by

Salimah, SE. Kepala UPK Kalibagor – Jadikan Rumah Ramah Buku

-Inspirasi-dibaca 114.86Rb kali | Dibagikan 48 Kali

salimah

 

Sesungguhnya permasalahan umum dalam dunia literasi di Indonesia adalah rendahnya ikatan emosional terhadap buku bacaan sebagai sumber informasi. Teknologi telah menawarkan kemudahan untuk mendapatkan informasi menjadi jalan pintas di saat pembaca mulai enggan membaca buku teks cetak .

Transisi dari tradisi budaya literasi ini saat ini ditantang oleh gempuran teknologi dalam bentuk popularitas media dan alat komunikasi (gadget) yang menyajikan teks dengan cara pembacaan yang unik dan berbeda sehingga membutuhkan pendekatan yang utuh dalam menguatkan literasi dasar di Sekolah Dasar.

Hal tersebut diungkapkan oleh Kepala Unit Pendidikan Kecamatan (UPK) Kalibagor Kabupaten Banyumas, Salimah, SE. Dikatakan, dengan membuka internet, anak didik bisa dengan mudah menemukan jawaban, namun sebenarnya mereka masih membutuhkan penjabaran lebih lanjut.

“Buku seharusnya tetap menjadi bacaan utama, walaupun jika dibandingkan lewat internet, informasi lebih mudah didapat tapi masih perlu telaah lebih lanjut tentang kebenaranya.” kata Istri dari M. Najib, S.Sos, Camat Sokaraja kepada eleman dan lintas24.com saat ditemui diruang kerjanya.

Nah selanjutnya ungkap Salimah, bagaimana penguatan peran keluarga dalam pendidikan anak melalui minat baca. Diperlukan figur teladan “pembaca” di rumah, yang diharapkan memberi teladan mengenai asyiknya membaca dan menularkan virus membaca untuk meningkatkan minat baca anak.

“Ini menjadi tantangan, karena orang tua belum mampu menjadi teladan yang baik dalam memberi contoh bahwa membaca merupakan kegiatan yang menyenangkan dan bermanfaat menambah pengetahuan,”ungkapnya.

Para orang tua lanjut Salimah, perlu menjadikan rumah ramah buku dengan menyediakan rak/ keranjang buku yang dapat dijangkau oleh anak atau dapat mengajak anak untuk rutin mengunjungi perpustakaan dan menjadi anggota perpustakaan. “Anak diberikan kebebasan memilih buku yang akan dibeli dan orang tua mengawasi, buku yang dibeli harus sesuai dengan usianya,”ungkapnya.

Peran perpustakaan tambah Salimah, menjadi salah satu rujukan tempat mencari “asupan” pengetahuan, fungsi perpustakaan harus lebih diberdayakan. Pasalnya, dalam beberapa keluarga kebiasaan membaca mungkin akan sedikit memiliki kendala terutama masalah keuangan.  Keuangan secara tidak langsung akan sangat mempengaruhi dalam mendidik anak agar anak mau rajin membaca.

“Solusinya yaitu tadi, rajin-rajinlah berkunjung ke  perpustakaan, setiap sekolah sudah tersedia perpustakaan, sekarang tinggal bagaimana orang tua mendorong anaknya agar mencintai buku dengan membacanya,”ungkap Salimah.

Perlu ditegaskan kata salimah, salah satu faktor yang membantu perkembangan rohaniah anak adalah aktivitasnya dalam membaca, karena aktivitas memiliki fungsi sebagai pengenalan terhadap hal yang baru, memperkaya bahasa, menambah pengetahuan, mengembangkan potensi, baik potensi intelek, estetika, bakat, moralnya dan membina watak. Dan aktivitas membaca bagi anak merupakan penghantar bagi kedewasaannya dalam berbagai aspek kedewasaan. Mewujudkan anak pintar dan bener.

“Jangan sampai, banyak orang pinter, tapi ora bener. Giliran orangnya bener, malah ora pinter. Artinya begini, jadi orang itu harus pintar dan tahu aturan, jadi kalau melangkah akan benar sesuai aturan, ringkasnya begitu lah ”ungkapnya.(sinnangga)

Comment

Berita Lainnya