Puasa Tingkatkan Etos Kerja Umat Muslim

By: On: Dibaca: dibaca 9.02Rbx
Puasa Tingkatkan Etos Kerja Umat Muslim

Pemerintah Kabupaten Purbalingga kembali menyelenggarakan Pengajian Jumat Pagi (25/5)  sebagai sebagai kegiatan rutin siraman rohani para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Sekretariat Daerah (Setda). Pengajian yang berlangsung di Pendopo Dipokusumo kali ini, mendapatkan materi tausiah oleh Kepala Kantor Kemenag Purbalingga H Karsono SPd I MM.

Bulan ramadhan seringkali oleh umat Islam dijadikan kambing hitam kemalasan, tidak produktif bekerja karena menjalani pantangan makan minum sebagai sumber energi. Pada tausiah kali ini, Karsono mengajak agar paradigma kambing hitam kemalasan itu dibuang jauh-jauh dari etos kerja umat muslim.

“Puasa itu guna menciptakan manusia yang bertaqwa. Ketika kata kuncinya adalah bertaqwa, seharusnya saat puasa ini kita akan terpacu banyak hal untuk meraih ketaatan,” kata Karsono.

Lebih lanjut ia menerangkan bahwa kerja keras merupakan bagian dari perintah agama. Maka kerja keraspun produk dari ketaqwaan. Ada beberapa dalil yang menjadi dasar tersebut, diantaranya Al Qasas ayat 77, At Taubah ayat 105 dan sebuah hadist dari riwayat Ibnu Majah.

“Ada keseimbangan semangat antara akhirat dengan dunia. Keberkahan kita sebanding dengan apa yang kita upayakan, ketika semakin semangat produktif nilai gaji kita makin barokah. Allah memuliakan orang yang bekerja keras, apa lagi untuk keperluan menafkahi,” katanya.

Setiap kerja yang halalpun mengandung satu pahala kebaikan. Maka ketika bulan Ramadhan, tutur Karsono pahala tersebut akan dilipatgandakan 10 kali. Maka sudah semestinya manusia semangat bekerja untuk mendulang banyak pahala.

“Kerja merupakan perintah agama, jadi orang yang tidak kerja, duduk0dudk saja padahal punya potensi maka ia akan berdosa. Sedangkan apa apa yg diinfakkan/dinafkahkan pada diri, isteri, anak, atau pembantu dihitung sedekah. Jadi jangan ragu untuk memberikan nafkah yang banyak,” katanya.

Ia juga mengingatkan akan bahaya rezeki tidak berkah yang disebabkan oleh kemalasan kita saat bekerja. Karsono mencontohkan saat kinerja kita sepantasnya hanya mendapat nilai Rp 5 juta tapi tetap mendapatkan gaji sebesar Rp 7,5 juta, maka Allah akan mengambil Rp 2,5 jutanya dengan caranya Allah, entah anak sakit, bisa mobil rusak, bisa uang hilang.

“Tapi sebaliknya tapi kalau hasil kinerja kita yang seharusnya pantas dihargai Rp 7,5 juta tapi hanya menerima gaji Rp 5 juta, maka Allah akan memberi Rp 2,5 juta dengan caranya Allah yang terkadang tidak kita pahami,” paparnya.

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!