by

Santi Setyaningsih – Inginkan Para Sahabat Tunarungu Bisa Lebih Mandiri

-Inspirasi-dibaca 135.00Rb kali | Dibagikan 51 Kali

????????????????????????????????????

Kekurangan sering menjadi penghambat untuk maju dan berkembang, bahkan sering menjadikan alasan sesorang untuk menutup diri.

Namun itu tidak ada dalam kamus kehidupan Santi Setyanigsih, S.Sos gadis penyandang keterbatasan diri (disabilitas), untuk indera pendengaran.

Gadis kelahiran Purbalingga 8 Mei 1991, mengalami kemunduran indera pendengaran sejak usia 4 tahun. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk memulihkan pendengaran Santi, namun tidak ada hasil.

Sejak saat itu komunikasi Santi dengan orang tua, saudara dan lingkungan terhambat. Santi mengalami kemampetan berbahasa. Dampaknya, Santi menjadi gagap untuk bicara karena tidak dapat menyerap kata dan kalimat dengan sempurna.

????????????????????????????????????

Anak pasangan Suryono PNS bagian kearsipan UPT Dinas Pendidikan Kecamatan Kejobong dan Siti Satinah ini melewati jenjang pendidikan SD Negeri I Nangkod, SMP Negeri 2 Kejobong dan Madrasah Alyah Ngeri (MAN)  mulus tanpa mau menggunakan alat bantu pendengaran. Walaupun kedua orangtuanya sudah menyediakan alat bantu pendengaran.

Santi hanya berupaya keras dengan belajar menangkap gerakan mimik ucapan lawan bicaranya. Termasuk ketika berada di kelas, Santipun mencoba terus konsentrasi pada wajah sang Guru agar bisa melihat dengan cermat gerakan bibir sang guru yang sedang menyampaikan materi pelajarannya.

Padahal Santi belum pernah belajar pengetahuan ilmu komunikasi untuk orang penderita tunarungu.

“Ini resiko saya yang mau mengenkan alat bantu pendengaran, saya harus belajar mencermati gerakan bibir lawan bicara. Itupun tidak sempurna, karena banyak gerakan bibir yang tidak bisa dicermati. Saya sering salah pengertian,”ungkap Santi kepada lintas24.com dan elemen di rumahnya RT 01 RW 01 Desa Nangkod Kecamatan Kejobong Purbalingga.

Usai merampungkan belajar dibangku Pendidikan Menengah, Ia melanjutkan kuliah di Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto dengan konsentrasi pada jurusan Sosiologi Fakutas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

Saat duduk dibangku perguruan tinggi inilah kesadaran tentang pentingnya alat pendengaran dapat untuk membantu komunikasi dengan baik, maka diputuskannya untuk berani menggunakan alat bantu dengar.

“Kuliah semester satu saya masih bertahan tidak menggunakan alat bantu, hasilnya nilai indek prestasi saya jeblog. Akhirnya saya sadar, saya harus mengakui kekurangan dalam diri saya. Saya mulai beranikan menggunakan alat bantu pendengran hingga sekarang,”ungkap Santi.

Tekuni Kegemaran Menulis

Sejak di bangku SMP, Santi sudah menyukai dunia penulisan, setiap hari sepulang sekolah ia memupuk kegemaran menulis di buku kecil catatan harian.

“Saat itu ada rasa minder muncul dalam diri saya. Keluh kesah saya tumpahkan pada tulisan,” ungkap Santi.

Kegemaran menulis terus ia rawat dan mempupuknya saat menjadi mahasiswa. Santi mulai menggali lebih dalam tentang dunia penulisan, ia mencoba menulis tentang perjalanan hidupnya sebagai seorang difabel.

Ia mengaku kesulitan menata kalimat perkalimat agar bisa dibaca dan difahami dengan baik, karena minimnya perbendaharaan kata.

Namun, ia terus berusaha keras agar tulisan artikel berjudul Aku Bangga menjadi Tunarungu yang menceritakan pengalaman hidupnya, suka dan duka menjadi seorang difabel untuk memotivasi agar tidak merasa tergantung dengan orang lain karena keterbatasan diri.

Bagi seorang penyandang disabilitas, mengikuti pelajaran di sekolah umum pasti tidaklah mudah. Pengalaman 14 tahun melewati menjalani kehidupan dan berinteraksi dengan orang normal Santi tuangkan dalam bukunya “Aku Bangga Menjadi Tunarungu”.

Buku ini adalah karya pertama Santi, berisi sepenggal kisah Santi berjuang mendapatkan pendidikan seperti halnya wanita dan orang normal lainnya.

Tulisan inipun rampung, Santi berharap bisa memberikan pencerahan, kesemangatan, memotifasi anak-anak yang sama mengalami difabel seperti dirinya.

Setelah satu tahun lebih melewati proses editing berulang-ulang. Santi pun mengunggah artikelnya ke sebuah blog www.menulisbuku.com. Di sinilah artikel Santi dilirik oleh sejumlah penerbit untuk dicetak menjadi buku. Salah satunya adalah penerbit Creative Hous Dreams and Action (DNA) dari Dompet Dhuafa Prwokerto yang berhasil menerbitkan buku Aku Bangga Menjadi Tunarungu pada tahun 2015 sebagai buku motivasi.

Berbagi Melalui Buku

Melalui buku ini Santi mengajak kita semua untuk peduli pada mereka yang memiliki keterbatasan atau yang biasa disebut penyandang difable, terutama tunarungu. Santi pun ingin menebar inspirasi bagi keluarga penyandang difable agar berani menempuh kehidupan normal bagi keluarganya yang memiliki keterbatasan.

Dari hasil penjualan buku, Santi mendedikasikannya untuk membantu mereka memiliki alat bantu dengar, karena harga satu buah alat bantu dengar sangatlah mahal. Karena, tidak semua tunarungu mampu memiliki alat ini. Hal ini pula yang kemudian membuat para tunarungu pada umumnya menderita ketidakmampuan berkomunikasi lisan (bicara).

“Biasanya akibat kekurangannya tersebut akan membawa dampak yaitu terhambatnya perkembangan kemampuan berbahasa,”ungkap Santi.

Santi juga berkesempatan menjabat sebagai  Internal Communication

di Komuntas Historia Indonesia, sebuah lembaga yang berkonsentrasi penelitian sejarah, bedah buku, dan wisata sejarah.

Santi pun pernah mendampingi wisatawan yang ingin mengetahui sejarah Indonesia. Salah satu yang pernah dijalani adalah menjadi tour guide PT Puratos Indonesia untik mendampingi wisatawan manca yang melakukan perjalanan napak tilas sejarah pejuang Republik Indonesia di museum Juang Jakarta.

Ia berharap, untuk seluruh tema-teman yang mengalami kemunduran pendengaran mampu melakukan hal-hal yang mungkin saja tidak semua orang normal bisa menggapainya.

Selain keterbatasan pada kemampuan bahasa, penderita akan mengalami berbagai hambatan dalam meniti perkembangannya, terutama dalam aspek kecerdasan, dan penyesuaian sosial.

“Oleh karena itu, untuk mengembangkan potensi para penderita tunarungu (terutama pada usia produktif) memerlukan layanan atau bantuan secara khusus. Salah satu bantuannya yaitu alat bantu mendengar,”ungkap Santi. (sinanngga).

 

Comment

Berita Lainnya