by

Ridwan Kamil: Kurikulum Pesantren Berbeda. Boleh Buka Lebih Awal

Pemerintah Provinsi Jabar sendiri sudah mengeluarkan Keputusan Gubernur Jabar No:443/Kep.326-Hukham/2020 tentang Perubahan atas Kepgub Jabar No 443/Kep.321-Hukham/2020 tentang Protokol Kesehatan untuk Pencegahan dan Pengendalian Covid-19 di Lingkungan Pondok Pesantren.

“Pesantren memang dibuka lebih dahulu dari sekolah umum karena pesantren itu mulai dan selesainya berbeda-beda. Kurikulum juga berbeda-beda. Jadi kalau ada satu buka dan satu belum, saya kira tidak masalah,” tutur Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Jawa Barat (Jabar) Ridwan Kamil meninjau kesiapan Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) Pondok Pesantren (Ponpes) Hamalatul Qur’an Al Falakiyah di Kecamatan Bogor Barat, Kota Bogor,

Ridwan Kamil memeriksa penerapan protokol kesehatan, terutama pakai masker, di pesantren penghafal Qur’an terbesar di Bogor ini.

“Yang saya amati semua sudah dilakukan dengan baik. Masker sudah menjadi kewajiban utama, juga jaga jarak, dan cuci tangan pakai sabun. Ada juga rapid test untuk santri,” ujar Ridwan Kamil, yang akrab disapa Emil.

Ia menegaskan, keputusan itu dibuat untuk menghindari klaster Covid-19 di pesantren serta menjaga para kyai, santri, dan asatidz dari penyebaran virus SARS-CoV-2 penyebab penyakit Covid-19 yang hingga kini belum ditemukan obat dan vaksinnya.

Usai meninjau protokol kesehatan dan rapid test, Emil pun turut berziarah ke makam KH Tubagus Muhammad Falak Abas atau Abah Falak tak jauh dari gedung Ponpes Hamalatul Qur’an Al Falakiyah.

Emil dengan khusyuk mendengarkan doa yang dipanjatkan untuk Abah Falak. Abah Falak sendiri merupakan ulama tersohor yang lahir di Banten pada 1842 dan wafat di Pagentongan, Bogor, pada 19 Juli 1972. Selama itu, sosoknya terus berdakwah dan menyebarkan ilmu dari Banten hingga Bogor.

Adapun Ponpes Hamalatul Qur’an Al Falakiyah saat ini baru menerima kurang dari seratus santri asal Bogor di pesantren dari total 800 santri yang ada.

Rapid test di Ponpes Hamalatul Qur’an Al Falakiyah baru dilakukan pertama kali oleh Gugus Tugas Jabar dengan menyediakan 150 kit test. Hasilnya, puluhan santri yang mengikuti rapid test tidak ada yang dinyatakan reaktif.

Pelaksanaan tes ini menjadi bukti perhatian Pemerintah Daerah Provinsi Jabar melalui Gugus Tugas Jabar terhadap pondok pesantren.

 

Comment

Feed Berita