by

Rekatkan Hati, Iluspero 1990 Manfaatkan Whatsapp

-Pendidikan-dibaca 114.95Rb kali | Dibagikan 42 Kali
Iluspero memberi kepercayaan kepada klenthink konveksi untuk mendisain dan membuat kaos alumni
Iluspero memberi kepercayaan kepada klenthink konveksi untuk mendisain dan membuat kaos alumni

Ikatan Lulusan SMP Loro Purbalingga (ILUSPERO) tahun 1990 memanfaatkan media sosial seperti Whatsapp untuk berkomunikasi antara satu sama lain dan menjaga tali silaturahmi.

Koordinator Iluspero Jabodetabek, Bedor Triyono mengungkapkan, media sosial bermanfaat untuk memberikan informasi tentang apa saja kegiatan para alumni. “Kami ada grup Whatsapp yang membernya 98 orang dari 168 orang alumni yang terdaftar. Di situ kita intens berkomunikasi,” ujar Bedor yang juga pemegang kendali grup Iluspero.

Bedor menjelaskan, WhatsApp Messenger menawarkan fitur multimedia,.seluruh anggota grup bisa berkirim pesan teks, pesan suara, pesan gambar, hingga video.

“Ini memudahkan untuk menikmati layanan komunikasi atau percakapan grup dengan teman-teman dan bisa terjangkau teman-teman berada di negeri tetangga, karena aplikasi ini tidak menggunakan biaya tambahan Jadi, bisa menikmati mudahnya berkomunikasi dengan teman-teman dimanapun berada,”ungkap Bedor.

Awalnya lanjut Bedor, teman-teman satu angkatan membuat wadah alumni, namun karena kesibukan masing-masing, wadah Iluspero seakan mati suri tanpa kegiatan yang berarti. Sekitar enam bulan yang lalu hubungan komunikasi kita jalin lagi dan kita pilih Whatsapp agar lebih praktis.

“Dari satu teman yang memiliki nomer telepon terus berkembang sampai sekarang ini,”ungkap Bedor.

Koordinator Pusat Iluspero, Sumarto menambahkan, tujuannya satu saja, menjalin komunikasi antar alumni. Dalam grup ini, seluruh anggota berkesempatan mengeluarkan pendapat, bertukar informasi, bernostalgia saat dibangku sekolah.

“Ngumpulaken balung pisah (mengumpulkan tulang yang terpisah). Artinya, kita sebagai teman harus terus menumbuhkembangkan rasa persatuan dan harus selalu ingat kepada almamater,”ungkap Pengusaha Konstruksi di Purbalingga ini.

Hal senada diungkapkan Bagyo Suprapto, intinya grup Whatsapp ini harus mempunyai manfaat yang positif, dan harus mempunyai kode etik. Diperbolehkan berceloteh tentang nama panggilan saat sekolah dulu.

“Diharapkan kerukunan yang tanpa jarak harus terus dijaga, dulu memanggil teman sebangku dengan panggilan misalnya,  ayam, puther, cowet, sariwik, piyik, cakil, bantheng dan komandan. Rasanya sah-sah saja,”ungkap mantan murid kelas 3F ini.

Cowet nama panggilan akrab Bangyo Suprapto saat SMP ini menambahkan, teman-teman saat ini ada yang menduduki posisi penting di TNI AD, lembaga perbankan, pengacara, anggota DPRD. PNS dan guru. Namun keakraban saat masih sekolah sangat kental terasa.

“Melempar joke atau humor yang menyegarkan suasana. Bercanda dengan teman di grup tentu menyenangkan asal tidak mengusik SARA. Ini akan menambah manis persahabatan dan lebih menerbitkan rasa kangen ingin lekas jumpa,”ungkap Bagyo.

Program dadakan terus bergulir lanjut Bagyo, dicontohkan, teman-teman ingin mempunyai kaos kebanggaan alumni, penentuan pilihan jenis kaos, disain kaos dan harganyapun dibahas tanpa bertatap muka. Semua boleh mengeluarkan pendapat, jika sudah mencapai kata mufakat baru kita buat.

“Teman kita ada yang ahli disain, biar dia yang mendisain dan teman kita ada juga yang mempunyai usaha konveksi. Jadi sudah lengkap dan praktis,”ungkap Bagyo.

Melalui media sosial Whatsapp ini pula, para alumni akan segera berkumpul dalam temu kangen setelah lebaran. (yoga tri cahyono)

Comment

Berita Lainnya