Perang Buah Stroberi dan Tomat Meriahkan Festival Gunung Slamet

By: On: Dibaca: dibaca 137.36Rbx
Perang Buah Stroberi dan Tomat Meriahkan Festival Gunung Slamet

FGS 4 – 6 Juni 2015

237143_620

PURBALINGGA – Agenda perang buah stroberi, tomat dan sayuran hasil budidaya petani tiga desa di kaki Gunung Slamet akan ikut memeriahkan Festival Gunung Slamet (FGS) I. Festival yang baru pertama kali digelar ini akan mulai berlangsung Kamis hingga Sabtu (4 – 6 Juni 2015) besok. Perang buah merupakan ajang memamerkan produki buah stroberi, tomat dan sayuran dari petani Desa Serang, Kutabawa dan Siwarak, seluruhnya di Kecamatan Karangreja.

Ketua Panitia FGS Tridaya Kartika mengatakan, agenda perang buah akan dilaksakanan pada Jum’at (5/6) siang pukul 14.00 – 16.00 WIB di rest area Lembah Asri Desa Serang. Perhetalatan FGS sendiri akan dimulai pada Kamis (4/6) pagi sekitar pukul 07.00 WIB di sumber mata air Tuk Sikopyah di Dusun Kaliurip Desa Serang. Mata air Tuk Sikopyah merupakan sumber mata air besar yang menghidupi ribuan warga masyarakat Purbalingga dan sebagian Pemalang. “Setelah prosesi pengambilan air, kemudian dilakukan kirab sejauh dua kilometer menuju Balai Desa Serang. Air ini kemudian disemayangkan dib alai desa setempat,” kata Tri Daya Kartika.

Pada hari yang sama, pada pukul 13.00 hingga 16.00 WIB digelar pentas budaya lokal di rest area Lembah Asri.

Agenda selanjutnya, lanjut Tri Daya Kartika, pada Jum’at pagi (5/6) pukul 09.00 – 11 WIB digelar penanaman turus gunung jalur Tuk Sikopyah, pentas seni budaya lokal dan pasar rakyat di rest area Lembah Asri. “Pada siang harinya digelar perang buah stroberi, tomat, sayuran di Lembah Asri. Agenda perang buah menarik karena mirip di Italia,” kata Tridaya.

Agenda pada hari ketiga, Sabtu (6/6), mulai pukul 07.30 digelar kirab budaya dan hasil bumi. Pada saat bersamaan juga dikirab air Sikopyah yang sebelumnya disemayangkan di balai desa setempat. Kirab mulai dari lapangan SMPN 2 Karangreja di Desa Kutabawa menuju rest area Lembah Asri. Pada pukul 09.30 – 10.30 juga digelar prosesi wayang ruwat. Hingga sore hari kemudian digelar pentas seni budaya lokal. “Pada malam harinya, mulai pukul 19.00 hingg 24.00 WIB digelar pentas seni kontemporer dan pertunjukkan dengan menampilkan lighting spektakular, sekaligus penutupan rangkaian festival,” kata Tridaya Kartika.

Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Dinbudparpora) Purbalingga, Drs Subeno, SE, M.Si mengungkapkan, Festival Gunung Slamet yang pertama kali digelar ini akan menjadi agenda rutin  tahunan Pemkab Purbalingga. Festival ini diharapkan bisa memacu kunjungan wisatawan ke Purbalingga. Hal ini terlihat juga dengan banyaknya homestay di wilayah Desa Serang yang sudah dipesan oleh wisatawan. “FGS ini diharapkan juga sebagai kampanye bahwa meski status Gunung Slamet saat ini masih Waspada, namun aktivitas wisata di Purbalingga tetap aman,” kata Subeno.

 

No Responses

Leave a Reply

error: Content is protected !!