Sapu Sorgum Purbalingga Rambah Korea Selatan

By: On: Dibaca: dibaca 38.60Rbx
Sapu Sorgum Purbalingga Rambah Korea Selatan

Pengrajin sapu di Desa Karanggambas Kecamatan Padamara Kabupaten Purbalingga kini sudah tidak lagi menggunakan bahan dari tumbuhan glagah sebagai bahan bakunya, melainkan mulai menggunakan batang tumbuhan sorgum atau gandum. Hal ini dilakukan sebagai upaya setrategi berbisnis dan mengurangi ketergantungan bahan baku glagah yang mulai termonopoli oleh tengkulak.

Bambang Triono selaku pimpinan produsen sapu CV Rayung Pelangi Desa Karanggambas mengaku banyak kelebihan yang didapat dari bahan baku batang sorgum ini ketimbang glagah. Diantaranya bahan lebih awet dan tidak mudah rontok. Hanya saja tingkat kerapatan serabut lebih renggang ketimbang glagah.

“Manfaat lain yang kami dapatkan adalah sorgum tidak dikuasai tengkulak, sehingga bisa menekan biaya produksi. Selain itu masa panen sorgum lebih cepat, yakni 50 hari sudah panen,” katanya.

Mengenai ketersediaan bahan baku sorgum sendiri sejauh ini tidak mengalami kekurangan. Bahan baku tersebut bisa ia dapatkan di ladang yang ia tanam sendiri di desa, selain itu juga ia bermitra dengan petani sorgum di Demak dan Tegal yang total keseluruhan lebih dari 15 hektare. Sisi lain penanaman sorgum ini juga bisa untuk mengisi lahan khususnya tadah hujan, sehingga lahan tidak dibiarkan menganggur atau tak produktif.

Dari keseluruhan tanaman sorgum hanya ia manfaatkan bagian batangnya sebagai bahan baku, sementara bagian biji bisa dimanfaatkan sebagai pakan ternak ataupun bibit.“Sorgum yang kami panen sebisa mungkin ketika tanaman masih berwarna hijau, karena memiliki bentuk yang lurus. Jika terlalu tua biasanya bentuk sudah melengkung atau zigzag sehingga kurang bagus untuk sapu,” katanya.

Meski telah beralih ke sorgum, namun ia tetap melayani permintaan untuk sapu glagah, hanya saja tidak seperti sebelumnya. Di sisi lain ia juga tidak ingin terlalu bersaing dengan pengrajin sapu glagah yang notabene sebagiannya merupakan mantan karyawannya. “Dari pada bersaing, lebih baik melakukan inovasi baru untuk menghasilkan sapu yang lebih baik,” ungkapnya.

Mengenai permintaan sapu sorgum ini cukup besar. Saat ini pembeli yang ia layani umumnya berasal dari mancanegara khususnya Korea Selatan. Mereka merupakan perusahaan distributor sebagai pembeli dalam jumlah besar yang kemudian di negaranya mereka menyematkan merek dagang tersendiri .

“Saat ini kami melayani 5 perusahaan, semuanya dari Korea Selatan. Permintaan per minggunya rata rata sebanyak 3 truk trailer. Per satu unit sapu kami hargai senilai 1,5 US Dollar,” katanya.

Sapu sorgum, menurut Bambang memiliki pasar tersendiri yang berbeda dengan sapu jenis lain. Disamping itu kompetitor di Indonesia juga masih sangat jarang, sehingga sangat menjanjikan. Sejauh ini yang ia ketahui, sapu sorgum ini juga di produksi di Bogor, Tegal dan Yogyakarta.

Sejauh ini kendala yang ia hadapi adalah mengenai tenaga kerja dan kualitas. Salah satunya yaitu proses pengerjaan yang masih dilakukan secara manual, baik proses menganyam dan menjahit. Pihaknya telah mencoba menggunakan mesin jahit yang didatangkan dari Cina, hanya saja hasil atau kualitas hasil jahitan dinilai kurang memuaskan, sehingga kerap kali harus kembali menggunakan teknik manual.(Ganda Kurniawan)

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!