Reformasi Belum Tuntas, Perlu Reformasi Ideologi Kebangsaan yang Benar

By: On: Dibaca: 79,537x
Reformasi Belum Tuntas, Perlu Reformasi Ideologi Kebangsaan yang Benar

Sosialisasi Pancasila 01

CILACAP – Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia (MPR-RI) sebagai lembaga legislatif negara terus berusaha menghidupkan kembali nilai-nilai perjuangan dan rasa nasionalisme sesuai semangat proklamasi kemerdekaan RI tahun 1945. Salah satunya dengan terus mensosialisasikan Empat Pilar MPR-RI, yakni Pancasila sebagai Dasar dan Ideologi Negara, UUD 1945 sebagai Konstitusi Negara dan Ketetapan MPR, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sebagai Keutuhan Wilayah Bangsa dan Negara.

Untuk itu, generasi muda pascareformasi perlu terus-menerus diberikan pemahaman tentang Empat Pilar Kebangsaan, sehingga untuk menghadapi masa depan bangsa ini akan lebih tegak dan kokoh dalam berbangsa dan bernegara menuju cita-cita proklamasi.

Kebebasan berpendapat memang menandai lahirnya era reformasi, tapi seringkali kebebasan tersebut dimaknai bebas tanpa batas. Kesalahan pemahaman tersebut menyebabkan kendurnya nilai-nilai agama dan nilai-nilai keakraban sosial. Tentu saja, hal tersebut sangat mengkhawatirkan bagi kehidupan berbangsa dan bernegara.

Sosialisasi Pancasila yang merupakan salah satu dari Empat Pilar Kebangsaan, dan digelar atas kerja sama dengan Pengurus Cabang (PC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cilacap, Minggu (6/12), ini diselenggarakan di Gedung IPHI Cilacap. Menghadirkan narasumber KH Akhmad Muqowam, Anggota DPD-RI dari Jawa Tengah dan Musa Ahmad, dosen Unugha Kesugihan, Cilacap.

Acara yang dihadiri sekitar 200 peserta dari organisasi kemasyarakatan pemuda, santri, alumni, dan pelajar ini juga dihadiri Wakil Bupati Cilacap Akhmad Edi Susanto mengusung tema “Peran Pemuda Menjaga Persatuan dan Kesatuan Bangsa”.

Akhmad Muqowam mengatakan, ini dilakukan sebagai upaya MPR untuk mensosialisasikan Empat Pilar dimana keseluruhan ini merupakan satu produk komitmen bangsa yang harus diaktualisasikan dalam kehidupan yang sekarang ini.

“Karena dalam rentang waktu yang sekian lama akan membawa pengaruh. Seperti globalisasi dalam masyarakat, dan inilah tantangan dalam mengindonesiakan orang Indonesia kembali,” katanya kepada lintas24.com.

Ditambahkan, sosialisasi ini bagian dari upaya untuk mengindonesiakan orang Indonesia kembali dengan budaya, dengan kultur, dan peradaban yang dilatarbelakangi oleh Pancasila yang merupakan satu produk eksplorasi yang berdasar pada agama, budaya, dan sosiologis bangsa Indonesia.

Tentang kecenderungan bahwa pemahaman terhadap Pancasila mulai luntur, Akhmad Muqowam menandaskan sebenarnya tidak luntur, hanya kini perlu penebalan kembali.

“Bagaimana agar komitmen sebagai anak bangsa baik dalam dirinya bekal untuk menghadapi kompetisi harus ada dan harus kita tingkatkan,” tandasnya.

Sementara Ketua Panitia Penyelenggara Khotibul Umam menjelaskan, tujuan pelaksanaan sosialisasi ini untuk membumikan nilai-nilai Pancasila dalam jiwa pemuda sebagai generasi penerus bangsa.

“Selain itu untuk menambah semangat bagaimana pemuda menjaga persatuan dan kesatuan bangsa,” ucapnya.

Dia berharap, pemuda mampu membumikan dan mampu mentransfer nilai-nilai Pancasila dalam diri dan kehidupan bermasyarakat.

Salah seorang peserta, Nasruddin Mudaf mengatakan, dia mendapat informasi, data, dan bekal dari kegiatan sosialisasi ini.

Menurutnya, di Indonesia ini masih banyak hal-hal yang rancu. Misalnya salah satu kelompok organisasi yang secara kelembagaan diperbolehkan Indonesia, namun secara riil justru mengacuhkan landasan Empat Pilar Kebangsaan.

“Bahkan, mereka “menghina”, tetapi ini menjadi bagian dari Indonesia,” tegasnya.

Dikatakannya, hal seperti itu hingga saat ini belum diatasi, dan masih menjadi masalah. Sehingga akan menjadi sebuah kegelisahan bagi orang-orang di kekuasaan sana.

Mudaf menambahkan, reformasi memberi peluang macam-macam, peluang kebebasan macam-macam, peluang ekspresi macam-macam, dan pemikiran macam-macam.

“Artinya bahwa reformasi belum tuntas. Indonesia butuh mereformasi yang lain. Dulu, tahun 1998 mereformasi administrasi kepemimpinan, peraturan-peraturan. Sekarang perlu mereformasi ideologi kebangsaan yang benar,” katanya.

Dia berharap bahwa acara semacam ini perlu terus dilanjutkan. Juga acara semacam ini tidak hanya berhenti hanya di seminar saja, namun perlu ada follow up-nya. (estanto)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!