Pertamina Bersih-bersih, HNSI Tuntut Ganti Rugi Rp 40,7 Miliar

By: On: Dibaca: dibaca 120.37Rbx
Pertamina Bersih-bersih, HNSI Tuntut Ganti Rugi Rp 40,7 Miliar

 Coastal clean up2

Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap, Jawa Tengah, memastikan wilayah perairan selatan Cilacap, khususnya Pantai Teluk Penyu telah bersih dari tumpahan minyak.

Sebagai wujud kepedulian terhadap lingkungan, Pertamina bersama masyarakat menggelar kegiatan Coastal Clean Up (membersihkan pesisir pantai) di Pantai Teluk Penyu, Cilacap, Jumat (29/5).

“Kegiatan ini sebenarnya adalah tanggung jawab moral kami karena kemarin sempat ada ceceran minyak sedikit. Walaupun sebenarnya sudah bersih dan sudahclean dalam waktu dua hari,” kata General Manager Pertamina RU IV Cilacap Nyoman Sukadana di sela-sela kegiatan.

Menurut dia, upaya membersihkan Pantai Teluk Penyu dari tumpahan minyak itu melibatkan sekitar 300-400 pegawai dan mitra kerja Pertamina dan dibantu sekitar 300 nelayan serta personel TNI/Polri.

Dengan demikian, kata dia, Pantai Teluk Penyu dapat dibersihkan dari tumpahan minyak dalam waktu dua hari dan kondisinya kembali normal.

“Kemarin, kami bertemu dengan teman-teman, bagaimana kalau kita sekalian bersih-bersih pantai saja sebagai wujud tanggung jawab moral kita,” tegasnya.

Dia berharap, kegiatan coastal clean up dapat dilakukan secara rutin sehingga bisa memberikan dampak yang sangat baik terhadap Pantai Teluk Penyu.

 

Disinggung mengenai kemungkinan kegiatan tersebut juga dilakukan di pantai selatan Nusakambangan, Nyoman mengatakan bahwa untuk saat ini belum direncanakan.

Namun, dia mengatakan bahwa pihaknya akan tetap memantau kegiatan pembersihan pantai selatan Pulau Nusakambangan dari tumpahan minyak.

 

“Kami tetap melakukan patroli untuk penyisiran pantai. Kami masih dalam status Siaga I sampai benar-benar kami yakini bersih. Mungkin hingga sepekan ini kami akan terus melakukan patroli di pinggir pantai,” katanya.

 

Ceceran minyak yang mencemari Teluk Penyu berasal dari kebocoran pipa bawah laut fasilitas bongkar muat single point mooring (SPM) Pertamina RU IV Cilacap, sekitar 25 kilometer (16 mil) sebelah selatan Cilacap atau sekitar perairan selatan Pulau Nusakambangan. Sambungan pipa karet (rubber hose) yang digunakan untuk menyalurkan minyak mentah dari kapal tanker menuju kilang rusak akibat diterjang gelombang tinggi.

 

Kerusakan tersebut terjadi 20 Mei 2015 pukul 22.54, dan pada saat yang sama sedang dilakukan aktivitas bongkar muat minyak mentah dari sebuah kapal tanker. Akibatnya, minyak mentah yang disalurkan melalui pipa karet bawah laut itu merembes keluar dari sambungan sehingga tercecer di perairan selatan Nusakambangan.

Pertamina RU IV Cilacap segera menerjunkan tim penyelam untuk memperbaiki sambungan pipa karet dan dapat segera ditangani. Akan tetapi, Senin (25/5), minyak yang keluar dari pipa bocor itu terbawa arus hingga mengotori perairan Pantai Teluk Penyu. Pantai tersebut tampak menghitam akibat digenangi minyak mentah.

 

Sementara itu, Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Kabupaten Cilacap tetap meminta ganti rugi sebesar Rp 40,7 miliar kepada PT Pertamina RU IV CIlacap akibat kebocoran minyak.

 

HNSI menilai, akibat kejadian itu, nelayan sangat dirugikan. Menurut Pelaksana Tugas (Plt) Ketua HNSI Cilacap Indon Tjahjono, tuntutan ganti rugi tersebut merupakan hasil dari pertemuan HNSI dengan sejumlah pihak, termasuk dengan para ketua kelompok nelayan.

 

Dia menyebutkan, ceceran minyak milik Pertamina itu, selain membuat nelayan tidak bisa melaut, juga merusak jaring dan juga mengotori perahu nelayan. Ganti rugi diajukan karena 13.900 nelayan tidak melaut. Selain itu, kompensasi tersebut untuk mengganti kerusakan jaring dan kapal serta perahu yang kotor.

 

Indon menilai, nelayan tidak bisa melaut selama 15 hari. “Kami sudah puluhan tahun jadi nelayan. Kalau minyak tumpah seperti ini, walaupun sudah kelihatan bersih, ekosistemnya belum benar-benar pulih. Ikan-ikan masih menjauh,” ujarnya.

 

Selain itu, kompensasi juga untuk mengganti 21.200 jaring nelayan yang rusak dan ongkos membersihkan kapal dari minyak untuk ribuan kapal duduk, compreng, dan jukung.

 

Tuntutan ganti rugi ini ditujukan kepada PT Pertamina RU IV Cilacap. Tembusan surat tuntutan ganti rugi tersebut sudah dikirim ke sejumlah pihak, termasuk ke Presiden RI, beberapa komisi di DPR, Pertamina Pusat, dan pemerintah kabupaten setempat.

 

Pihaknya berharap tuntutan ganti rugi itu dipenuhi karena akibat tumpahan minyak ini, nelayan sangat dirugikan. (estanto)

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!