by

Siswa SD di Purbalingga Belum Laksanakan KBM 13 Juli 2020. Tatap Muka Paling Cepat September

-Pendidikan, Update-dibaca 8.55Rb kali | Dibagikan 69 Kali

Kepala Bidang (Kabid) Pembinaan Sekolah Dasar (SD) Dinas Pendidikan dan Kebuadayaan (Dindikbud) Kabupaten Purbalingga, Agustinus Indradi memastikan kegiatan belajar mengajar (KBM) belum dilaksanakan tepat pada awal tahun pelajaran baru.

Jenjang sekolah dasar (SD) masih menunggu tatap muka. Saat benar- benar Kabupaten Purbalingga masuk zona hijau terkait wabah Covid-19, masih harus ada persiapan.

“Awal tahun pelajaran baru itu 13 Juli 2020. Namun, untuk jenjang SD masih menunggu petunjuk Bupati. Paling cepat September untuk persiapan KBM tatap muka atau mungkin bisa sampai akhir tahun,” ungkapnya kepada cyber media lintas24.com, Kamis (2 Juni 2020).

Jika masih zona merah lanjutnya, tetap KBM di rumah. Pihaknya mendasarkan pada surat edaran menteri Nomor 15 Tahun 2020, terkait tata laksana KBM selama pandemi Covid-19.tidak mungkin ada sekolah yang berani membuka diri untuk memulai KBM tatap muka. Pasalnya, informasi mengenai mekanisme pembelajaran selama Pandemi, sudah disosialisasikan oleh masing- masing Korwil.

“Jadi tidak akan berani ada sekolah yang diluar aturan. Kalau berani, akan bisa menanggung jika ada potensi timbul kluster baru. Saya yakin tidak ada sekolah yang berani melanggar aturan,” tegasnya,

Ia menjelaskan, mekanisme belajar di rumah juga dilakukan tidak semuanya daring. Hanya siswa kelas bawah, yaitu kelas 1,2,3 tidak memungkinkan menggunakan belajar model daring. Mereka akan dibekali modul buku pendamping belajar dan latihan soal atau tes.

“Anak akan dipandu belajar dari rumah. Jadi guru kelas tetap aktif membimbing bersama dengan orang tua,” tambahnya.

Ia menambahkan, saat penentuan menjadi zona hijau, misalnya September, maka sebelum September, Juli, Agustus, September harus dilakukan belajar di rumah dan sudah ada petunjuknya. Saat benar- benar masuk zona hijau, peserta didik bisa memulai pembelajaran tatap muka dengan sistim bertahap.

“Tidak sekaligus semuanya berangkat sekolah satu kelas penuh. Kemudian di zona merah tetap melanjutkan belajar dirumah. Namun saat ada penambahan kasus/ level risiko daerah naik, satuan pendidikan wajib ditutup kembali,” tuturnya.

Comment

Berita Lainnya