by

Road to Ekspedisi Sisik Naga Purbalingga. Menjaga Hutan, Melestarikan Sungai

-Inspirasi, Update-dibaca 11.28Rb kali | Dibagikan 51 Kali

Kerusakan sungai menjadi ancaman bagi tersedianya air persih dan terganggunya pasokan air bagi pertanian, peternakan dan sektor lainnya. Sungai semakin dangkal. Sekarang ini gampang banjir di musim penghujan dan kekeringan di musim kemarau. Sungai-sungai yang mengalir di wilayah Kabupaten Purbalingga diindikasikan sudah mengalami kerusakan yang sangat serius.

Hal itu diungkapkan Taufik Katamso sesepuh Perhimpunan Pegiat Alam Ganesha Muda (PPA GASDA) Purbalingga di acara Diskusi Konservasi Sungai dengan tema ‘Kali Ilang Kedunge’ dalam rangka Road to Ekspedisi Sisik Naga, yang juga disiarkan secara live di media sosial serta aplikasi zoom, Rabu (14 Oktober 2020).

“Salah satu penyebabnya adalah rusaknya hutan yang ada di hulu sungai tersebut. Ini jika dinilai secara ekonomi sangat besar dan berdampak bagi semua orang sehingga konservasi sungai dan pelestarian alam harus menjadi perhatian bersama,” katanya

Ia mengatakan, hal ini yang mendasari PPA Gasda bekerjasama dengan komunitas pecinta alam Purbalingga akan melakukan sebuah ekspedisi untuk meneliti, mendata dan mendokumentasikan kekayaan alam di Pegunungan Sisik Naga.

“Kegiatan utama Ekspedisi Sisik Naga akan dilaksanakan pada 24-28 Oktober 2020,” ungkapnya.

Hal yang sama juga disampaikan, pegiat Forum Purbalingga Bersih, Kris Hartoyo Yahya. Upaya konservasi sungai harus menjadi perhatian bersama. Kelestarian sungai mempengaruhi hajat hidup orang banyak.

“Harus ada tindak lanjut dari diskusi ini, action yang nyata untuk melestarikan sungai-sungai di Purbalingga,” katanya.

Pegiat Mancing Mania Purbalingga (MMP), Agus Ardiatmaja menilai, sungai-sungai di Purbalingga memang dalam kondisi memprihatinkan. Ia yang sejak kecil sudah menjelajahi sungai-sungai di Purbalingga menyebutkan perbedaan kondisi sungai yang sangat jauh dan semakin rusak dari tahun ke tahun.

“Dulu sangat mudah menjumpai ikan-ikan di semua sungai di Purbalingga. Kedung-kedung (jeram) sungai sangat dalam dan menjadi rumah berbagai macam ikan. Kini orang njala dan mancing lebih banyak boncosnya,”kata Agus.

Agus menyebutkan, kerusakan sungai, selain disebabkan karena kerusakan hutan juga akibat praktek galian C dan penyedotan pasir yang masif, alih fungsi lahan juga pembangunan tak ramah lingkungan. Kerusakan sungai selain menyebabkan bencana alam seperti banjir dan kekeringan juga menyebabkan berkurangnya keanekaragaman hayati, terutama ikan dan biota sungai.

“Sekarang kedung sudah banyak yang rata, sudah seperti ramalan Jayabaya, ‘kali ilang kedunge. Dulu sangat mudah dijumpai ikan tambra, beong, melem, tawes, seruni, gabus, melem, tawes, pethek dan lainnya di sungai-sungai. Saya khawatir anak cucu kita nanti tidak mengenal ikan melem, saat itu bisa jadi melem sudah menjadi fosil,” ujarnya.

Ahli Muda Konservasi Sumber Daya Hutan Perusahaan Hutan Negara Indonesia (KSDH Perhutani) Banyumas Timur, Heri Kusnanto menyebutkan kawasan hulu sungai di Purbalingga berstatus sebagai hutan lindung. Perhutani melakukan berbagai daya upaya untuk melestarikan kawasan hutan, diantaranya dengan melakukan penghijauan.

“Perhutani juga mengurangi tekanan terhadap hutan dengan melibatkan masyarakat dalam konsep perhutanan sosial yang mengkombinasikan pelestarian hutan dan pemberdayaan,” ungkapnya.

Ia merinci, Kabupaten Purbalingga memiliki kawasan hutan alam yang masih tersisa. Area tersebut ada di wilayah yang disebut dengan Zona Serayu Utara yang saat ini dibawah pengelolaan Perum Perhutani. Wilayah tersebut membentang di utara Purbalingga dari Kecamatan Rembang, Karangmoncol, Karanganyar, Karangjambu sampai Karangreja yang berbatasan dengan Banjarnegara, Pekalongan dan Pemalang.

“Topografinya berbukit-bukit dan jika dilihat melalui google earth tampak seperti sisik-sisik naga sehingga disebut dengan Pegunungan Sisik Naga,” ungkapnya

Untuk diketahui, kekanekaragaman hayati di hutan tersebut masih sangat baik. Hasil Kajian Kelompok Biodiversity Banyumas, Javan Gibbon Foundation dan Kelompok Studi Biologi, Fakultas Teknobiologi, Universitas Atmajaya (2018) menemukan keragaman flora dan fauna yang ada di Siregol, salah satu kawasan yang di Perbukitan Sisik Naga.

Beberapa fauna yang ditemukan bahkan ada yang dilindungi, iantaranya adalah, Elang Jawa (Nizaetus bartelsii), Owa Jawa (Hylobates moloch), Cekakak Jawa (Halcyon cyanoventris), Cekakak Sungai (Todirhamphus chloris), Rangkong Julang Emas (Aceros undulatus), Elang Ular Bido (Spilornis cheela), bahkan pada 2018 lalu ada perjumpaan dengan Macan Tutul (Panthera pardus). Fora langka, seperti anggrek dan kantong semar juga banyak ditemukan di sana.

Kawasan tersebut setidaknya menjadi hulu dari 19 sungai yang mengalir di Purbalingga. Kemudian, wilayah itu juga merupakan ‘water catchment’ area yang menjadi penyedia air bersih bagi wilayah Purbalingga.

Saat ini, kawasan hutan tersebut terus menerus mendapatkan ancaman dan tekanan terhadap kelestariannya. Misanya, penebangan liar, alih fungsi menjadi lahan pertanian, perambahan hutan, perburuan satwa liar serta pengembangan wisata masal yang tidak ramah lingkungan.

Oleh karena itu, diperlukan upaya advokasi dan pelestarian agar kawasan hutan tersebut tetap lestari. Sebagai dasarnya, diperlukan data-data yang komprehensif tentang kawasan hutan tersebut.

Comment

Berita Lainnya