Pertamina Tak Terus Terang Penyebab Lain Tumpahan Minyak di Teluk Penyu

By: On: Dibaca: dibaca 91.89Rbx
 Pertamina Tak Terus Terang Penyebab Lain Tumpahan Minyak di Teluk Penyu

Adjar Mugiono

 

Kepala Badan Lingkungan Hidup (BLH) Kabupaten Cilacap Adjar Mugiono mengatakan, Pertamina tidak terus terang mengakui ada sumber lain selain pipa single point mooring (SPM) sebagai penyebab tumpahan minyak di pantai Teluk Penyu.

 

Lontaran Adjar ini didasarkan dari undangan pihak Pertamina kepada BLH pada Sabtu (30/5) yang memintanya datang ke kantor Pertamina RU IV Cilacap di Jalan MT Haryono Cilacap.

 

“Pada Sabtu (30/5), tim dari BLH dan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang datang ke Cilacap diundang Pertamina dan di sana diberi penjelasan, dan Pertamina mengatakan ada dua sumber (penyebab tumpahan minyak) serta hal itu sudah dicek ke lapangan,” katanya kepada lintas24.com, Senin (1/6) sore.

 

Selanjutnya Adjar menjelaskan, pada Rabu (20/5), sumber kebocoran berasal dari pipa SPM. Kemudian setelah dilakukan pemantauan ke SPM, dengan saran dari BLH, yakni menggunakan oil spill boom berupa penyedotan minyak mentah (crude oil), pada Kamis (21/5) dinyatakan clear.

 

Kemudian pada Jumat (22/5), ternyata crude oil itu menyebar di perairan Nusakambangan. Namun demikian, pada Kamis (21/5) terjadi tumpahan minyak yang cukup besar di wilayah pantai Teluk Penyu, dan disinyalir sumbernya bukan dari SPM tapi dari kapal yang terdampar, namanya Petrol.

 

“Lantas kepada tim dari BLH dan Dinas Perikanan dan Kelautan (DKP), Pertamina sudah mengakui bahwa sumber kebocoran ada dua, yakni dari SPM dan kapal yang kandas,” ucapnya, sembari menuturkan bahwa untuk di pipa SPM yang bocor sebanyak 11.500 barrel, sedangkan dari kapal belum bisa dihitung karena cukup besar.

 

“Dan kalau tidak segera ditangani akan merusak lingkungan pantai dan biota laut,” tandas Adjar kemudian.

 

Disinggung pertanggungjawaban setelah faktanya ada dua sumber penyebab terjadinya kebocoran, BLH menekankan jika dari awal Pertamina mengatakan bahwa ada dua sumber (penyebab tumpahan minyak), maka akan mudah. “Tapi karena sekarang sudah bercampur-baur, susah untuk menghitung mana yang dari Pertamina dan mana yang dari pemilik kapal, dan BLH berharap keduanya bertanggung jawab,” sambung dia, menggarisbawahi pernyataannya bahwa Pertamina harus bertanggung jawab, sekarang dua-duanya.

 

Terkait langkah yang sudah diambil BLH, Adjar menyebutkan sudah ada tim masalah pencemaran turun, kemudian dari tim investigasi turun untuk menghitung berapa kerugian yang dialami masyarakat nelayan, dan dalam minggu ini akan turun dari tim pemulihan.

 

Ditanya apakah Pertamina punya motif tersembunyi di balik ketidakterusterangannya, BLH menandaskan bahwa tidak mengatakan Pertamina mempunyai motif apapun di balik itu, dan tidak mengatakan bohong, tapi memang (Pertamina) tidak terus terang mengatakan kalau ada dua sumber (penyebab tumpahan minyak).

 

Namun, BLH menyayangkannya karena pada hari Senin (25/5), dan sebelum hari Senin sudah dinyatakan clear untuk SPM karena sudah loading kembali. “Kokternyata saat itu ada minyak mentah yang terapung cukup banyak sehingga hampir menjadi laut hitam,” imbuh Adjar.

 

Untuk itu, BLH berharap jika terjadi lagi, ke depan sebaiknya segera ditangani dan terbukalah dengan BLH karena BLH pada prinsipnya adalah mitra untuk mencegah terjadinya pencemaran.

 

“Namun karena BLH terbatas dalam hal sarana dan prasarana. Seandainya BLH punya sarana dan prasarana yang memadai, kami akan cepat mengambil langkah,” ujarnya.

 

Dalam waktu dekat, kata Adjar, pihaknya akan punya tim sendiri yang terdiri dari BLH, HNSI, DKP, dan Pertamina, sehingga jika hal itu terjadi ada penanganan yang cepat.

 

Pamungkas, Adjar kembali menekankan bahwa apa yang terjadi bukanlah sebuah kasus, namun sesuatu hal yang sudah terjadi, dan ini merupakan yang terbesar setelah insiden terdamparnya kapal King Fisher beberapa waktu lalu.

 

“Dan dalam tiga bulan terakhir memang sering bocor. Kalau sering bocor yang kecil-kecil mudah ditangani, tapi kalau yang kali ini memang susah. Mungkin sama Pertamina dianggapnya seperti biasa, dan hal yang seperti biasa itulah menurut BLH kurang baik untuk lingkungan, khususnya yang tercemar,” tutupnya. (estanto)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!