by

Sekolah Ingin Gelar Pembelajaran Tatap Muka. Mendikbud Minta Semuanya Taati 5 Protokol Kesehatan Ini

-Pendidikan, Update-dibaca 2.83Rb kali | Dibagikan 12 Kali

Jika sekolah ingin melaksanakan pembelajaran tatap muka mulai semester genap tahun ajaran 2020/2021, maka Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim meminta sekolah yang melakukan pembelajaran tatap muka harus memenuhi protokol kesehatan.

“Pembelajaran tatap muka tidak sama seperti melaksanakan pembelajaran sekolah seperti biasa. Banyak sekali mispersepsi bahwa kalau kita melakukan pembelajran tatap muka, bahwa itu seperti sekolah biasa, ini tidak benar,” kata Nadiem pada Kamis (20 November 2020) lewat akun YouTube Kemendikbud RI.

Dalam acara virtual bertajuk “Pengumuman Penyelenggaraan Pembelajaran Semester Genap TA 2020/2021 di Masa Pandemi Covid-19”, Nadiem juga meminta bantuan kepada pemerintah daerah ( pemda) untuk mensosialisasikan hal ini kepada sekolah-sekolah.

“Mohon bantu disosialisasikan di masing-masing daerah bahwa kalaupun sekolah itu sudah memenuhi semua kriteria dan check list untuk melaksanakan pembelajaran tatap muka, protokol kesehatan yang ketat harus masih dilaksanakan,” tegasnya.

Nadiem merinci, ada lima protokol kesehatan pada masa transisi. Pertama, kondisi kelas Semua sekolah harus memenuhi jumlah maksimal peserta didik di ruang kelas dengan kapasitas 50 persen dari rata-rata. Untuk Pendidikan Anak Usia Dini ( PAUD): 5 orang dari standar 15 peserta didik, Pendidikan dasar dan menengah: 18 orang dari standar 36 peserta didik, Sekolah Luar Biasa ( SLB): 5 orang dari standar 8 peserta didik 2.

Kedua, jadwal pembelajaran yakni dengan cara memotong kapasitas kelas menjadi maksimal 50 persen dan melakukan jadwal pembelajaran dengan sistem bergiliran rombongan belajar atau shifting, maka sekolah dapat menjaga jarak minimal 1,5 meter sebagai bentuk perbatasan sosial (social distancing).

“Jadwal pembelajaran untuk menentukan giliran belajar dapat satuan pendidik tentukan masing-masing,” katanya.

Ketiga lanjutnya, perilaku wajib dalam melakukan pembelajaran tatap muka, seluruh warga satuan endidikan harus menerapkan empat perilaku wajib di bawah ini. Menggunakan masker kain tiga lapis atau masker sekali pakai / masker bedah.

“Cuci tangan pakai sabun dengan air mengalir atau menggunakan hand sanitizer. Menjaga jarak minimal 1,5 meter dan tidak melakukan kontak fisik. Menerapkan etika batuk atau bersin,” ungkapnya.

Kemudian keempat imbuh Mendikbud, kondisi medis warga satuan pendidikan Pastikan tidak ada yang memiliki gejala Covid-19, termasuk pada orang yang serumah dengan warga sekolah. Selain itu, warga satuan pendidikan harus sehat dan tidak mempunyai komorbiditas atau penyakit penyerta. Tidak ada aktivitas berkerumun  Nadiem menekankan ini sebagai salah satu poin penting untuk mencegah penularan Covid-19 di sekolah.

“Tidak diperkenankan kegiatan-kegiatan yang berkerumun. Artinya kantin tidak diperbolehkan beroperasi. Kegiatan olahraga dan ekstrakulikuler tidak diperbolehkan untuk dilakukan,” tegasnya.

Ia mengaskan, tidak boleh ada aktivitas lain di luar Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) seperti orangtua menunggu siswa di sekolah, istirahat di luar kelas, dan pertemuan orangtua murid.

“Untuk menyimpulkan semuanya, pesan terpenting adalah pembelajaran tatap muka bukan kembali ke sekolah seperti normal. Maka dari itu, Saya meminta tolong kepada dinas, pemda, serta gugus tugas daerah untuk memastikan protokol kesehatan ini terjaga saat sekolah melakukan pembelajaran tatap muka,” ungkapnya.

Comment

Berita Lainnya