by

Petani Purbalingga Sulit Dapatkan Pupuk di Musim Tanam Kedua

-Daerah, Update-dibaca 3.67Rb kali | Dibagikan 9 Kali

Petani di Purbalingga kesulitan mendapat pupuk bersubsidi di Kios Pupuk Lengkap (KPL) yang telah ditentukan Pemerintah Kabupaten Purbalingga. Padahal bulan April hingga September 2020 sudah memasuki musim tanam kedua

“Kelangkaan pupuk disebabkan oleh alokasi pupuk subsidi terutama pupuk urea tahun ini menurun dibandingkan tahun lalu. Alokasi tahun ini hanya 10 ribu ton pupuk, sedangkan tahun lalu 11.880 ton pupuk,” kata Kepala Dinas Pertanian (Dinpertan) Purbalingga, Mukodam, Senin (31 Agustus 2020).

Ia mengakui, sistem distribusi pupuk bersubsidi menggunakan sistem tertutup, alokasi dan harga eceran tertingginya ditentukan oleh pemerintah pusat. Alokasi kebutuhan pupuk kabupaten/kota mempertimbangkan luas lahan dan usulan melalui Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (RDKK) yang disusun dan diusulkan oleh kelompok tani.

Selanjutnya, diinput secara komputerisasi oleh petugas di Balai Penyuluh Pertanian (BPP) kecamatan menjadi Elektronik RDKK (E-RDKK).

“RDKK ini disesuaikan dengan anjuran dosis pemupukan, tetapi realisasinya alokasi selalu di bawah usulan,” ujarnya.

Menurutnya, kebutuhan pupuk saat ini meningkat tajam karena sejak awal tahun sudah masuk musim penghujan dan air yang tersedia cukup melimpah. Kemudian petani mengolah tanah dan sistem tanam bersamaan sehingga kebutuhan dan waktu pemupukannya dilakukan dalam waktu bersamaan.

“Kecenderungan petani menggunakan pupuk melebihi dosis yang dianjurkan dan ini menjadi salah satu penyebab kekurangan pupuk terutama urea,” jelas Mukodam.

Mukodam menjelaskan, langkah yang telah ditempuh untuk mengatasi kelangkaan pupuk meliputi realokasi pupuk antar kecamatan. Dengan cara menggeser alokasi yang relatif aman ke kecamatan yang kekurangan secara proporsional.

“Kami juga mengusulkan tambahan alokasi pupuk bersubsidi kepada pemerintah pusat melalui Gubernur, khusus untuk pupuk urea diusulkan tambahan alokasi 3.265 ton,” jelasnya.

Mukodam meminta para petani agar menggunakan pupuk secara hemat sesuai anjuran dosis pemupukan. Menggalakkan penggunaan pupuk organik lokal dengan memanfaatkan kompos dan jerami yang telah busuk atau kotoran ternak yang ada.

“Pada pemupukan kedua menggunakan pupuk NPK (Nitrogen Phospor dan Kalium) untuk memenuhi kebutuhan nitrogen tanaman, tidak harus dengan urea karena kelangkaan pupuk saat ini terjadi khususnya urea,” katanya.

 

 

 

Comment

Berita Lainnya