Menu
Media Online Terpercaya

Penyandang Thalassemia Purbalingga Gelar Thaler Camp 2020

  • Share

Sampai saat ini, penyakit thalassemia belum ada obatnya. Satu-satunya cara mencegah dan menekan jumlah penderita thalasemia adalah dengan menghindarkan sesama pembawa thalasemia minor menikah.

Staf Ahli dari Dinas Kesehatan Kabupaten Purbalingga untuk Perhimpunan Orangtua Penyandang Thalassemia Indonesia (POPTI) Purbalingga, dr. Ardian Budikusuma, Sp.A, M.Kes menuturkan, thalassemia merupakan penyakit kelainan darah yang diakibatkan oleh faktor genetika dan menyebabkan protein yang ada di dalam sel darah merah (hemoglobin) tidak berfungsi secara normal. Kelainan bawaan pada sel darah ini menyebabkan sel darah merah mudah hancur. Permasalahan ini dapat ditanggulangi dengan melakukan tranfusi darah.

“Untuk memutus mata rantai thalassemia ini yang bisa dilakukan adalah cek darah sebelum menikah, dokter sangat menganjurkan agar sesama pembawa sifat thalassemia tidak menikah, karena kemungkinan besar akan menghasilkan anak dengan thalassemia mayor. Tetapi tentu saja pada akhirnya diserahkan kepada yang bersangkutan,” ungkapnya usai membuka Perkemahan Penyandang Thalassaemia (Thaler Camp) Popti Purbalingga, di Desa Wisata Serang Kecamatan Karangreja Kabupaten Purbalingga, Sabtu (15 Februari 2020).

Ia menambahkan, sikap dan perlakuan keluarga yang salah akan memberikan dampak yang serius terhadap penyandang thalassemia (thaler).

“Untuk itu, keluarga haruslah memberikan tindakan positif terhadap thaler yang memungkinkan penderita akan termotivasi dan bersemangat,” tuturnya

Ketua Umum POPTI Purbalingga, Akhmad Khamid Supriyono menuturkan, para thaler perlu bimbingan untuk mengembangkan potensi dirinya, agar mereka memiliki kepercayaan diri yang tebal, mampu mandiri, berkarya dan berprestasi. Salah satu potensi  thaler yang dapat dikembangkan adalah kecerdasan bersosialisasi.

“Salah satu upaya yang dapat ditempuh adalah dengan mengeksplorasi kecerdasan melalui kegiatan bersama. Walaupun, para thaler di lingkungan masing-masing tentu sudah memiliki kegiatan secara pribadi maupun secara kelompok,” tuturnya.

Ketua Panitia, Toto Endargo, S.IP menambahkan, kegiatan ini melibatkan 57 anak penyandang Thalassaemia usia remaja dan 23 orang Relawan Pendamping. Tujuan kegiatan adalah meningkatkan kemandirian para thaler dalam kegiatan sehari-hari, memberikan kegiatan untuk dapat menambah kepercayaan diri para thaler, serta meningkatkan keterampilan bekerjasama dan bersosialisasi antar thaler.

“Thaler Camp ini pertama diselenggarakan. Kegiatan ini berbentuk teori dan praktek, dengan materi mengenai ke-thalassaemia-an dan kegiatan rekreatif. Harapannya, setelah mengikuti kegiatan ini mereka ada peningkatan dalam hal kepercayaan diri, kemandirian, mampu berkarya dan lebih berprestasi,” tuturnya

Dalam  Thaler Camp ini imbuh Toto Endargo, banyak presentasi, diantaranya tentang penyebab thalassaemia dan dua jenis Thalassaemia. Presentasi obat pengikat (Kelasi) besi, manfaat dan risiko jika tidak mengkonsumsi dan presentasi tentang risiko perkawinan antar thaler dan cara pencegahan.

“Di kegiatan ini diperkenalkan olahraga Thalelong. Ini sebenarnya kependekan dari tiga kata yaitu: Thalassaemia, Lempar dan Kolong. Thalelong diharapkan dapat dikembangkan di Kabupaten Purbalingga dan berkembang di berbagai penjuru tanah air. Karena, Thalelong merupakan satu kreatifitas warga Purbalingga,” ungkap pencipta permainan ini.

 

  • Share

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *