PGRI Purbalingga Menilai Kebiasaan Membaca Guru Masih Rendah

By: On: Dibaca: dibaca 37.03Rbx
PGRI Purbalingga Menilai Kebiasaan Membaca Guru Masih Rendah

  • Dorong Hasilkan Sagu Sabu

Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Purbalingga menilai kebiasaan membaca para guru di Purbalingga masih sangat rendah. Masalah kebiasaan membaca harus mendapat perhatian serius

Hal itu diungkapkan Ketua PGRI Purbalingga, Sarjono saat temu muka Pengurus PGRI dengan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Purbalingga, Kamis (16 November 2017) di Aula PGRI Purbalingga. Dikatakan Sarjono, membiasakan minat baca guru belum begitu banyak perhatian. Padahal kebiasaan membaca bisa dipaksakan dengan membuat jadwal waktu khusus untuk membaca.

“Bukan sekedar membaca saja. Tapi harus dilandasi maksud dan tujuan untuk memperoleh informasi, menambah pengetahuan. Muaranya, setelah guru terbiasa membaca maka nantinya dapat menulis dan melahirkan bacaan-bacaan yang bermutu,”ungkap Sarjono.

Sarjono menambahkan, PGRI Purbalingga terus mendorong para guru memiliki kebiasaan membaca dan menulis. Kedepan, harapannya Satu Guru Satu Buku (Sagu Sabu) di tahun 2018. Namun, tulisannya juga harus berbobot sehingga diminati dan dibutuhkan masyarakat.

“Saya berharap sagu sabu, dan menjadikan kebiasaan para guru membaca dan menulis merupakan bagian dari hidup dan buku sebagai kebutuhan pokok,”ungkap Sarjono.

Sarjono mengakui, Belum semua guru mau berkarya. Apalagi, di sisi lain, masih banyak dijumpai kasus plagiaris penulisan di dunia pendidikan. Untuk itu, PGRI Purbalingga terus berupaya mendorong para guru untuk mau membagikan pengalaman dan wawasannya lewat karya tulis, yakni buku.

“Buku adalah warisan terbaik bagi kemajuan peradaban bangsa.Kami berupaya memfasilitasi hingga karya para guru bisa terpublikasi,” jelas Sarjono yang akan meluncurkan dua buku perdananya di bulan Mei 2018.

Untuk meningkatkan kemampuan menulis lanjut Sarjono, PGRI Purbalingga terus menggelar kegiatan pelatihan penulisan. Tahun 2015 pelatihan diikuti oleh 250 guru, dan tahun 2016 diikuti 150 guru.

“65 Guru di Purbalingga sudah bisa melahirkan buku. Setiap guru bisa lebih dari satu judul buku, dan buku itu sudah bisa dijual bebas dipasaran,”ungkap Sarjono.

Ketua PWI Purbalingga, Joko Santoso menilai, para guru dapat belajar menulis dan dikirim ke beberapa media massa. Langkah awal yang harus dilakukan ketika kita akan menulis artikel adalah menentukan tema yang aktual dan menarik. Pengertian dari adalah tema yang sedang, atau akan menjadi perhatian utama pembaca media massa.

“Redaksi selalu membutuhkan informasi terkini dan terpercaya untuk disuguhkan kepada pembacanya. Pilih topik yang sedang menjadi perhatian dan ramai dibicarakan masyarakat. Para guru boleh menulis seputar dunia pendidikan atau bahkan berani menulis keluar dari dunia yang digeluti setiap hari,”ungkapnya.

PWI Purbalingga lanjut Joko Santoso, akan mendukung program PGRI Purbalingga dengan berpartisipasi aktif berbagi ilmu tentang keterampilan menulis, menuangkan gagasan menjadi sebuah tulisan, menyusun kalimat-kalimat, sesuai ejaan dan tata bahasa Indonesia yang baik dan benar untuk mudah dipahami maksud penulis.

“Biasanya ini merupakan ketrampilan yang sulit bagi kebanyakan orang. Ada berbagai hambatan yang muncul saat akan menuliskan gagasan. Hambatan menulis inilah yang harus “dihancurkan” sehingga kemudian menulis pun jadi lancer,’ungkap Joko. (mahendra yudhi krisnha)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!