by

Perang Stroberi dan Tomat FSG Meriah

-Wisata-dibaca 135.70Rb kali | Dibagikan 52 Kali

DSC_0129

Perang stoberi dan tomat dalam gelaran Festival Gunung Slamet di Rest Area Lembah Asri Desa Serang, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, Jumat (5/6) berlangsung meriah. Puluhan warga dari Desa Serang, Kutabawa dan Siwarak dan sekitarnya antusias mengikutinya dengan ceria.

Sembari basah-basahan, mereka berjibaku di kolam sembari saling lempar stroberi dan tomat dari genggaman mereka. Tiga kuintal buah ludes dalam perang itu.

“Saya dan teman-temannya sangat antusias. Itung-itung melestarikan tradisi kita, walau sudah dimodifikasi,” kata Lulu Listianingsih, salah satu pegawai Puskesmas Karangreja ini.

Ketua Karangtaruna Desa Serang, Baharudin Heri Susanto  menjelaskan, perang buah tersebut merupakan modifikasi dari perang cambuk yang dahulu pernah menjadi tradisi di desa setempat.

Menurut cerita sesepuh desa, dulu di Dukuh Kaliurip dan Dukuh Gunungmalang ada tradisi perang cambuk hanya sebatas untuk menunjukkan kedigdayaan. Namun demikian, antardukuh itu tidak pernah terjadi konflik alias hidup rukun.

“Nah dalam FGS kali ini, kami ingin melestarikan tradisi itu. Namun kami memodifikasinya tidak lagi menggunakan cambuk untuk menghindari tarjadinya luka antarwarga yang mengikutinya,” katanya.

Dari rapat warga dari tiga desa masing-masing Serang, Kutabawa dan Siwarak peserta FGS, disepakati cambuk itu diganti menggunakan stroberi dan tomat. Namun demikian, buah yang digunakan bukanlah buah yang masih layak konsumsi, tetapi buah yang sudah afkir atau tidak diterima di pasar.

“Jadi bukan buah yang masih segar yang baru dipetik dari kebun. Kalau yang baru petik ya mending dijual, tidak untuk dibuang-buang. Buah itu merupakan ikon dari ketiga desa tersebut. Dengan perang buah akan menjadi promosi tiga desa itu sebagai sentra buah dan sayur,” katanya.

DSC_0174
Selain perang buah, kemarin juga ditampilkan pertunjukkan ebeg. Selain itu ada pembagian sedekah berupa sembako dari sponsor 92 cigarete kepada 200 warga dari ketiga desa itu. Paginya digelar penanaman turus gunung berupa 1.500 bibit pohon aren dari Wakil Bupati Purbalingga Tasdi.

“Festival ini merupakan salah satu kemasan budaya yang harus terus dilakukan setiap tahun. Festival ini harus menjadi ikon Purbalingga dan mendapat dukungan dari semua pihak,” kata Tasdi.

 

Comment

Berita Lainnya