunga plastik, bingkai foto dari seni kardus, aneka lampion, vas bunga dari botol, tempat pensil dari buku bekas, tas dari bungkus kopi, tas dari rangkaian bibir gelas air mineral, lampu tidur dari pipa paralon bekas dan lain sebagainya.

Bambang merinci dari 19 stand yang ada, sebanyak 12 stand merupakan hasil karya siswa-siswi kelas X dan XI dengan jumlah 352 produk. Satu stand khusus dari sekolah sebanyak 11 produk. Selain itu diberi ruang pula sebanyak 6 stand untuk memamerkan karya daur ulang dari pihak umum masyarakat sebanyak 84 produk. Sehingga tota ada 445 produk.

“Kami perlu memasukan hasil karya dari pihak luar atau non siswa. Tujuannya agar menambah pengetahuan baru bagi siswa,” ujarnya.

Diantaranya melibatkan karya hasil daur ulang oleh Bank Sampah Sahabatku Desa Muntang, Bank Sampah Maju Jayauntuk produk sampah organik, Bank Sampah Jelita Desa Jetis berupa paving plastik, Titi Collection untuk tas dari bungkus kopi, Nanang Collection untuk patung dari limbah kayu dan karya dari kaum difabel Purbalingga berupa kesed dari kain perca.

Pameran ini cukup ramai dikunjungi publik, diantaranya ibu-ibu PKK, para direktur bank sampah, kepala desa di lingkungan Kecamatan Kutasari, komite sekolah dan pejabat dari Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Purbalingga. Bambang berharap dari kegiatan ini siswa SMAN 1 Kutasari menjadi lebih arif dalam mensikapi sampah dan lebih bijak untuk mengolahnya.

“Bahkan lebih dari itu, siswa juga bisa menemukan ide-ide kreatif untuk  berwirausaha, melalui pengolahan barang bekas atau sampah menjadi barang yang memiliki nilai jual,” kata bapak yang juga mengajar mapel Fisika ini.

Pameran sekaligus wujud pembiasaan mendaur ulang sampah ini, kata Bambang juga turut menciptakan Sekolah Adiwiyata, yakni sekolah yang peduli lingkungan dan nyaman. Gagasan ke depan, pihaknya juga akan menyediakan sarana dan prasarana pengolahan untuk sampah organik menjadi pupuk.

Barang Bekas Jadi Bernilai Ekonomis

Di antara barang yang di pamerkan dalam Pameran Produk Daur Ulang Sampah juga ada beberapa yang dibeli oleh pengunjung, salah satunya yakni lampu tidur dari benang. Produk ini merupakan hasil pelatihan siswa oleh Limbah Pustaka Desa Muntang, Kecamatan Kemangkon.

Salah satu siswa perwakilan kelas X Mipa 1 selaku perancang lampu tidur dari benang, Gilang Priambodo  mengatakan lampu tersebut teknis pembuatanya tidak terlalu sulit. Cukup menyediakan bahan balon, benang jahit atau nylon, lem kayu, kain flanel, bohlam dan fitting lampu dan dudukan dari busa. Setelah dikreasikan bisa menjadi penutup lampu yang bisa dihias menjadi ikon kepala yang lucu dan menarik.

“Biaya produksi hanya sekitar Rp 20 ribu dan layak dijual seharga Rp 40 ribu,” kata Gilang.

Ia menambahkan, secara umum fungsi lampu tersebut sebagai lampu tidur mengingat membuat suasana cahaya menjadi lebih redup. Hasil kreasi dalam pameran yang tidak kalah menariknya yaitu lampu tidur dari pipa paralon, yakni potongan pipa berukuran besar dijadikan selubung lampu kemudian permukaannya diukir menggunakan solder sehingga terbentuk seni yang artistik. (ganda Kurniawan)

 

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!