PSCS Cilacap Dibubarkan

By: On: Dibaca: dibaca 96.99Rbx
PSCS Cilacap Dibubarkan

Persibangga Ikut Kompetisi Pengganti

Pembubaran tim yang bakal berlaga di Divisi Utama tidak hanya dilakukan oleh Persibas Banyumas, tetapi juga PSCS Cilacap. Manajeman PSCS Cilacap terpaksa ikut membubarkan tim,  setelah PSSI menghentikan kompetisi di seluruh Indonesia.

Ketua Umum PSCS Farid Ma’aruf mengatakan, pihaknya terpaksa membubarkan tim Laskar Nusakambangan akibat tidak ada kejelasan digelarnya kompetisi Divisi Utama Liga Indonesia 2015.

Sebelum resmi dibubarkan pada 7 Mei lalu, pihak manajeman sudah memenuhi kewajiban untuk membayar gaji. Manajeman terpaksa harus membayar gaji 30 pemain dan pelatih sebesar Rp 700 juta tanpa ada kompetisi. “Dibubarkan kemarin pada 7 Mei, setelah mengikuti rapat di Jakarta. Gaji yang dibayarkan bulan April sebesar 50 persen,” jelasnya Lintas24.com (14/5)

Meski demikian, ada perjanjian antara manajeman dan tim. Apabila kompetisi dilaksanakan 2015, maka baik PSCS maupun pemain sepakat akan ada kontrak lagi. Kontrak tersebut tidak menutup kemungkinan mengalami sedikit perubahan terkait durasi atau masa kontrak.

“Mereka masih punya harapan, liga masih tetap bisa berjalan pada 2015 ini. Entah bulan apa. Prinsipnya, pemain siap bergabung kembali dengan PSCS,” ungkapnya.
Farid menambahkan, dihentikannya kompetisi membuat seluruh klub sepak bola termasuk PSCS merugi. Pasalnya, manajeman sudah mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membayar gaji pemain termasuk laga uji coba.

“Kita sudah mengeluarkan dana sekitar Rp 700 juta sampai Rp 1 miliar, tetapi kompetisi tidak dijalankan. Itu merupakan kekecewaan dan kerugian besar,” imbuhnya.

Berbeda dengan Persibas dan PSCS, Persibangga Purbalingga menyatakan diri untuk mengikuti kompetisi pengganti Divisi Utama yang diusulkan oleh PT Liga Indonesia.

Kompetisi ini akan digulirkan sebagai salah satu alternatif agar kompetisi bisa tetap berjalan, meskipun bukan laga kompetisi resmi.

Menurut Manajer Teknik Persibangga Martoyo, Persibangga akan mengikuti kompetisi tersebut apabila diikuti minimal oleh lima klub. Apabila kurang dari itu kemungkinan tidak akan ikut. “Kami akan ikut kompetisi itu, asal diikuti setidaknya lima klub,” tuturnya.

Martoyo menyarankan, kompetisi pengganti Divisi Utama sebaiknya dibagi menjadi dua  wilayah atau lebih. Hal ini agar biaya yang dikeluarkan tim tidak terlalu banyak.

“Paling tidak dibagi menjadi dua wilayah. Contoh wilayah Banyumas diisi Persibas, PSCS dan Persibangga, bisa ditambah Persip Pekalongan dan Persis Solo,” tambahnya.

Terkait pelaksanaan kompetisi, Martoyo mengungkapkan, baru bisa dilaksanakan setelah lebaran. Pasalnya, apabila memaksakan dilakukan bulan ini atau bulan depan, akan sangat mepet untuk persiapan. Selain itu juga bertepatan dengan bulan puasa.

“Kompetisi kemungkinan akan dilaksanakan setelah lebaran, karena persiapannya sangat mepet kalau sebelum lebaran,” ujarnya.

Adanya usulan diadakannya kompetisi pengganti Divisi Utama, merupakan dampak dari pembekuan PSSI oleh Menpora yang berujung penghentian kompetisi oleh PSSI dan PT Liga Indonesia. Agar para pemain tidak mengganggur, maka PT LI mengusulkan untuk mengadakan kompetisi bertajuk Divisi Utama Cup 2015.

Sementara itu, Direktur Pemasaran PT Persibas Banyumas Dimas Gustaman menyayangkan sikap manajer Persibas yang belum membicarakan masalah pembubaran tim Persibas secara internal namun sudah diungkapkan kepada masyarakat. “Harusnya jangan bersuara dulu, sebelum hal ini dibahas secara internal dengan pemain,” katanya.

Setiap informasi yang dipublikasikan, menurut Dimas, harus sudah valid atas hasil dari kesepakatan seluruh manajemen. “Bagaimanapun jajaran tim Persibas Banyumas seharusnya terlebih dahulu sudah diberikan informasi tersebut,” ujar dia.

Hal tersebut dikatakan Dimas akan sangat menyakitkan bagi pemain, karena mengetahui pemutusan kontrak justru dari media massa. “Harusnya manajer terlebih dahulu menyampaikan kepada pemain, karena pemain akan sakit hati karena tahu berita itu bukan dari manajer tapi dari media,” ujarnya.

Terpisah, pelatih Persibas Putut Wijanarko mengaku akan menghormati keputusan manajemen asal semua haknya dilunasi. Termasuk gaji bulan April yang baru diterima 50 persen dari total gaji bulanannya.

“Saya siap kalau memang harus finish. Yang saya pertanyakan hanya hak saya yang belum dilunasi manajemen,” tuturnya.
Putut juga berharap masih bisa melatih Persibas untuk kompetisi Divisi Utama.

Pasalnya kedekatannya dengan para pemain juga menjadi salah satu faktor kenapa Putut ingin bertahan.

Putut juga mengatakan siap untuk bertemu dengan manajemen Persibas untuk membahas mengenai kejelasan masa depannya bersama para pemain.

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!